Lumpia Basah Gerbang Belakang

ITB mempunyai banyak gerbang di setiap penjurunya, dan semuanya merupakan muara strategis bagi para pedagang mengadu nasibnya. Nah, lokasi kuliner kita kali ini di gerbang belakang, Kawan. Lumpia basah namanya, kurasa makanan ini sudah tak asing, kecuali di Ngawi mungkin, karena jujur saja, awal-awal di Bandung aku heran, banyak benar makanan di sini hingga menurutku orang-orang di sini mampu mengubah segalanya menjadi makanan, (lebay tentu saja), lihat saja berbagai jenis modifikasi aci, (massa polisakarida dari gaplek yang mempunyai viskositas sangat tinggi!) : cireng, cimol, cilok, dll. Dan Lumpia basah ini adalah jenis yang tidak jauh-jauh juga dari bahan aci, namun sebagai bahan pengikat saja. Bahan utamanya adalah tauge (kecambah Vigna radiata), telur, dan bengkoang.

Ada yang unik pada Lumpia Basah di gerbang belakang ini, karena bapak penjualnya termasuk pedagang yang inovatif menurutku. Beliau memodifikasinya dengan berbagai rasa : sosis, kornet, ayam, keju, dll. Dalam sehari, bapak ini mampu mengolah 20 Kg taugenya menjadi lumpia basah dalam sehari. Dan tahukah Anda bahwa tauge ini mengandung banyak vitamin E (tokoferol). Suatu antioksidan jenis true antioxidant larut lemak yang bereaksi mencegah oksidasi dengan cara memutus chain reaction radikal bebas. Antioksidan dalam tubuh diperlukan untuk mencegah reaksi oksidasi LDL (Low Density Lipoprotein) yang dikenal sebagai kolesterol jahat yang jika teroksidasi akan menimbulkan plak pada pembuluh darah sehingga menjadi penyebab terjadinya hipertensi, hiperkolesterolemia, dll. Selain itu vitamin E juga dapat mencegah penuaan dini dikarenakan sifatnya yang mencegah reaksi-reaksi oksidasi yang cenderung degradatif terhadap sel atau jaringan. (btw, kalau ada kalimat saya yang salah tolong dikoreksi, hehe). Begitulah landasan ilmiah yang menandakan lumpia basah ini punya alasan sehat dikonsumsi (setidaknya dibanding gorengan) dan layak ter-publish di blog seorang mahasiswi farmasi sepertiku (Lha..?)

Di sisi lain, ada sebuah diskusi singkat antara aku dengan penjual Lumpia Basah itu,

“Orang-orang yang beli tadi Neng, itu dari Jakarta, kalo liburan suka main ke Bandung dan selalu memborong Lumpia Basah saya, hehe” Senyum bapak itu terkembang, bahagia sangat! Setelah menerima uang limapuluhribuan dari sebuah keluarga bermobil hitam mewah.

“Waahh..” aku manggut-manggut

“Iya, ketagihan katanya, hehehe, anak laki-lakinya yang tadi kuliah di Singapur, trus kakaknya kuliah di ITB juga, trus kenalan-kenalannya juga pada beli kesini,dikasitau sama mereka, hehehe” Bapak ini terlihat sangat bahagia, mungkin merasa Lumpia Basah buatannya ini high class lho! Disukai mahasiswa Singapur dan orang-orang bermobil mewah.

“Waah, berarti sudah terkenal dong pak?” tambahku

“Yaa.. Alhamdulillah Neng..,lumayan.. buat kuliah anak saya”, jleg.. tiba-tiba aku teringat sesuatu..membuatku berhenti ternapaskan sejenak.

“Anak saya empat Neng, laki-laki semua, satu udah kerja, satu kuliah, satu SMA, satunya masih kecil”

“oo..” hampir saja aku terlambat berkomentar karena tertegun tadi

Kuliahnya di Widyatama, Manajemen Informatika, sekarang semester 5” Ucapnya lantang, masih sambil tersenyum, bangga sekali, meskipun aku tau bapak ini pun sebenarnya juga tak terlalu paham apa itu manajemen informatika.

