Ngawi, Kampung Halamanku

Selalu ada ketentraman di Ngawi, mungkin karena ada keluargaku dan teman-teman lamaku di sini. Pulang ke Ngawi selalu saja menjadi kebahagiaan tersendiri. Atmosfer pedesaan yang khas, tak ada polusi, tak ada macet, ketika aku keluar rumah, di halaman depan rumah terlihat ladang dan sawah menghijau, di ujung sana berdiri kokoh Gunung Lawu yang kadang bukit-bukitnya diselimuti awan putih. Setiap pagi ayam-ayam berkokok, berteriak-teriak, menyebalkan juga karena berisik, tapi ya sudahlah toh mereka juga menikmati hidupnya.

kampung halaman

Aku memang harus pulang, melupakan nilai ujian farkin (Pharmacokinetics) yang sungguh mengenaskan (huhf..), melepaskan kerinduan dengan ayah, ibuk, dan adikku. Tapi sesungguhnya aku pulang karena aku juga harus membuat sebuah surat yang penting, pasport. Email dari Jepang kemarin memintaku mengirim fotokopi paspor untuk pembuatan visa rencana pertukaran pelajar di Jepang. Jangan fotokopinya, paspornya saja aku tidak punya, jadi aku harus melengkapi segala persyaratan untuk itu di Ngawi, kampung halamanku.

Menjalani kehidupan di Ngawi adalah merangkai hari-hari yang sederhana. Para orangtua mencari nafkah untuk memberi makan dan menyekolahkan anaknya, tak kenal lelah yang penting anaknya bisa makan dan sekolah, sudah. Tak sedikit juga teman-temanku yang akhirnya hanya tercukupi makanannya saja hingga putus sekolah. Sedih dan trenyuh rasanya ketika melihat temanku, ‘sainganku’ waktu MTs (SMP), pernah aku rangking satu dan dia rangking dua, yang aku tidak tahu bagaimana nasibnya setelah kelulusan kami. Ternyata aku mendapatinya sekarang menjadi pedagang yang sederhana di pasar. Aku mengamatinya lekat-lekat, tentu saja di balik helm standarku ketika aku melewati pasar, memastikan apakah dia benar-benar dia, dan ternyata benar, dia adalah temanku. Seseorang yang juga belajar keras untuk mendapatkan rangking satu di kelas dan hampir mengalahkanku, di sebuah sekolah di tengah sawah yang sekali lagi, di tengah sawah yang sangat sederhana. Aku tidak berani menyapanya. Diam, lidahku kelu.

Tak hanya itu, teman-teman mengajiku pun sekarang telah menjalani profesinya yang beragam, ada yang menjadi perawat di klinik kecamatan, ada yang pergi ke luar kota untuk menjadi karyawan pabrik, dan ada pula yang tetap di desa sebagai penjual sayur keliling. Aku terkejut waktu ibuku menyuruhku membeli sayur kalo nanti mbak Mawar (bukan nama sebenarnya) lewat di depan rumah. Ternyata mbak Mawar sekarang menjadi penjual sayur keliling, menjadi langganan ibu-ibu di desaku.

Membuat paspor, bukanlah hal yang baru di Ngawi, karena telah banyak orang-orang di desaku yang pergi ke luar negeri menjadi TKI atau TKW. Pilihan hidup yang sulit memang, namun kata seorang kenalan ayahku saat kami bertemu di sebuah warung mie ayam, seperti biasa kalau para orangtua bertemu, pasti yang dibicarakan adalah anaknya. “Lha arep pripun malih to Mas, iki anakku lulusan SMA wes ndang tak rabe’ne wae, lha nek arep kuliah lak yo ragat neh tiwas mumet, trus ki bocahe arep budhal golek kerjo neng Taiwan ”. Tawaran gaji yang menggiurkan sebagai TKI di luar negeri melenyapkan kenyamanan untuk tetap tinggal bersama keluarga, tak peduli banyak sekali kasus-kasus mengenaskan seputar TKI, menurutnya pengorbanan memang harus ada untuk kehidupan yang layak karena memang tak ada pilihan lagi. Katanya ini adalah karakter orang Jawa, berani pergi menjelajah bumi.

Akhirnya aku pergi membuat paspor di kantor imigrasi Madiun, karena tidak ada kantor imigrasi di Ngawi. Sepertinya pengunjung yang populer di sini adalah para anak pesantren dan TKI/TKW beserta biro penyalurannya. Jika kamu adalah wanita berjilbab, maka kamu akan ditanya “Dari pesantren mana mbak?”, karena di Ngawi ini, tepatnya di Mantingan, ada pondok pesantren yang terkenal, santri-santrinya bahkan berasal dari luar negeri. Ada beberapa muslimah dari Thailand yang kutemui sedang mengurus urusan kemigrasian di sana, ternyata mereka adalah santri Pondok Modern Gontor. Sedangkan kalau kamu tidak berjlbab dan berpakaian sama dengan beberapa gerombol wanita lainnya, para petugas itu pasti menduga bahwa kamu adalah TKW, dan memang seperti itu kebanyakan. Pengunjung terbesar kantor imigrasi adalah para TKI dan TKW.

