Selama Ini Kukira Marketing Hanyalah Pekerjaan Salesman yang Ngetok-Ngetok Pintu, Ternyata..

Mengikuti bujukan Laras hari ini benar-benar tak pernah membuatku menyesal, bahkan mungkin akan menjadi life changing moment dalam sejarah hidupku sejak hari ini, 6 Januari 2010. Thanks ya Ras,(ngelirik kucing di samping) .Biasanya setiap Rabu seusai kelas Topic on Japan aku langsung berlari (Yup! Benar-benar berlari atau aku akan ketinggalan lunch dan sholat dhuhur) mengejar kereta express menuju Suzukakedai Campus untuk kuliah Developmental Biology and Desease. Kabar baiknya adalah kemaren pak dosen yang gaul abis itu mengirim email bahwa kuliahnya hari ini libur. Yess!, tentu saja seusai kelas aku tak langsung berlari ke stasiun, namun berjalan dengan anggun menuju shokudo, kangen misoshiro , the most delicious Japanese soup ever. Hehe.

Sambil menikmati mishoshiro yang lama kurindukan gara-gara winter vacation itu, mendengarkan rayuan Laras mulai menarik rasanya. Tadinya aku heran, kenapa dia rela mengorbankan bolos kelas Nihongo hari ini, padahal kayaknya semalem dia belajar Nihongo ampe dini hari. Dan akhirnya, terbujuklah aku.

Singkat cerita, sampailah aku ke kantor KBRI di Meguro, rada aneh rasanya ketemu satpam Jepang yang fasih bilang terima kasih, masuk lift, ketemu orang-orang berbahasa Jawa, walah.. feels like my home bgt di KBRI. Isa dan Laras sudah masuk ruangan duluan, aku harus mampir ke kantor pos dulu, namun keterlambatanku ini (telat 2 menit) ternyata mengantarkanku pada kursi depan, dekat banget dengan pembicara, hehehe, senang! Hati nuraniku mengatakan, aku akan mendapat banyak pelajaran dari sini!

Aku teringat dengan cita-cita sampinganku, selain jadi dosen dan researcher, aku ingin punya Restoran Sehat. Restoran yang khusus menyediakan menu-menu sehat dan menu terapi untuk penderita diabetes, gagal ginjal, penyakit jantung, etc. Tak lain sebabnya karena aku suka memasak, dan aku anak farmasi. Maka kukira cita-cita itu cukup relevan untuk mempertahankan jati diriku di bidang kesehatan, karena selama ini aku memang lebih menyukai pharmacy yang research oriented daripada health service oriented. Aniway, jadinya aku rasa seminar ini akan mengajarkanku bagaimana cara menyuruh salesman ngetok-ngetok pintu menawarkan barang, atau mengajariku cara jualan yang benar. Namun ternyata, yang aku dapatkan sama sekali berbeda! Terima kasih Pak Hermawan Kartajaya (The Best Indonesian Marketing Expert).

Ternyata marketing itu menyangkut segala hal, termasuk marketing-nya pak polisi agar penduduk Indonesia mau mengurus SIM dan STNK. Termasuk dalam risetku juga mungkin. Dalam marketing selalu ada 4C wajib yaitu Company, Competitor, Customer, dan Change. Baiklah, dalam Restoran Impianku tadi misalnya. Restoran fafa adalah Company, Restoran lain seperti Restoran Padang, Restoran Jepang, Restoran China, etc adalah competitor, Para penderita penyakit diabetes, gagal ginjal, penyakit jantung, dan orang-orang yang ingin menjaga kesehatan adalah Customer, dan Change adalah perubahan-perubahan yang bisa fafa lakukan untuk menjalankan Restoran itu dengan sukses. Selama ada keunikan dalam restoran ini, aku rasa peluang untuk menjadi  Champion akan semakin besar.