Teringatlah aku pada kalimat “seorang ayah selalu ingin menjadi pahlawan di depan anaknya”, dan bapak ini pun menunjukkannya, betapa 20 kilogram tauge yang diolahnya seharian ini hanya untuk memperjuangkan kuliah anaknya,sambil membatin tulus “Andai kau tau Nak, ayahmu ini sangat bangga padamu”. Dan ayah semacam ini akan berlipat-lipat bangganya ketika anaknya bercerita tentang apa yang dipelajarinya di kampus, ayah akan mendengarkan istilah-istilah baru yang terkesan modern, kemudian ia akan tersenyum jaim (jaga image) di depan anaknya, tidak memuji juga, diam pura-pura mengerti namun sebenarnya mencoba menghafal ‘prestasi besar’ anaknya itu untuk diceritakannya pada orang-orang dengan penuh kebanggaan, tanpa sepengetahuan anaknya. Nah, ketika sanak saudara bertubi-tubi menanyakan langsung pada sang anak—betapa hebat kuliahnya, tak lain hanya satu yang terlintas pasti ayah yang cerita pada mereka!. Dan salah satunya bapak itu, telah mengkalimatkan kepahlawanannya pada setiap lumpia basah yang ia buat, demi anaknya.

Pun ayahku begitu. Pahlawanku yang sangat aku kagumi di muka bumi.

Seorang sarjana hukum Islam, Fakultas Syariat Islam IAIN Sunan Ampel jaman dulu, yang balik ke Ngawi padahal baru saja tiba di Jakarta mengurusi keperluan melengkapi berkas sebagai calon hakim, belumlah urusan itu beres, Ayahku ini benar-benar langsung pulang ke Ngawi. Ndak mau jadi hakim!. Belasan tahun kemudian—aku telah terlahir dan bisa bertanya, jawabannya adalah:

“Bapak ndak tega Nduk, takut kalo nanti kena suap, lak trus anakku nanti makan uang haram ”

Simpel. Namun ketika aku telah SMA-sudah agak pinter, aku pun protes, bukankah jihad itu harus di semua bidang pak? termasuk di pengadilan, kan harus menegakkan keadilan. Bapakku ini hanya tersenyum, mungkin saat itu memang belum ada fase jihad di sana.

Ayahku ini pun akhirnya menjalani hidupnya dengan ibuk,aku dan adikku yang bahagia, meskipun apa adanya. Ketika aku MI (Madrasah Ibtidaiyah = SD Islami), mengisi sebuah formulir dan bertanya pada ayah, “Mata pencaharian bapak apa?”, ayahku diam sejenak lalu dengan percaya diri berkata “petani intelek”, uhuk-uhuk-uhuk.. ibuku langsung menahan tawa mendengarnya emang ada petani-intelek? namanya petani ya petani..lha kok neko-neko pake intelek segala? , aku bengong, sedangkan adikku masih kecil tak tahu apa-apa. Lalu aku ikut-ikutan ibuk tertawa. Kata ibuk, ayahku ini dulu memang sangat pintar, disayang masnya, sampai masnya (pakde saya) rela tidak sekolah biar adiknya bisa sekolah SMK, (STM Geneng waktu itu)—dengan membawa cita-cita: setelah lulus nanti bisa bikin pos tambal ban. Dan ayahku ini selalu saja bercerita bahwa ayah satu-satunya murid STM yang bisa mengerjakan soal-soal integral diferensial, soal yang sangat susah katanya. Dan aku pun semakin mengaguminya hingga aku beranjak SMA, aku pun sadar, Bagi STM Geneng kala itu mungkin iya, namun sepertinya tidak terlalu berlaku di SMA ku, pikirku. Hehe. Tapi tetap saja ayahku hebat.

Ayah yang mengajariku mengaji hingga aku sudah membaca Al Baqarah saat kelas 1 MI, meskipun terbata-bata. Dan sesungguhnya justru itu yang membuatku malas ikut TPA (Taman Pendidikan Al Quran) karena aku harus menyalin apa yang aku baca—yaitu surat Al Baqarah yang hurufnya bersambung-sambung, ayatnya panjang-panjang pula, sedangkan teman-temanku hanya menyalin sehalaman buku IQRO’ karya As’ad Humam karena memang mereka masih IQRO’. Huh, pegal-pegal tanganku, sungguh.

