Jatuh Cinta

Haduh.. haduwh.. salah judul nampaknya!, gapapa deh, kali aja ada orang yang lagi jatuh cinta trus nge-googling (ada gitu?) dan mendapat pencerahan di sini (hoho, amiiiinnnn), atau malah protes-protes abis baca tulisan ini, atau yang lagi nyari topik TA atau skripsi mungkin? Atau topik buat PKM? hehehe terserah deh mau apa. Pokoknya aku mau nulis! Hihi..

Entahlah, kadang aku juga bingung dengan tulisan-tulisanku,, sejujurnya pengen curhat tapi pengennya yang ilmiah, haha, dudul..

Ide dan beberapa gagasan dari tulisan ini aku dapat dari buku “Ya Allah, Aku Jatuh Cinta”. Katanya, berdasarkan penelitian, ada sebuah senyawa yang diinisiasi dalam tubuh manusia saat seseorang itu jatuh cinta. senyawa ini bisa menjadi salah satu faktor dalam keharmonisan rumah tangga dan kebahagiaan hidup. salah satu senyawanya adalah phenilethylamine. senyawa yang lain adalah “hormon-hormon kebahagiaan” yang bertanggung jawab atas segala kejungkirbalikan manusia ketika falling in love yaitu :

  • Pheromones      : bikin naksir seseorang, bikin ngelamunn.. dan membayangkan dia terus
  • Oxytocin              : bikin kangennn, pengen liat orangnya bentar ajah—liat doang beberapa detik
  • Vasopressin       : bikin setia, “you know you are the only one..
  • Norepinephrine       : bikin semangat, hepi, ceria, bahagia, pengen senyum terus, jadi makin cantik

Oke, kembali ke phenilethylamine—berdasarkan sebuah penelitian juga, ternyata hormon ini hanya bertahan efektif 2-3 tahun sejak jatuh cinta. Padahal berkat hormone inilah seorang manusia bisa kesengsem, deg-degan, bahagia,  dan beberapa gejala lain yang menimpa seseorang yang falling in love.

Boleh saja tidak percaya tentang faktor hormonal dalam cinta namun ada hipotesa yang berpendapat bahwa keadaan “emosian” (emosi yang berlebihan) misalnya pada seorang wanita menstruasi seringkali disebabkan oleh faktor hormonal, maka keadaan emosional seperti  keaadan jatuh cinta—berikut gejala-gejalanya pun bisa jadi disebabkan oleh hormon tertentu. Artinya kalau hipotesa ini benar, maka cinta itu bukan sesuatu yang abadi! Oh Noooooo!!!!! *teriak histerisss

Memang saya tidak terlalu percaya pada hipotesa itu, kemungkinan besar hipotesa tersebut hanya berlaku pada hewan atau pada uji reaksi kimia in vitro. Artinya, dengan mempelajari hormon-hormon tersebut, kita bisa memprediksikan usia dan mekanisme jatuh cinta pada hewan atau pada reaksi kimia in vitro (di luar tubuh manusia) saja. Sedangkan dalam ilmu farmakologi, “dogma” yang diajarkan profesor Andre adalah : tubuh manusia itu bukan tabung reaksi, responnya terhadap obat bisa jadi berbeda dengan reaksi dalam tabung reaksi. Itu masalah obat, apalagi dalam kehidupan, cinta lagi! Adalah pasti banyak sekali faktor yang terlibat dalam kejatuhcintaan seseorang, bukan hanya semikroliter hormon.

Namun lagi-lagi, hampir 3 tahun belajar farmasi di Sekolah Farmasi ITB membuatku belajar bahwa salah satu pendekatan logis untuk memprediksi kerja obat, efek toksik, efek farmakologi, farmakokinetika, dan  farmakodinamika dalam tubuh manusia adalah dengan pengujian reaksi kimia (in-vitro) dan pengujian pra-klinis. Maka tidak ada salahnya berpikir logis ketika kita sedang jatuh cinta. (gak segitu-gitunya juga sih.. hehe)

Maaf berbelit-belit, hehe, jadi begini. Ketika kita jatuh cinta, maka phenilethylamine akan terinisiasi sehingga menimbulkan efek-efek “syalala bertaburan bunga-bunga”—inget film Laskar Pelangi; dan senyawa kimia tersebut jika dieksploitasi terus menerus akan menipis, dan semakin “kebal” dengan pemicu-pemicunya, begitu selama hampir 4 tahun. Konon, setelah seseorang menikah hormon ini akan bertahan 4 tahun setelah pernikahan, dan ketika keluarga itu masih harmonis, meskipun phenilethylamine menipis, hal itu lebih disebabkan karena kehadiran seorang anak. Mungkin inilah salah satu bentuk faktor cinta yang lain, yang saya maksud.

Kalau orang sedang jatuh cinta, tentu saja tak ingin percaya dengan hipotesa phenilethylamine tersebut—artinya percaya bahwa cinta hanya bertahan 4 tahun. Males banget dong! Mencintai seorang pangeran cuma 4 tahun??!!. Begitupun aku, lebih percaya pada hipotesa lain yaitu: cinta itu mengikuti hukum termodinamika pertama.*Gini-gini kan aku juga mahasiswa ITeBeh, hihi sok-sok’an. Intinya itu hukum yang menyebutkan bahwa energi itu kekal, tidak hilang namun hanya berubah ke bentuk lain. Nah Cinta itu adalah Energi, maka sesungguhnya cinta itu tidak akan hilang karena kadar phenilethylamine yang menurun, tapi akan berubah ke bentuk cinta lain dengan adanya faktor lain. Sehingga cinta tetaplah cinta, tapi hanya bentuknya yang berbeda. Energi banget kan?

Dan tahukah kamu bahwa pentransformasi energi cinta itu adalah pernikahan. Sungguh.

Kejatuhcintaan sebelum pernikahan adalah mempersiapkan diri menuju pernikahan yang berkah, dan kejatuhcintaan setelah pernikahan selanjutnya adalah mencintainya dengan sesungguhnya.

Hipotesa inilah yang-menurutku , mendukung keharmonisan keluarga yang bahagia selama-lamanya.

** sesungguhnya gosip adalah doa, hehehe. Insya Allah aku akan menikah saat umurku 21 tahun. amin

 

4 responses to “Jatuh Cinta

  1. Assalam Mbak..
    saya suka blognya.
    walaupun di 21 tahun ini belom menikah, tapi sekarang mbak udah di Jepang.
    Semoga dimudahkan juga ya Mbak cita-cita untuk menikahnya. :)

  2. yup. pokoke fakh harus ngasi udgn ya. aku mau datang sama bala kurawa he..he.. (tenang tidak akan bikin kekacauan kok. paling cuma menghabiskan makanan aja. he..he..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s