Anak-anak di Kampungku

Ngawi, adalah sebuah kota kecil, mungil, pelosok. Terletak di daerah hampir perbatasan antara Jawa Timur dengan Sragen (Jawa Tengah). Di sana ada sebuah desa, desa Gelung, tempat aku tinggal. Di sana tidak ada pelayanan internet semewah ini, komputer saja terbatas, sebagian penduduknya bekerja sebagai petani, mengurus sawah-sawah yang kadang tak bisa diharapkan.

Namun setidaknya ada secercah cahaya di sana, anak-anak yang sedang belajar. Itu adalah sekolahku dulu, sebuah madrasah ibtidaiyah (MI), sekolah Islami yang setingkat dengan SD. Secara fisik, sekolahku ini lebih baik daripada sekolah SD-SD lain di sekitarnya, namun secara birokrasi sekolahku ini kadang sering dicurangi, hanya karena ia berlabel Islami, begitu yang aku dengar. Apapun kecurangan itu, cahaya tetaplah cahaya, kegelapan sepekat apapun tak kan bisa menelannya.

Di sana ada seorang guru, yang juga menjadi guruku dulu, dan menjadi orang yang sangat menginspirasiku. Dari ketulusannya lah yang menginisiasiku untuk bercita-cita ingin menjadi seorang pengajar juga.

Beliau bercerita padaku tentang anak-anak didiknya.

Mereka adalah anak-anak yang polos, “ndeso”, melarat, ingusan, bajunya belepotan, sepatu-sepatunya kusam dan kebesaran, murid laki-laki nya kebanyakan berambut merah dan kusam karena sering bermain di sawah, tidak hanya bermain bahkan, namun juga menjadi pekerja-pekerja di sawah!. Ya, mereka dipekerjakan, dengan upah rata-rata mungkin hanya 10.000 per hari. Kalau dibawa ke kantin bengkok di kampusku, uang sejumlah itu akan ditukar dengan satu porsi nasi ayam kremes dan satu botol air mineral, habis sudah. Tapi setahuku, karena dia masih anak-anak, energinya lebih kecil dari energi orang dewasa, tentu saja upahnya kurang dari itu.

Anak-anak itu menjalani kehidupan dengan sangat sederhana. Kehidupan yang bebas dari cengkeraman kekhawatiran. BBM naik, upah orangtua mereka yang terlampau kecil, lauk pauk yang mereka makan di rumah, atau perang di timur tengah, konspirasi oknum kenegaraan yang jahat, atau masalah politik, mereka tak peduli, mereka benar-benar tak peduli!

Mereka tetap tertawa dan bermain. Mereka sangat suka bermain dan bernyanyi. Ibu guru itu bercerita padaku bahwa dia sering mengajarkan lagu-lagu nasyid ke mereka, apalagi ketika mengajar Sejarah Islam, beliau bercerita tentang kehidupan Nabi Muhammad, dan anak-anak itu pun duduk tenang dengan mata-mata polosnya menatap ibu guru mereka, penuh kesungguhan, mereka pun sering bertanya-tanya dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana, tentang surga, tentang nabi Sulaiman, bahkan tentang semut-semut Nabi sulaiman, apakah semut-semut itu menikah dan berkeluarga atau tidak?. Pertanyaan yang sangat anak-anak.

Mereka makan dalam kesederhanaan, mereka sangat jarang makan berlauk daging atau ikan. Pernah suatu ketika salah seorang anak berkata pada ibu guru itu, “Mpun bu, pokoke lawuh sambel bawang thok niku lho bu.., niku mpun ngentekne sego” (translate= sudah bu, pokoknya hanya dengan lauk sambal bawang saja, itu sudah membuat saya menghabiskan nasi dengan lahap ). Ironis, dengan iklan-iklan di televisi yang mereka lihat, iklan tentang produk multivitamin untuk anak-anak yang menambah nafsu makan, mungkin sesungguhnya mereka heran, makanan di kota kan enak-enak seperti di iklan, kok masih ada yang ga doyan makan. Saya pun pernah mendengar, seorang ayah yang membujuk anaknya agar jangan bandel “ojo nakal lho ya, ngko nek we nakal gak tak tumbasne’tinggal leebb’” (translate= jangan nakal ya, nanti kalau nakal tidak akan bapak belikan ‘tinggal leebb’, sebuah makanan, sosis ayam siap makan yang di iklan di tivi,pemain iklannya berkata “sosis siap makan, tinggal leeebb”). Toh kenyataannya, kata-kata itu hanya menjadi kalimat penghibur saja, si anak suka menangis dan merengek-rengek, kapan dibelikan ‘tinggal leebb’?. baru berminggu-minggu sesudah itu, baru ketika upah seorang ayah itu diberikan, dengan penuh kegirangan beliau pulang ke rumah dengan bangga karena akan membelikan ‘tinggal leebb’ untuk anaknya tercinta.