Ayah yang mengajariku PR matematika, sejak kelas satu hingga kelas enam. Hingga pernah suatu saat, sehabis sholat jumat ayahku ini memprotes guru MI-ku karena beliau telah menyalahkan jawaban matematika anaknya ayah, saat itu aku memang mengadu ke ayah sambil terisak-isak “padahal perhitunganku benar pak..hiks..” dan tak berani bilang ke pak Guru, ayahku lah yang maju. Ayahku memang pahlawanku, lagi.

Ayah membangunkanku untuk sholat malam, padahal niatku sesungguhnya adalah nonton Juventus, Liga Italia, David Trezzequet, yeah!. Ayah bilang, ndak papa, yang penting sholat dulu.

Ayah mengajariku takaran tepat untuk menanak nasi (kalau ibuk mengajariku pakai indikator feeling, sedangkan ayahku pakai metode unik dan empiris!). Ayah pernah tertabrak motor saat menyeberang jalan–dan ibuku menjerit, lantas menyalahkanku habis-habisan—karena aku merengek-rengek menangis minta dibelikan durian. Ayah tetap melanjutkan menyeberang—ibu masih menjerit-jerit sudah ndak usah beli aja!; Ayah tak peduli, dan dengan terpincang-pincang Ayah membawa durian hasil pilihannya dan memberikan durian itu padaku dengan senyuman yang benar-benar puas! Nih ayah belikan durenseolah lupa bahwa kakinya bisa patah gara-gara menuruti aku, sementara aku hanya menatapnya dengan mata yang meleleh, tak sanggup. Ayah menenangkan ibuk agar berhenti memarahiku, ndak papa..cuma sakit dikit.

My Dad, My Hero..

Mohon maaf pembaca, ending ceritanya jadi begini. Dari tauge sampe duren, lumpia basah sampai seorang ayah. Begitulah, sesungguhnya hanya mencoba mengkamuflasekan keberterimakasihku pada Ayah-terhebat sepanjang sejarah.

#Spesial buat ayahku—yang protes “Pemerintah ki ora adil, ora gawe Hari Ayah” , ngambek gara-gara aku mengucapkan selamat hari ibu pada ibuk, saat ayah dan ibuk ‘berebut’ menelfonku, ba’da subuh.

6 responses to “Lumpia Basah Gerbang Belakang

  1. Ceritanya haru..Emang bener banget si, salah satu alasan kenapa kita masih bisa berdiri sekarang adalah kehadiran ayah kita..
    Tapi tadi sebenernya mau wisata kuliner atau cerita tentang semangat kehidupan si?
    hwehehe…..

  2. saya pikir mau cerita bahwa dalam lumpiah basah yang sehat itu terdapat protein yang pada salahsatu site nya terangkai asam amino F-A-K-H-R-I-A…
    dugaanku salah… kau tak senarsis itu…(but more..)

    tak apa ga ada hari ayah juga…
    ya maklum lah, ayah itu (tepatnya kaum adam) kan pahlawan tanpa tanda jasa…
    tak butuh harinya diperingati…

    padahal Qur’an saja berkisah tntg didikan para ayah kpd anaknya: Ibrahi, Luqmanul Hakim,…

    tapi, sebetulnya ibu juga ga butuh peringatan hari…
    tanya aja…
    mereka butuh anaknya yang shalih(ah), berguna bagi sesama, agama dan bangsa…

  3. # taufiq
    Hehehe.. thank kyu2.. hyaa.. begitulah fiq ceritanya
    # kak Irfan
    Yaa begitulah kak, semoga kita bisa menjadi anak-anak yang shaleh(ah)..
    amin

  4. Ceritanya blended mixed, kayak lumpia gerbang belakang ^_^.

    Bagus, senang ya bisa mengingat setiap plot dalam hidup dan mensyukuri setiap jejak langkahnya.

    Keep cool *_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s