Posts Tagged plant-made pharmaceuticals
Plant-made Pharmaceuticals
Sebenarnya aku telah lama ingin menulis tentang hal ini, berdasarkan latar belakang mata kuliah farmakognosi yang kadang (baca: sering) menjenuhkan (ups!), namun setiap kali mau menulis, imajinasiku liar kemana-mana. Benakku dipenuhi dengan ladang-ladang tanaman yang termodifikasi secara genetik (genetically modified plants), lantas mengingat juga perkembangan modifikasi genetik dipagari oleh batas-batas etika, lalu rumah kaca dengan modern farmers di dalamnya, kompleks industri berisi ladang, laboratorium dan pabrik; ladang-ladang berisi tanaman yang telah dimodifikasi untuk menghasilkan protein tertentu misalnya insulin, kemudian diekstrak sedemikian rupa sehingga diperoleh insulin dalam volume yang lebih besar dibandingkan volume insulin dari koloni koloni kultur bakteri, secara kultur insulinnya seluas ladang, yang didukung dengan potensi rentang waktu pertanian sepanjang tahun (tuh, bisa ngalahin Eropah ni!). Dan karena protein drugs ini berharga kira-kira $ 50.000 per gram (kalo 1 dolar sepuluh ribu rupiah, berarti sama dengan 500 juta per gram! Coba bandingkan dengan harga jamu? Haha, langit dan bumi), maka kekayaan pun melimpah! And modern farmers in Indonesia would live in wealth. Hehe, imajinasi. [Oalah fa..fa..Such a truly dreamer..]
Plant-Made Pharmaceuticals adalah teknologi dimana dunia tak mengizinkan lagi sebuah tanaman hanya diproses menjadi jamu. Pun konsekuensinya highly expensive fasilitas dan metode yang tak terbantahkan, yang artinya secara hitungan sederhana-tanpa keajaiban, teknologi ini hanya akan menjadi proyek-proyek kecil dan mungkin saking mahalnya, sangat sulit terimplementasi secara besar sebagai peningkat taraf hidup—sumbangsih ilmu pengetahuan, terhadap peradaban masyarakat Indonesia. [Halah..ngomong apa sih fa!,*ya intinya relatif mahal lah untuk Indonesia saat ini]
Btw, out of topic nih, aku pernah merasa agak ilfil pas melihat salah satu gambar kaos di Kokesma, gambarnya gajah ganesha—yang sok imut itu, sedang mengilustrasikan jurusan-jurusan yang ada di ITB kan..,Teknik Perminyakan diilustrasikan dengan si ganesha yang lagi mendorong gerobak berisi jerigen, jualan minyak! hehe; jurusan Teknik Sipil disimbolkan dengan si ganesha pake helm bangunan dan bawa palu, kuli bangunan!; nah giliran jurusan Farmasi gambarnya apa coba? Si ndut ganesha itu lagi gendong jamu! persis mbok bakul jamu, haha, gubrak!.. wis..jan..benar-benar.. pelanggaran HAP (Hak Asasi Pharmacist), yaelah.. emang gw tukang bakul jamu ya. Haha. Ya sudah lah ga papah, asal tukang jamu profesional, hehe. Seperti para tukang ‘jamu’ plant-made pharmaceuticals mungkin. Gitu-gitu kan jamu juga drugs, senyawa penyelamat bumi. [Sudahlah kembali ke jalan yang benar,fah..]
Jadi sebenarnya plant-made pharmaceuticals itu apa fakhria?
Iya, jadi begini, para researcher menempatkan gen pengkode protein—yang berfungsi medis ke dalam suatu tanaman, lantas ia menggunakan tanaman itu sebagai mesin pemroduksi protein tersebut. Protein yang mendasari drugs and vaccines ini dikenal dengan plant-made pharmaceuticals (PMPs). PMPs ini merupakan obat beneran, yang telah disahkan oleh FDA (Food and Drug Administration) Badan POM-nya Amerika. Ini bukan suatu nutraceuticals, yang merupakan komponen pangan fungsional yang dapat meningkatkan kualitas kesehatan, plant-made pharmaceuticals ini tidak dikonsumsi secara langsung dengan memakan mentah-mentah suatu tanaman, namun tanaman hanya digunakan sebagai mesin produksi saja.
Tanaman merupakan pabrik protein yang dapat diandalkan, para researcher ini menyadari bahwa genetika, pertumbuhan, dan perkembangan tanaman relatif sederhana sehingga berpotensi dalam pengembangbiakan genetically modified plant. Tanaman pun menjadi pabrik penghasil protein yang berprospek besar karena hanya membutuhkan modal yang sederhana seperti : cahaya matahari, tanah, air, mineral, dan tentu saja satu set gen yang tepat. Sebaliknya, produksi protein dengan bakteri dan sel mamalia merupakan metode yang sangat mahal dan terbatas pada kapasitas ruangan, lengkap dengan peralatan-peralatannya.
How to make it?
Surprisingly, peralatan yang dibutuhkan tidak terlalu sulit dicari (di Amerika mungkin), [eh tapi menurutku di ITB juga ada kok], sepertinya hampir mirip-mirip peralatan laboratorium genetika-bioteknologi standar seperti ketika memperlakukan bakteri, namun bedanya dibutuhkan ladang juga untuk menumbuhkan genetically modified plant ini.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah (more…)
5 comments January 19, 2009