Ketika anak-anak itu bercanda, topik bercandaanya pun tidak seperti anak-anak kota, yang membicarakan game PS yang terbaru, atau wahana kolam renang yang belum mereka kunjungi. Namun topik bercandanya mereka juga sangat sederhana, tentang apa yang mereka lihat, tentang apa yang mereka rasakan, di sekitar mereka : sawah, sawah, dan sawah. Wahana bermain mereka adalah sawah, mencari jamur di tumpukan jerami yang membusuk, berburu belut, mencuri tebu (dan dikejar-kejar mandor, lalu mereka berlari penuh kemenangan ; dua batang tebu!). Sebagian mereka bermain, meneriaki angin agar menerbangkan layang-layang mereka, sebagian yang lain bekerja; ‘matun’(istilah untuk pekerjaan mencabuti rumput di sekitar padi) dan ‘nggepyok’ (istilah untuk pekerjaan memanen padi; memukul-mukulkan padi pada sebuah alat agar bulirnya terlepas), atau juga ‘ngasak’ (istilah untuk mengais bulir-bulir padi yang tercecer untuk dibawa pulang). Pekerjaan mereka pun disesuaikan dengan ukuran fisik mereka, anak-anak yang masih kelas 3,4,5 biasanya hanya ‘matun’, dan dalam hal ‘nggepyok’ atau ‘ngasak’, peran mereka hanya sebagai asisten orangtuanya atau asisten pekerja yang lain. Anak-anak yang sudah kelas 6, ada yang sudah bisa menjalankan mesin traktor, dan dengan penuh kebanggaaan dia bercerita pada teman-temannya di kelas,namun salah seorang temannya menyangkal ,dan melapor pada ibu guru kesayangannya “bu, Didi niku lho bu.. nek nraktor nabrak-nabrak galengan” (bu, si Didi itu kalo mentraktor, suka menabrak-nabrak pembatas). Hahahahaha, lantas mereka tertawa. Pada pelajaran seni rupa pun, apa yang digambarnya tidak jauh dari apa yang mereka lihat, si Didi selalu menggambar mesin Diesel untuk pengairan sawah.

Kemiskinan demi kemiskinan terasa begitu menyelimuti mereka, namun mereka lebih beruntung karena setidaknya mereka masih bisa bersekolah dengan segala keterbatasannya. Ibu guru pun tak kehabisan ide untuk ‘merawat’ mereka, menggalang dana ‘iuran sosial’ setiap hari senin di kelasnya, dan ketika sudah terkumpul, ibu guru itu menggunakan uang itu untuk membeli berlusin-lusin susu kemasan untuk semua muridnya. Mereka pun kegirangan, dan makin bersemangat menggalang dana untuk ‘iuran sosial’. Uang iuran sosial ini kata ibu guru akan dipakai untuk membeli obat cacing agar anak-anak itu tidak cacingan.

Ibu guru dan murid-murid yang polos itu sangat menghargai dan mencintai sekolah mereka. menikmati pendidikan dalam kesederhanaan. Indonesia.

Terima kasih bu Guru, atas cerita dan segala pelajaran hidup yang telah kau ajarkan. Setiap anak yang kau ajar pasti akan berjanji dalam hatinya bahwa dia akan menjadi anak yang baik, tidak mencontek lagi, tidak suka nonton tivi lagi, dan berjanji bahwa suatu saat dia akan memberikan suatu karya untuk negerinya,negeri yang telah mengajarkan bahwa Tuhan telah menghamparkan daratan ini bukan hanya untuk dipakai berlari-lari mengejar layang-layang saja, bahwa tanah Indonesia ini tidak hanya untuk dilubangi untuk berburu belut yang licin. Lebih dari itu, Tuhan menciptakan kami dan hamparan luas ini, untuk sebuah peradaban.

2 responses to “Anak-anak di Kampungku

  1. ya ampyun ndhuk,,,omah ndeso tenan koyo’an,,,lha trus wingi internetan soko ndi???

    eits,,,ojo nesu sek… pisss ^_^v

    walaupun ndeso, bocahe koyo fafa e…canggih tenan, salah satunya berkat bu guru, bu gurune je’ ono ora??dadi pengen ketemu, trus crita-crita, seru koyoan…

  2. Pingback: Bukan tentang “Wasabi”, tapi tentang “What you wanna be?” « I Love My Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s