Kisah Ibu Guru Lagi

Nb: ini adalah kisah kedua tentang ibu guru masa kecilku, saat aku di Ngawi aku bertemu dengannya lagi. Kisah yang pertama berjudul “Anak-Anak di Kampungku”. Adapun beberapa nama dalam cerita ini bukan nama asli, sengaja disamarkan agar menjauhi ghibah dan menghindari pencemaran nama baik.

Di sebuah kantor Departemen Agama Kabupaten Ngawi,jam satu siang. Siang itu adalah siang yang sangat terik.

“Bu, Pak Broto nya ada?” tanya ibu guru ke seorang ibu pegawai

“Wah, pak Broto nya masih di Madiun, berangkatnya sejak jam setengah dua belas tadi”

Ibu guru pun memutuskan untuk menunggu saja, mencari kursi di kantor itu dan menunggu Pak Broto yang sebelumnya telah membuat janji dengan ibu guru untuk bertemu jam satu siang.

Berawal dari pemberitahuan mendadak lewat telepon kemarin sore, seorang petugas mengatakan bahwa berkas-berkas CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) ibu guru tidak lengkap, padahal hal ini sangat dibutuhkan untuk pembuatan SK (Surat Keputusan) diangkatnya ibu guru menjadi Pegawai Negeri. Pihak yang harus dihubungi untuk pengurusan berkas-berkas tersebut adalah Pak Broto. Ibu guru sebenarnya telah berada di kantor Pak Broto itu sejak tadi pagi, tapi kemudian ‘wira wiri’ kesana kemari untuk memfotokopi dan mencari kelengkapan berkas di sekolah, ibu guru pun datang ke kantor itu lagi jam satu siang.

Menunggu dalam diam sesungguhnya adalah hal yang membosankan, apalagi ditambah tidak adanya kabar Pak Broto akan datang jam berapa. Tadi pagi jam 10-an, Pak Broto mengatakan bahwa hilangnya berkas ini bisa menjadi sangat fatal, bisa-bisa hal itu membuat SK Pegawai Negeri ibu guru tidak turun, beliau bilang tahap ini adalah tahap yang sangat menentukan. Kalau masih bisa diusahakan, maka SK Pegawai Negeri bia diteruskan untuk diproses, namun jika tidak, SK Pegawai Negeri ibu guru hanya tinggal angan-angan saja, artinya beliau harus menjalani harinya sebagai guru GTT (Guru Tidak Tetap /honorer) dengan gaji per bulan 250.000 rupiah saja, sebuah rupiah yang terlampau bersahaja untuk jam kerja mengajar yang tertunaikan.

Namun ada hal yang membuat ibu guru lebih tercengang, jam 10-an itu, Pak Broto mengatakan bahwa, agar bisa diurus dengan tuntas, lebih baik ibu guru memalsukan dokumen tertentu untuk dikirim ke kantor wilayah Jawa Timur. Memalsukan dokumen berarti memalsukan kata-kata, memalsukan nomor surat, memalsukan pernyataan, memalsukan tanda tangan, dll. sungguh perbuatan yang terlalu menjijikkan untuk dilakukan seorang ibu guru. Ibu guru pun bilang “Maaf pak, yaa.. saya ya.. tidak bisa seperti itu”, kata-katanya menyiratkan ketakutan dalam hatinya. Ibu guru pun sebenarnya sangat tidak menduga bahwa Pak Broto akan berbicara seperti itu.

Kemudian Ibu guru menanyakan tentang jenis berkas apa saja yang hilang, dan Pak Broto pun mencoba menelepon Kantor Wilayah Jawa Timur untuk meminta kejelasan, beberapa menit berlalu, telepon di seberang Surabaya sana tak bertuan, setelah di-redial berkali-kali barulah muncul suara. Petugas di seberang berkata dengan keras meskipun telepon tidak di-loudspeaker tapi ibu guru dapat mendengar dengan jelas bahwa petugas itu berkata “oh, iya.. pernyataannya di sini sudah ada, ibu guru di MI itu kan? Yaa,yaa.. ada, tapi berkas-berkasnya sebagai bukti yang tidak ada, jadi dalam data yang lain tidak muncul keterangannya. Sudah..Ndak papa..begini saja, berkasnya langsung dibawa ke sini saja, saya tunggu sampai besok!”. Pernyataan itu sebenarnya agak rumit diterjemahkan dengan bahasa saya, namun kata ibu guru padaku, yang jelas ibu guru tidak perlu memalsukan dokumen lagi, tinggal mengantarkan berkas tersebut ke Surabaya. Plong… Alhamdulillah, masalah pertama selesai.