Kemudian Pak hermawan juga bercerita tentang buku terbarunya yang akan terbit, tentang strategi marketing 3.0 dimana strategi marketing ini lebih menitikberatkan pada kejujuran, humanity, dan segala hal yang “horizontal value”. Beliau, yang non-muslim, bilang bahwa strategi ini adalah strategi marketingnya Nabi Muhammad yang pandai bermarketing dengan modal Al Amin. Beliau bilang, perusahaan-perusahaan di dunia ini semakin lama akan berkembang ke arah Marketing 3.0.

Strategi Marketing 1.0 ke arah Satisfaction, Profitability, dan Be Better.

Strategi Marketing 2.0 ke arah Aspiration, Returnability, dan Differentiate

Strategi Marketing 3.0 ke arah Compassion, Sustainability, dan Make a Difference.

Hehe, aku tidak bisa menjelaskan banyak. Anyway, hari ini aku sangat beruntung. Karena pelajaran marketing pertama dalam hidupku aku terima dari seorang ahli Marketing Kelas Dunia.

Contoh perusahaan yang menerapkan Marketing 3.0 ini adalah body shop, perusahaan kosmetik terkenal. Pak hermawan telah bertemu dengan foundernya dan bertanya, “Are you businessman or activist? ”, dan founder body shop itu menjawab “That’s not relevant question, I am totally 100% businessman and 100% activist”. Karena memang Body Shop ini tak hanya memproduksi kosmetik namun juga sebagai Non-Government Organization yang peduli dengan rakyat miskin. Maka berbicara Marketing 3.0 adalah berbicara tentang hati nurani dalam berbisnis. Ini bukan hal CSR (Corporate social Responsibility) yang dialokasikan beberapa persen dari perusahaan, sama sekali bukan, tapi kepedulian kemanusiaan yang 100%. Industri kosmetik ini memang patut diacungi jempol.

Diam-diam aku teringat obrolan dengan teman-teman cewe farmasi ITB, (hwaa..kangen ngerumpi sama kalian.. ) yang belajar foods, drugs, and cosmetics. “kalo ntar kerja, enaknya kerja dimana ya?”, “di perusahaan kosmetik dong, soalnya efek sampingnya jadi makin cantik, update terus masalah mode & fashion, dapet kosmetik gratisan lagi!, Lha kalo di perusahaan obat, efek sampingnya keracunan, kemungkinan mandul juga, hwaa.. ngeri..”. Hehe, Lebay dan Garing.

Pun obrolan itu ada benarnya juga. Bahkan Pak Hermawan dan para ahli Marketing dunia sepakat bahwa strategi marketing Pharmaceutical Company itu “mbujuk (bohong, jawa-red). Dan memang seperti itu sih yang ku dengar saat aku masih kuliah farmasi dulu (dulu?), meskipun aku yakin masih ada dan terus ada seorang farmasis sejati, baik hati, dan berhati nurani di masa depan nanti. (Aku dong?!). Namun perusahan farmasi memang sangat rawan strategi marketing yang ga pake hati. Aku mengetahuinya dari cerita kakak kelasku bernama Ka Galih, Salah satu entrepreneur farmasi yang sukses, menurutku. Dari blog-nya aku tahu bahwa dalam penjualan obat, dituntut “kerjasama yang baik” antara industri farmasi dan dokter. Karena pasien hanya akan membeli obat yang diresepkan dokter, maka consumer industri farmasi bukanlah pasien melainkan dokter. Lantas perusahaan farmasi menyuplai beasiswa kedokteran yang mahal, membiayai tour dan Haji untuk para dokter, dan strategi-strategi lain (yang menghalalkan segala cara) yang lebih memprioritaskan terbujuknya dokter agar meresepkan obat dari industri tersebut. Maka siapakah yang harus disalahkan jika seorang dokter menangani pasien kritis namun sangat miskin, lalu meresepkan obat-obat yang mahal (yang diproduksi oleh perusahaan farmasi yang membiayai studi kedokterannya yang mahal), padahal ada obat-obat lain yang kandungan zat aktifnya sama namun lebih murah???. Mungkin itu sebabnya perusahaan farmasi Indonesia tidak pernah sehebat perusahaan farmasi di negara maju, karena budget yang diperoleh dihambur-hamburkan untuk marketing “mbujuk” dokter daripada untuk biaya riset. Jadi salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen Gue? (hehe,kata-kata dalam film AADC)

