Tempe Bergizi Daging

Tenang saudara-saudara, saya tidak sedang membicarakan resep masakan sekarang, melainkan tentang Topik Guest lecture (uda lama si..) yang dibahas Mr. Bisping yang jauh-jauh datang dari University of Hamburg (Hey it’s Germany !!) untuk meneliti tentang Tempe di Indonesia. Serius, T-E-M-P-E !

Jadi begini ceritanya, kata Mr. Bernward Bisping itu, tren orang-orang Eropa sekarang adalah mulai meninggalkan konsumsi makanan olahan hewani dan beralih pada makanan-makanan yang bersumber dari nabati. Karena memang sejujurnya mengkonsumsi banyak sayuran dan buau-buahan itu lebih menyehatkan daripada banyak daging-dagingan. Nah, sedihnya ada vitamin yang tidak bisa diperoleh dari sumber nabati yaitu vitamin B12 (Cyanocobalamin) yang penting bagi tubuh. Maka dari itu, Mr. Bisping ini merekayasa bagaimana membuat makanan nabati yang menyehatkan tapi juga mengandung nutrisi hewani. Dan tahukah engkau apakah yang diperbuatnya? Memodifikasi TEMPE! Ck..ck..ck.. Tempe gitu loh. Makanan khas Indonesia kesukaanku (yang kabarnya telah dipatenkan oleh jepang, hff..)

Entahlah perasaanku tak menentu saat itu (cielah), serius! Antara terkagum-kagum dengan laboratorium dan risetnya University of Hamburg (pengin ke Jerman!), tapi pengin ketawa melihat raut muka Pak Bisping yang kemerahan terkena atmosfer bandung yang mulai panas, dramatis membandingkan nenek-nenek yang jualan tempe di pasar balubur dengan orang-orang jerman yang punya industri tempe yang canggih dan menjualnya dengan kemasan elegan, kontras dengan tempe di balubur (dan di Ngawi juga) yang masih berbungkus daun pisang, inget rumah di Ngawi karena keluargaku setiap pagi selalu menggoreng tempe dan tertawa-tawa lalu adikku memakannya banyak sekali dan dia terlambat ke sekolah, inget bapak-bapak penjual tempe yang tiap hari lewat depan rumah, ingat kakak kelas SD-ku yang sekarang menjadi penjual tempe dan sayuran, ingat guru biologi MTsN Paron-ku yang pertama kali memberitahuku (hingga aku masih hafal sampai sekarang) bahwa jamur tempe itu Rhizopus. Hhff..tempe.. oh tempe.. dan sekarang telah dimodifikasi menjadi sangat canggih, tak terpikirkan oleh orang Ngawi yang telah memakannya hampir 19 tahun! (agak lebay sih, pas bayi kan aku belum bisa maem tempe, hihihi).

Whatever lah, sebagai seorang calon researcher dan lecturer masa depan, aku akan tetap menuliskan kebenaran pada kalian, meskipun ini terasa menyakitkan (sudah berapa kali kita kecurian coba?). Ceritanya sederhana sebenarnya. Pembuatan tempe ini dimodifikasi secara bioteknologi. Jamur tempe standar tetap digunakan, masih Rhizopus juga, tapi ini lebih menjengkelkan, mikroba yang dipakai di industri tempe canggih di jerman itu adalah : Rhizopus oligosporus (dari New Zeland), Bacillus megaterium DSM 319 (DSM itu perusahaan Biotek terkenal di Eropah sana), dan Rhizopus oryzae strain MS5 (coba tebak? MS adalah singkatan dari Medan Sumatera!,artinya jamur ini dari Medan Sumatera kawan..). Haduh haduh.. sudah tempenya dicuri, jamurnya dirampok pula, trus dijual di eropah sanah.. salah kita juga sih..memang.

Baiklah, kita kembali ke bahasan yang ilmiah, kawan. Jadi Bacillus megaterium ini merupakan bakteri yang memproduksi enzim penting danVitamin B12. Strain bakteri ini yang telah dimodifikasi oleh DSM menjadi agen pemroduksi vitamin B12 yang hebat. Rhizopus oligosporus dan R. oryzae mem-fermentasi nutrisi (karbohidrat, lemak, protein) dalam kedelai menjadi senyawa-senyawa yang mudah dicerna oleh tubuh, sehingga inilah yang membuatmu lebih sehat memakan tempe daripada makan kedelainya langsung. Ibaratnya kalau kita mau makan soto ayam, nah si Rhizopus inilah yang memasak ayamnya, memberi bumbu, melunakkan dagingnya, dan bahkan membuatnya lebih bergizi!. Ini buktinya, tempe mengandung : Tiamin, ribovlafin, folic acid, biotin, piridoxin, oleic acid, linolenic acid, betacarotene, ergosterol, dan oligosakarida penting (sangat efektif sebagai prebiotik). Prebiotik ini adalah makanannya probiotik. Probiotik itu adalah mikroba semacam bakteri yakult itu lho. Jadi tempe ini juga ngasi makan bakteri baik dalam tubuh kita, itulah yang membuat pencernaan kita berjalan lancar, mengurangi diare, sebagai imunomodulasi, menurunkan metabolisme zat-zat pemicu kanker di usus besar, menurunkan kadar kolesterol, dan meningkatkan reabsorbsi mineral.

Nah, dan sekarang orang-orang Jerman itu telah membuat tempe kita terjual di eropa dengan kualitas nutrisi tinggi, prebiotik, dan Vitamin B12 yang tadinya hanya ada pada daging. Sekarang bagaimana? Tega ya.. hanya makan tempe saja tanpa mempelajarinya lebih jauh? Ntar kecurian lagi ngamuk-ngamuk. Parah.. 19 tahun ngapain aja ya? Hehehe.. Maka mari kita ikuti petuah Tuk Bayan Tula (Laskar Pelangi) “kalau mau pintar, makanya belajar..!”

Gak papa lah, setidaknya nanti kalau aku ke Jerman masih bisa maem tempe. Ya gak ?

2 responses to “Tempe Bergizi Daging

  1. sayang,, kenapa yang diteliti tempe, bukan tahu? kan bisa lebih seru lagi tuh kalo ada tahu bergizi daging…Padahal, jelas-jelas rasanya enakan tahu daripada tempe…

  2. Hehe.. Enakan tempe kali fik..
    Lebih bergizi tempe juga. aku pernah denger ada zat antikanker juga (genistein, dadzein,atau apalah lupa) ada di tempe.
    Btw, mungkin itu sebabnya juga kenapa restofarma jualan tempe goreng , bukan jualan indomi kaya di elektro.. wehehehe…(ga nyambung si..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s