Masalah kedua, siapakah yang akan mengantarkan ke Surabaya? Dan paling lambat besok harus sudah sampai Surabaya. Sering terdengar dari obrolan teman-teman guru lain bahwa biasanya ada orang tertentu yang ditugaskan untuk mengantarkan berkas ke kantor wilayah di Surabaya, dan untuk satu berkas “ongkos kirim”nya bisa melampaui batas kewajaran. Tak lain tak bukan, itu adalah konspiransi suap menyuap terselubung!!. Dan ternyata benar, Pak Broto pun mengatakan secara tersirat, kalau berkasnya mau diantarkan ya silahkan, dan ini sangat menjanjikan karena ini benar-benar tahap terakhir yang menjamin turunnya SK Pegawai Negeri, tapi jika tidak berkenan ya tidak apa-apa.

Jleg.. Ibu Guru dilanda dilema.

Kira-kira dibutuhkan satu juta rupiah untuk membayar (baca: menyuap) Pak Broto itu agar pergi mengurus administrasi berkas tersebut ke Surabaya. Ibu guru dilanda keraguan, kegelisahan, dan kebingungan. Menjadi guru honorer selama 15 tahun bukanlah suatu hal yang mudah, dan bisa jadi hanya dengan satu juta rupiah saja ibu guru akan mendapatkan jabatan pegawai negeri yang dapat meningkatkan taraf hidupnya, padahal teman-temannya yang lain “mengorbankan” (baca: menyuapkan) hingga puluhan juta untuk sebuah predikat pegawai negeri . Tapi sisi hatinya yang lain mengatakan, satu juta atau 20 juta itu tetap saja penyuapan, sesekali terngiang-ngiang kata-kata suaminya yang sederhana “orang yang menyuap dan disuap dua-duanya masuk neraka, ndak papa lah.. yang penting anak-anak kita makanannya halal”.

###

Masih di kantor Departemen Agama Kabupaten Ngawi, sekitar jam 17.00, matahari mulai redup, namun secercah cahaya mulai menerangi ibu guru!

Sudah bu, nanti biar saya saja yang mengantar berkasnya, saya sudah sering mengantar berkas-berkas CPNS, ini sekalian besok saya juga mau ke kantor wilayah Surabaya, mengantar proposal, sudah sudah.. ibu tenang saja, ibu pasti capek dari tadi pagi di sini, Pak Broto itu memang seperti itu, keterlaluan!”, kata seorang pemuda, Mas Joko Muttaqin, pegawai muda yang belum pulang karena hendak bermain voli.

“iyaa lho, memang keterlaluan Pak Broto ini, ndak cuma itu lho mas, lha wong stempel smuanya ada disini, lha kok mau legalisir saja ibu guru ini disuruh pergi ke rumah saya, suruh jemput saya untuk kembali ke kantor, membubuhkan stempel, oalah-alah.. kebangeten.. kasian ibu guru ini jauh-jauh ke rumah saya lho mas! Padahal tinggal nyetempel”, kata ibu Sri, petugas pembawa stempel yang dijemput ibu guru untuk kembali ke kantor, atas perintah Pak Broto. Jam 4 sore tadi, setelah tiga jam ibu guru menunggu, Pak Broto baru datang dari madiun, lalu memeriksa berkas yang dibawa ibu guru,berkas yang tanpa diselipkan “amplop” apapun . setelah memeriksa, Pak Broto hanya memerintahkan ibu guru untuk menemui ibu Sri, petugas stempel untuk melegalisasi berkas. Setelah bertitah, Pak Broto pun pergi bermain Badminton.

Namun akhirnya, pemuda ini, mas Joko Muttaqin yang akan mengantarkan berkas-berkasnya, tanpa uang suap tentunya.

Alhamdulilah.. hari ini, dua ujian pun terlalui dengan penuh kelegaan, Allah telah menolong ibu guru agar tidak memalsukan dokumen dan tidak melakukan penyuapan. Karena sesungguhnya hanya keridhoan Allah saja yang melahirkan kebahagiaan dan ketentraman jiwa. Ibu guru pun tersenyum terharu, Ya Allah… kok ada-ada saja skenario untuk menolong saya, benar-benar kejutan.

“Hidup ini dipasrahkan ke Yang Maha Kuasa saja nduk.., ndak usah macem-macem, nanti lak tenang..”

Teriring doa untuk ibu guru, semoga tetap istiqomah..

One response to “Kisah Ibu Guru Lagi

  1. kalau dulu di sukabumi, pas magang jadi guru, aku malah diajari cara malsuin dokumen biar kelihatan lama ma guru setempat haha….
    moga Allah menjaga hati kita biar tetap istiqomah:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s