Begitulah Ngawi, sederhana namun selalu ada ketentraman di sini. Pernah suatu ketika aku search di Google dengan key word Ngawi, dan ternyata di dunia ini ada dua Ngawi. Ngawi yang sangat populer adalah nama sebuah kawasan pantai di New Zealand, di daftar pencarian ‘Ngawi’ ini terdapat banyak sekali iklan-iklan hotel, restoran, dan hal-hal yang mendukung kepariwisataan di New Zealand. Foto-foto pantai yang sangat indah. Sedangkan ketika aku spesifikkan pencarian ‘Ngawi Jawa Timur’, hehe.. isinya.. coba saja search sendiri, sangat beragam, dari prestasi anak-anak SMA 2 Ngawi hingga kasus film porno anak SMA, Kuliner Mie Ayam Ngawi, web pemerintah daerah, dan lain-lain.

Pun begitu, selalu ada serpihan hidup yang menyenangkan di sini. Ada banyak pelajaran hidup di sini. Aku bertemu teman SMA-ku, dan dia bercerita bahwa sekarang dia punya ‘bimbel kecil’ di rumahnya, murid-muridnya adalah anak-anak di desanya, bukan main ada 50an anak-anak SD dan SMP. Sekarang dia menjadi guru matematika di rumahnya sendiri, “anak-anak SD itu selalu bikin ribut” katanya, “ini aku dikasih gelang karet dari mereka” seraya menjunjukkan gelang karet warna hitam, seperti gelangnya preman gitu, jadinya kalau dipakai terlihat jadi aneh, ini akhwat kok rada2 preman, hehe, tapi itu semua karena dia sayang sama murid-muridnya, anak-anak tetangganya yang hanya mampu membayar 10 ribu per bulan untuk les matematika dan bahasa inggris di rumahnya. Seminggu tiga kali. “Aku juga ga enak fah, kalo mahal-mahal, tau sendiri tetangga-tetanggaku ya kaya gitu, buat makan aja susah, takutnya malah membebani hidup mereka ntar, toh anak-anak itu juga adik-adikku sendiri, ga tega jadinya”.

Terhempas tiba-tiba rasanya, aku belum berbuat apa-apa buat orang-orang di sekitarku, tapi temanku ini sudah memulainya, mencerdaskan orang-orang di sekitarnya dengan apa yang dia punya.

Karena sesungguhnya kontribusi itu adalah hati nurani, dan bukankah orang yang paling mulia adalah orang yang paling banyak manfaatnya..

Mungkin suatu saat nanti ketika kamu mengetikkan keyword ‘NTU’ di google, bukan hanya Nanyang Technological University saja yang muncul, tapi Ngawi Technological University mungkin.. hehehe. \(^o^)/

19 responses to “Ngawi, Kampung Halamanku

  1. hehehe… ditulis juga…

    semangat Fa, aku yakin kamu bisa! nanti kalo NTU di Ngawi kualitasnya sebagus Nanyang, aku sekolahin anakku disana… ^^

  2. berawal dengan ikengintahuan tentang anak bangsa yang akan meneruskanku bercerita tentang negara tercinta kepada rekan2 di Lab Tagawa sensei..

    berdiam sejenak untuk membaca satu tulisan di blog yang tercantum di facebooknya..

    sederhana memang.. tapi berakhir dengan kekaguman dan rasa syukurku karena Tuhan masih begitu baik mau menciptakan perempuan seperti kamu..

    terus berjuang, kawan!

  3. Assalamualaikum.
    Ehm gmn kbrx yanx??. kalo udah berangkat ke jepang Q di kabari. jangan lupa kenalan sama Ultramen, Narutox. trus nnti d bungkus di transver ke sini z….
    Semoga selamat dan Sukses

    • hehe, hai zuh.. pasti nanti aku akan merindukanmu.. huhuhuu… sering2 buka blog aku aja ya :), btw aku pernah menulis tentang kamu juga loh.. hehehehe

  4. ya…
    senyaman apapun rumah orang, lebih nyaman rumah sendiri.
    senyaman apapun kota orang, lebih nyaman kota (kelahiran) sendiri…?

    ya… tetaplah bangga dengan Ngawi-mu
    dan saya pun akan tetap bangga dengan Bandung-ku

  5. ngawi,
    rumahnya dewi suryanti ada di sana
    rumahnya dimas taha maulana di sana
    rumahnya fakhria itmainati di sana
    rumahnya hendra bagus satriadiningrat juga disana

  6. mang bener kok!!!
    bagaimanapun keadaan Ngawi tercinta,
    Selalu ada kerinduan bila jauh darinya.
    eh gak nyambung ya???? he…he…he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s