Bukan tentang “Wasabi”, tapi tentang “What you wanna be?”

It was like “You can’t force yourself to like ‘wasabi’ “, just realize who you are, be your self and choose your own future that fits it. *status fesbuk fafa 10 April 2010

Suatu cita-cita memang tak bisa dipaksakan, mana yang paling sesuai dengan hati nurani mu, maka ikutilah. Impian muncul dari hati nurani tanpa dipaksakan, sama halnya kita tak bisa dipaksa untuk makan “wasabi” kalau memang tidak suka (wasabi = sejenis sambel ala jepang yang rasa pedasnya aneh menurutku), tetap saja aku, dari hati nurani-ku lebih menyukai “sambel terasi” dari ‘layah’ dan ‘uleg-uleg’ di Ngawi, seperti yang dibuatkan ibuku. Hihi. *jadi laper

Ketika aku kembali mengingat cita-citaku sebagai seorang dosen dan peneliti yang hebat, kala itu mungkin masih sesuai dengan hati nurani-ku saat itu, namun sekarang nampaknya sedikit akan dibelokkan (bukan berarti berubah). Kadang terlintas bahwa itu adalah cita-cita yang “nyaman” banget, meskipun tantangan pasti akan ada, kontribusi pun pasti ada, namun pertanyaan yang muncul sekarang adalah : sebesar apa kontribusi yang terlahir dari cita-cita itu?

senyum manis gadis kecil di kampungku, dan pemandangan di belakang rumahku

Seminar tentang Social Entrepreneurship oleh Bill Drayton dan David Green di Tokyo Tech, 2 hari sebelum ulangtahunku yang ke 21 tahun itu, agaknya menarik cita-citaku untuk menjadi seorang social edupreneurship. Pun aku masih ingin kuliah sampai PhD, namun yang pasti : Aku ingin punya foundation untuk membiayai sekolah, dan sekaligus mensuplai bimbingan belajar intensif untuk anak-anak miskin di desaku. Sederhana.  Bismillah, aku sangat yakin pasti aku bisa.

Kala itu kakek Bill Drayton bercerita tentang Fabio Rosa, yang berhasil mendirikan bisnis listrik sekaligus mensuplai listrik untuk orang-orang miskin di Brazil yang tak mampu membeli listrik namum mampu menyewa panel sel surya. Ya! Listrik itu berasal dari energi matahari. Pak Fabio menciptakan panel surya yang “user friendly” untuk desa tersebut dan akhirnya desa di Brazil itu maju pesat berkat adanya energi listrik, yang salah satunya digunakan untuk system pengairan sawah dan ladang di daerah tersebut.

Selain itu, ada juga kisah social innovasi dari Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian tahun 2006, yangberhasil mengentaskan kemiskinan di Bangladesh melalui penjaman mikrokredit dari Grameen Bank. Muhammad Yunus, sang pendiri Grameen Bank itu yakin, kemiskinan sebenarnya bukan karena mereka ingin miskin, tapi karena system yang tak mendukungnya untuk bekerja, system yang tak mau memberikan pinjaman modal bagi orang-orang miskin, berangkat dari situ lah, pak Yunus ini memulai bisnis bank sekaligus gerakan social pengentasan kemiskinan. Jutaan warga Banglades berterima kasih padanya, kehidupan mereka membaik, dan usaha-usaha mandiri pun bermunculan, berkat pinjaman modal dari Grameen Bank.

Orang yang sempat memberikan kartu namanya padaku dan bilang “please email me, and maybe I can suggest you how to start your social entreprise” adalah David Green, seorang social entrepreneur dari Amerika yang mendedikasikan dirinya untuk membangun hibridisasi antara bisnis kesehatan dengan aktivitas sosial, yaitu dengan mendirikan rumah sakit yang memberikan pelayanan oprasi mata bagi para penderita katarak yang miskin di Nepal. Salah satu strategi nya adalah dengan memperpendek distribusi produksi alat-alat bedah sedemikian hingga mengurangi biaya produksi, dan akhirnya dikontribusikan untuk pelayanan gratis yang tetap berteknologi tinggi. Kini David Green semakin memperluas hybrid social-bussiness nya tak hanya untuk menyelamatkan pasien-pasien katarak miskin yang nyaris buta, namun juga untuk menjawab tantangan dunia kesehatan akan AIDS.

Seorang mahasiswa Todai (University of Tokyo), yang duduk di barisan depan, (hihi, aku kebagian duduk di belakang gara-gara telat, *mental ngaretnya orang Indonesia, kapok!, ga lagi-lagi deh), bertanya dengan menggebu-gebu “Saya seorang mahasiswa, dan saya tentu saja sangat tertarik dengan ide social entrepreneur ini, saya pengen banget membantu orang miskin, saya pengen banget menolong orang-orang menderita, tapi saya nggak tau harus ngapain?? ”. Bill Drayton pun, lantas tersenyum dengan pertanyaan itu, aku? Tentu saja ketawa dalam hati , pertanyaannya mahasiswa banget, sama banget kayak aku, menggebu-gebu tapi ngga tau harus ngapain. Hehe.