Hehe, Entahlah, itu konspirasi atau strategi. Aku ga ikut-ikutan ah. Tapi pak Hermawan dan para pakar marketing dunia pun sepakat bahwa jenis marketing yang seperti itu tidak sesuai dengan strategi marketing 3.0 dan tidak belum pernah memasukkan profil Pharmaceutial Company sebagai profil marketing company yang patut dicontoh. Karena marketing 3.0 adalah marketing yang menjunjung tinggi humanity and human right. Strategi marketing yang tak hanya berkutat pada profitability, namun juga compassion terhadap orang-orang miskin, orang-orang tak berdaya, pasien-pasien miskin yang tak tau apa-apa tentang obat, balita-balita yang tak berdosa, dan segala hal yang membuat hati nurani manusia berempati padanya.

Kemudian, aku pun berjanji dalam hati untuk menjadi pharmacist yang baik-baik , yang bermanfaat sebesar-besarnya untuk umat manusia. Dan saat ini aku pun mulai besemangat kembali, mengumpulkan mimpi-mimpi masa kecilku. Termasuk Restoran Sehat impianku itu! Bismillah, Yosh, Ganbarouu!!

17 responses to “Selama Ini Kukira Marketing Hanyalah Pekerjaan Salesman yang Ngetok-Ngetok Pintu, Ternyata..

  1. Btw Fakhria, sebenarnya dosen- dosen kita juga tahu kok, dari dulu…Kan yang punya perusahaan farmasi alumni ITB juga, didikan mereka juga. Coba tanyakan ke Pak Emran, Bu Jessie, atau Pak Sundani, wuiih ceritanya bakalan lebih canggih lagi soal cara- cara industri farmasi di Indonesia jualan produknya.

    Btw, sebenarnya saya heran, kalau di cerita atau film Hollywood, penjahat besar biasanya orang farmasi lho, kok kalian malah sikapnya kayak dokter ya ? Hmm, padahal dulu kebayangnya farmasi itu pasti cowok semua dan bregajulan, makanya jadi pilihan kedua, eh tahunya…Ehehehe…Ah sudahlah…

  2. oiyaaa….

    aku belajar nihongo soalnya menebus kelas sebelumnya pas kita ke chisetsu.

    ternyata hari ini bolos lagi…. mwahahahhaha

  3. Suka, suka, suka!
    Kalo Fafa beruntung ikut seminar itu, aku beruntung baca blognya Fafa. Inspiring!
    Oh ya, aku dukung Fa dirikan resto sehatnya, kalo Fafa suka masak, aku suka sangat makan (weeh, kita cocok, ehehee.. :D)

  4. Strategi marketing yang tak hanya berkutat pada profitability, namun juga compassion terhadap orang-orang miskin, orang-orang tak berdaya, pasien-pasien miskin yang tak tau apa-apa tentang obat, balita-balita yang tak berdosa, dan segala hal yang membuat hati nurani manusia berempati padanya.

    /wah aku baru tahu. tfs
    semangat Kak/

    oia salam ukhuwah dari selatan jakarta

    • yup, itu pelajaran dari pak hermawan, itu bakalan dibahas abis di buku barunya (katanya), yang mau terbit dan diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia..

      yup, salam kenal juga

  5. Thanks yaa buat tulisannya..menginspirasi! :)
    I’m a pharmacist too.. dan jadi mau berbuat yg terbaik buat bangsa yg kucinta ini… hehehe by the way salam kenal yaa.. :)

  6. Pingback: Habis ngisi Study Tracer ITB | I Love My Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s