Sudah baca novel Sepatu Dahlan? novel yang bercerita banyak tentang cita-cita seorang anak desa yang sangat berambisi untuk mempunyai sepatu (dan sepeda). Setting lokasinya di Magetan dan sekitarnya, dekat-dekat lah dengan kampungku, Ngawi. Dan kalau kau ingin tahu apa benar cerita macam itu benar adanya? Maka percayalah, jangankan jamannya Pak Dahlan sekolah SD, ketika aku masih sekolah MI pun, masih ada teman-temanku yang bersekolah nyeker, tak bersepatu. Bukan karena mode, tapi lebih karena sepatu tak bisa dimakan, uang hasil kerja serabutan orangtuanya lebih nikmat dibelikan nasi, daripada sepatu.
***
Pada zaman dahulu kala, lelaki bersepatu masa kecil hidup di zaman itu.
“Mbok..mbok’e.. kalo misal aku dibeliin sepatu aku pasti seneng lho Mbok.., Masboi dibelikan sepatu bapaknya mbok, uanyar nyarr! Suangar mbok”, Sitole mengadu pada simboknya yang sedang cetik geni di pawon.
“Oalah le..le.. Sudah jangan macam-macam, cepetan berangkat sekolah biar ndak telat”
“Nggih Nggih Mbok.., nanti pulang sekolah aku mau derep di sawahnya pak lurah ya mbok?”
“Iya.. suka membantu orang tua gitu lak yo pinter”
“Nanti duitnya aku belikan sepatu”
“Iyo le..”
Sitole pun bersekolah, bertemu Masboi dengan sepatu barunya. Sepatu hasil rengekan semalam pada bapaknya. Sebenarnya Masboi bukan murid berbaju klimis dan bersepatu rapi dan sangat terlihat berkilau di antara teman-teman sekampungnya, sama saja. Masboi, Sitole, dan anak-anak di kelasnya berkulit sawo matang yang dijemur seharian, berambut kusam bau matahari sawah, memakai tas kresek untuk wadah buku sekolah, dan bermata polos berbinar-binar khas anak-anak. Bedanya, Masboi pakai sepatu kain sol karet coklat tak bermerek dan tak mengkilat, yang lainnya nyeker, ada beberapa yang pakai sandal Meli. Sepatu kesayangan Masboi pun kadang harus bersembunyi di dalam tas saja ketika musim hujan, sayang kalau basah dan tercelup lumpur, jalan desa pasti berlumpur disiram hujan. Meski nyeker begitu, mereka tetap ceria, apalagi di musim panen padi, keceriaan adalah milik seluruh desa!
Ramai-ramai Sitole dan sahabatnya, Masboi, dan anak-anak lain seusianya berangkat ke sawah, derep istilahnya, membantu kuli-kuli memanen padi, upahnya adalah gabah seberat alakadarnya, yang jika dikumpulkan dari enam kali sesi derep baru memenuhi satu karung gabah. Sebelum musim panen pun mereka ikut matun, yaitu mencabut rumput di sekitar padi. Kulit gosong terbakar radiasi matahari, rambut mereka merah-merah kena terik. Rambut Masboi paling parah, tak hanya terbakar matahari, pun terbakar api teplok ketika terkantuk-kantuk mengeja buku pelajarannya kala ia belajar hingga larut malam. Ratusan tahun sejak Alfa Edison menemukan bola lampu, tetap tak ada listrik yang mengkerlipi rumah-rumah kayu mereka. Continue reading