Jawaban beliau sangat bijak, kami disuruh belajar, kuliah yang bener, “mastering your field is important!”, dan sekaligus belajar peka terhadap  lingkungan sekitar (Mungkin “lingkungan” yang dimaksud tak ada di tempat senyaman Tokyo, salah satu pembicara bahkan merekomendasikan agar pemerintah Jepang mengirim para calon Japanese social entrepreneur itu ke daerah-daerah pelosok di Indonesia misalnya, *buseet..dalam hatiku, negaraku disebut! wooi ada anak Indonesia di sini loh), menemukan masalah apa yang ada? Bagaimana cara kita menyelesaikannya? Solusi apa yang akan kita rancang? Setelah ide itu terbulatkan, saatnya bergerak, membangun tim, dan mendirikan “proyek perubahan” tersebut. Menemukan momen yang tepat untuk bergerak adalah hal yang penting.

Untuk berinovasi menjadi seorang Changemaker pun bisa dilakukan sesuai kreativitas masing-masing. Alkisah seorang remaja yang ingin menyelamatkan teman-temannya yang tak mampu bersekolah, namun justru terjerumus dalam aktifitas berbahaya seperti merokok, minum minuman keras, dan narkoba. Lantas sang remaja itu pun mendirikan Klub Bola. Klub itu akhirnya menjuarai banyak kompetisi, dan melahirkan cita-cita baru bagi para rekannya yang tak bersekolah itu, untuk menjadi pemain bola terbaik di negrinya. Inovasi sederhana yang menginspirasi.

Membuat “proyek perubahan” adalah membuat langkah-langkah kecil untuk menyelesaikan permasalahan sosial dengan cara yang sesuai hati nurani kita, dengan cara yang sesuai dengan kesukaan kita, dengan cara yang “gue banget” yang tak bisa dipaksakan. Inilah apa yang dimaksud “Think Globally, Act Locally”, selamanya seorang pemuda seperti kita akn selalu terobsesi dengan suatu proses perbaikan dunia, sesuatu yang membuat dunia ini terasa adil dan nyaman untuk semua orang, dan yang perlu kita lakukan adalah “act locally, by your own way”.

Maka tak ada salahnya jika aku pun ingin berkontribusi untuk orang-orang miskin di daerahku, mengajarkan mereka cara mambaca dan belajar agar dapat mendapatkan “tiket masa depan cerah” bernama pendidikan. Adalah hal yang mustahil mungkin, saat ini, karena aku nyaris tak punya modal apa-apa untuk membangun ”proyek perubahan” itu, yang aku punya sekarang baru sebuah mimpi, tanpa modal dan tanpa janji-janji. Tapi bukankah semuanya berawal dari mimpi? Yang selanjutnya adalah kesetiaan mengejar mimpi itu, hingga tanpa kau sadari, impianmu telah terwujud suatu saat nanti.

13 responses to “Bukan tentang “Wasabi”, tapi tentang “What you wanna be?”

  1. wew…jadi apa rencana Anda selanjutnya…?nampak sudah menemukan the truth dream… =)
    apapun itu, tetap semangat…dan jadilah katak yang tuli…

    *btw, kembali ke theme awal nih…*

  2. subhaanallah.
    betul kali fa. saya jadi semangat lagi merangkai “narasi besar” dan “mimpi besar” seorang warga dunia. setelah berlama2 bingung dengan mimpi yang dirasa terlalu besar…
    untung saja masih ingat, bahwa kuasa Tuhan kita jauh lebih besar…
    success!!!

  3. itu fotonya fafah waktu kecil tebakanku, is it right??

    hehhh, parah beut tu dosen, ngomongnya nusuk banget, kyk indonesia apa aja (padahal emang bener..)

  4. Ass wr wb
    Dear Fakhria,… it’s nice blog.. remind me about the time I was in Japan… (10 years ago hmm…). jadi kangen balik lagi ke Nihon…
    Thanks udah link-kan blog-ku di sini ya….
    Keep good work deh….
    sukses selalu

    Zullies Ikawati

  5. Assalamu’alaikum,
    salam kenal fakhria…
    saya dapat blognya dari eramuslim. subhanallah…ternyata cita2nya jadi mirip bu muslimah di laskar pelangi ya..
    insya Allah itu baik. semoga Allah mangabulkannya..amiin.
    kembali luruskan niat aja. semoga Allah berikan kemudahan dunia akhirat.
    good luck!!!
    Wassalamu’alaikm..

  6. sugoi ne, makasi ‘suntikan inspirasinya’ fa
    kebanyakan postingan n intensitas menulis blogger berubah setelah menikah.
    Jika suatu saat terjadi, maka semoga berubah menjadi lebih baik karena dah mulai kangen langganan postingannya fafa nih :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s