Membentuk Kepribadian Muslim Hakiki

Judulnya serius amat ya? Emang.. Hehe, jadi begini ceritanya. Tadinya kan aku mengalami kepenatan yang luar biasa tuh, berjuta tugas menanti untuk diselesaikan, dari laporan praktikum, tugas makalah, ujian, beasiswa, organisasi, keuangan, dan lain-lainnya lah.. seribu langkah telah kujalani meniti jejak – jejak penyelesaian hingga kepenatan itu membawaku kembali ke jalan yang benar. Moment bermakna itu adalah Tasqif Farmasi di GSS Salman ITB. Iya, gini-gini kan gw juga pengen masuk surga.

Bersama ustadz Suherman al hafidz yang tiba-tiba (karena aku datengnya telat,jadi tidak mengikuti flow) bilang kalau lagi penat, lelah, dan bosen, curhatnya bukan ke fesbuk atau blog, tapi ke Allah melalui Qiyamul lail.. (Hyaa.. padahal sesampainya aku di kosan, tujuan utamaku adalah nulis blog,nulis blog dan nulis blog, melampiaskan segala kepenatan dan kepahitan hidup yang melebihi indeks kepahitan senyawa kinin.. hehehe, status di fesbuk juga telah menunjukkan suatu curqolb (curahan qolbu)—istilah lainnya curhat, biar rada-rada islami hehe). Yasudah, daripada curhat ga jelas kan,, paling gitu-gitu lagi, capek kuliah, bosen praktikum, pengen jadi orang hebat tapi kadang masi males, anak kosan yang suka lupa makan, lupa minum susu, sakit trus ke BMG, jatuh cinta pula! (Halah..) bla bla bla.. sesuatu yang sering terjadi pada mahasiswa (ITB). Daripada ga penting syalala.. mendingan aku tulis saja apa yang telah kudengarkan tadi.

Jreng jreng..

Ini tentang membentuk kepribadian muslim hakiki. Terserahlah ketika berbagai tes kepribadian menunjukkan kepribadian kita koleris, sanguinis, plegmatis atau melankolis, namun sesungguhnya kepribadian Islam lah yang memberikan warna terindah bagi kehidupan. Kepribadian Islam lah yang mampu mengubah kegarangan Umar bin Khattab yang jahat banget menjadi sholeh banget. Kepribadian Islam lah yang membuat Abu Bakar yang lembut pada siapapun bisa menjadi marah luar biasa pada kasus pemurtadan. Dan kepribadian Islam yang hakiki itu terdiri dari pilar utama yaitu pilar ruhiyah, Akhlak, dan Akal (pemikiran).

  • Pilar Ruhiyah

Pilar ruhiyah ini akan senantiasa kokoh jika dijaga oleh ibadah yang kokoh pula. Lima ibadah penting yang diceritakan ustadz adalah :

1) menjaga sholat, ketepatan waktunya, kekhusyuannya. (Pas materi ini aku belum nyampe lokasi, jadi ini sepahamku saja)Sering banget kan, sholatnya buru-buru dan menganggap kalo Allah kan Maha Baik, paham dong kalo kita mahasiswa, mau praktikum ni Ya Allah.. Hmm.. ke-Maha Baik-an Allah ini yang kadang membuat kita lalai, lalai, dan lalai. Padahal ternyata kekhusyuan sholat ini lah yang sejujurnya menjadi kekuatan utama yang membuat seorang muslim mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah dengan petunjuk Allah.

2) Tilawah Alquran dengan konsisten dan disertai pemahaman. Teringat lah aku pada ade’ kosanku tercinta itu (Layyina Soraya), yang pernah mengatakan sesuatu padaku dengan polosnya ketika aku memberinya buah jeruk “Wah, makasi mba Ria.. jadi inget Rasulullah ni, kan kata Rasul perumpamaan orang yang suka baca Al quran tu kaya’ buah jeruk, baunya harum dan rasanya manis”. Kata dia, baunya harum itu menunjukkan keindahan bacaan Al quran nya, dan rasanya manis itu menunjukkan kenikmatan iman yang ada dalam hatinya.

3) Qiyamul Lail. (Nah, pas materi ini aku baru dateng, hehe), jadi kata ustadz, kalau lagi bete, jenuh, dan penat.. curhatnya ke Allah, bukan ke fesbuk atau blog..(waduw.,) dengan Qiyamul Lail, kekuatan ruhiyah akan semakin kokoh dan membuat kita sanggup menjalani hidup seberat apapun, amanah dan tugas sebanyak apapun, ujian sesusah apapun, dan masalah sebesar apapun, karena kita mendapatkan kekuatan dari Sang Pencipta apapun (Semesta alam).

4) Merendahkan hati kepada Allah dengan berdoa. Iya, yang ini kuakui benar-benar keajaiban. Kekuatan doa itu benar-benar ajaib, serius. Ini semacam law of attraction kalau di The Secret. Sesungguhnya Allah benar-benar tidak pernah bosan mendengar do’a-do’a kita, permintaan-permintaan kita, bahkan se-kurang-ajar apapun kita atas nikmat-nikmatnya. Allah sangat senang akan do’a-do’a hambanya. Kata MR (sebut saja mentor, bukan nama sebenarnya), Ketika Allah memberi ujian dan cobaan pada kita sesungguhnya itu bukan berarti Allah ingin menyiksa kita, tapi justru karena Allah mengharapkan kita kembali bersimpuh pada-Nya, kembali menangis pada-Nya, kembali berdoa penuh harap pada-Nya, kembali dekat dengan-Nya hingga akhirnya Allah ridho padanya dan surga pun menjadi ganjaran yang tak terbantahkan dahsyatnya bagi makhluk bernama manusia yang beriman. Subhanallah..

