Sebuah Puisi

Aku pernah bermimpi..

Jadi tanah untukmu

Kubiarkan kau berjuang di atasku

Ku dukung kau berjihad di tanahku

Ku tetap ada saat kau rapuh

Ku relakan kau membangun surga di atasku

Ku temani kau saat ajal menjemput

Kita bersama..

Aku pernah bermimpi..

Jadi matahari untukmu

Menghangatkan persahabatan kita

Dengan sinar pagi dan sore

Menerangi jalan juang kita

Membantumu memerangi kebatilan

Dengan terik panasku

Aku pernah bermimpi..

Jadi hujan untukmu

Mendamaikan gundah gulanamu

Menentramkan hati dan jiwamu

Aku pernah bermimpi

Menjadi beringin untukmu

Perhatianku tak putus padamu

Waktuku luang untukmu

Kau bisa bersandar padaku

Aku bisa meneguhkanmu

Tapi aku hanya ilalang kering

Hidup di tandus gersang

Tak pedulikan perdu lain

Tak berterima kasih pada sabana

Kuanggap aku sangat berharga

Kupikir aku sangat berjasa

Kenyataannya..

Tak ada manfaat dari ilalang

Hujan..

Bantu aku menjadi ilalang hijau

Berbunga dan rindang

Bantu aku jaga persahabatanku

Dengan burung, sabana, dan perdu lain

*percaya ga fakhria nulis sepuitis ini? Hehe, anda benar, ini bukan tulisan saya, saya tidak biasa menulis puisi, ini dari sahabat saya, hari ini dia mengirim surat padaku (Surat, benar-benar surat! Bukan email), aku sangat merindukannya, teman sebangku-ku sejak aku kelas 1 sampai 3 MTsN Paron Ngawi.

Kami berkenalan saat hari pertama masuk sekolah, dan saat ulang tahunku februari kemarin dia menelfonku lalu bercerita betapa dia masih ingat saat pertemuan pertama itu, dia bilang aku malu-malu gitu, pake kerudung putih dan seragam MI, dan jam tangan hello kitty, ya.. itu fakhria 9 tahun yang lalu, yang aku bahkan lupa kalo pernah punya jam tangan hello kitty. Lalu setelah lulus dari MTsN kami berpisah, membawa cita-cita kami masing-masing, aku masih di Ngawi, sekolah di SMAN 2 Ngawi dan dia pulang ke kampung halamannya di Trenggalek lalu sekolah di MAN di sana. Sekarang aku menjadi mahasiwi di ITB, dan dia menjalani profesinya sekarang sebagai guru TK Islam Terpadu bersama murid-muridnya yang sering menelfonnya sekedar untuk curhat dan berceloteh khas anak-anak. Selama aku mengenalnya, berbagai liku-liku hidupnya mengajarkan arti ketegaran padaku. Satu yang pasti, aku sangat bahagia bersahabat dengannya, hingga sekarang. Suatu saat nanti aku akan menulis tentang persahabatan kami, tapi sekarang aku akan membalas suratnya dulu (Surat! Bukan email!). Hehe.

Sekarang adalah hari ulang tahun dia yang ke 21, tapi aku tahu, kemungkinan kecil baginya untuk menemukan tulisanku di blog ini. Dia bilang di tempatnya sangat jarang internet, kalaupun ada itupun jauh. Anyway, met milad ya.. kamu adalah sahabatku yang sangat baik, semoga semakin bijak menjalani hidup dan Allah senantiasa menaungimu dengan cinta-Nya setiap hari.. :-)

One response to “Sebuah Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s