  • Pilar Akhlak

Pilar yang ini menyangkut posisi kita sebagai manusia, anaknya orang tua, anak kosan, mahasiswa, putra putri terbaik bangsa, dan posisi hidup lainnya. Kepribadian seorang muslim yang hakiki sejujurnya adalah refleksi dari adab dan akhlak muslim tersebut terhadap diri dan lingkungannya. Bagaimana kita menempatkan posisi kita sesuai proporsinya sesuai adab dan akhlak islami. Misalnya nih, kalo pas mau makan berdoa gak? Pas mau naik angkot? (jujur ustadz, kalo yang ini biasanya cuma baca bismillah doang, hehe), pas mau pake kerudung? Pas mau mulai kuliah? Nah lho, bisa jadi ketidak-connect-an kita pada materi yang diajarkan dosen gara-gara hal sepele ini nih. (Waduw..). Trus lagi, pas dosen mengajar, kita malah smsan. Kata ustadz, mungkin saja dosen kita bisa sakit hati melihat kita tidak memperhatikan materi yang telah dipersiapkannya. Hal-hal sepele tersebut bisa jadi menghalangi pertolongan dan keberkahan dari Allah terhadap apa yang kita pelajari dan terhadap apa yang kita anggap sebagai amal kebaikan.

  • Pilar Akal (Pemikiran)

Terutama ilmu menyangkut pemahaman kita terhadap Islam harus kita pelajari. Sarana yang telah ada misalnya mentoring, ta’lim, tasqif, taujih on line dan lain-lain telah semakin memudahkan kita mempelajari Islam. Selain pemikiran tentang hal ini, tentu yang tak kalah penting juga adalah ilmu yang menyangkut bidang spesifikasi kita masing-masing. Menjadi seorang muslim adalah menjadi manusia yang membawa rahmat bagi seluruh alam, apa yang kita lakukan dan kita kontribusikan terhadap umat manusia adalah berbanding lurus dengan pemahaman kita terhadap nilai-nilai Islam dan terhadap spesifikasi ilmu yang kita pelajari, atau ilmu lain yang bermanfaat. Jadi, jangan pernah berhenti belajar.

Begitulah tiga pilar yang membuat seorang muslim mempunyai kepribadian hakiki, kepribadian islami warisan Rasulullah saw. Rasulullah pun pernah bersabda dan berdialog dengan para sahabat, bahwa Rasulullah merindukan kekasihnya, para sahabat pun heran, “bukankah kami telah berada di sini ya Rasul, siapakah lagi yang engkau rindukan?”. Lantas rasulullah pun menjawab bahwa yang Rasul rindukan adalah mereka para umatnya yang tak pernah bertemu Rasulullah, tak pernah bermajelis bersama Rasulullah, namun senantiasa mencintainya, dan berittiba’ padanya, dan mereka mempunyai derajat yang sama dengan kalian (para sahabat). Jadi, kegigihan kita untuk menjadi muslim dengan kepribadian hakiki tersebut akan dapat mencapai maksimal senilai dengan prestasi para sahabat. Secara individual, kita diberi peluang yang sama untuk menjadi sholeh dan sholehah seperti para shahabat dan shahabiyah. Menjadi Sabar layaknya Abu Bakar, Setangguh Umar bin Khattab, Dermawan seperti Utsman, Ceria dan tawadhu’ seperti Ali. Atau setegar Hajar, seteguh hati Khadijah, dan secerdas Aisyah.

 

12 responses to “Membentuk Kepribadian Muslim Hakiki

  1. Berada di benua eropa, Islam tetap tumbuh dan berkembang di kawasan itu.
    Walaupun menjadi Minoritas Di Kawasan Eropa, Umat Muslim tetap memiliki
    Masjid – Masjid yang luar biasa dengan corak arsitektur yang berbeda dengan
    Masjid pada umumnya di Kawasan Timur Tengah maupun Asia.
    Berikut ini koleksi Foto Masjid yang berada di Inggris, Belanda, Belgia, Perancis,
    Spanyol dan Italia.
    Dapat di Download di http://www.ziddu.com/download/5155299/Koleksi_Foto_Masjid2_Eropa.zip.html

  2. Aduh, tulisannya sangat mendamaikan hati Fa..Asri likes this

    Nice post..Jazakallah sharingnya fa..

    Semoga kita dimudahkan Allah untuk menjadi hambanya yang Sabar layaknya Abu Bakar, Setangguh Umar bin Khattab, Dermawan seperti Utsman, Ceria dan tawadhu’ seperti Ali, setegar Hajar, seteguh hati Khadijah, dan secerdas Aisyah..

    Amin..

    Keep posting ne..

    Wassalam,
    Asri

  3. Alhamdulillah, saya bener bener merasa lega setelah membaca blog ini. semoga untuk kehidupan saya seterus nya benar2 saya terapkan dan bermanfaat…

  4. bikin sya nangis.. karena mengingatkan saya
    betapa jauhnya saya sama ALLAH…
    walaupun saya santri
    saya belum begitu dekat dengan ALLAH…
    kalau bias bikin tulisan yang lain lagi ya kak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s