Si Fafa Pergi Mengaji

Adalah tak ada gunanya mengeluh tentang cuaca, Kawan. Tahukah kamu, kemarin siang, di tengah-tengah kabupaten Suzukakedai yang terik, lepas mengurus sel-sel punca di laboratorium, aku hendak melaju ke rumah seorang kawan, mengaji.

Nah, berjalan setengah berlari di tengah tiga puluh dua derajat selsius! Ditambah dengan humiditas yang tinggi,beginilah yang dinamakan musim panas—kata orang, bagi seorang gadis lugu berjilbab sepertiku ini bukan main panasnya. Aku mengikuti arah yang ditunjukkan google map menuju tempat mengaji, ya, jaman sekarang semua tempat bisa ketahuan dengan google map, kecuali Ngawi (mungkin), desa tempatku dilahirkan.

Tiba di spot terakhir yang ditunjuk google map, masih terbakar tiga puluh dua derajat selsius, keringat di baju bagai air merembes ke seluruh baju cucian, aku menelfon beberapa teman mengaji yang kuduga datang,tak diangkat! Berkali-kali hingga basah sudah bajuku oleh keringat, tak diangkat juga! Akhirnya aku menelfon temanku yang kuduga akan menjadi ustadzah hari ini. Karena tak banyak ustadzah di negeri sakura ini, kelompok mentoring kami menganugerahkan panggilan ustadzah bagi penyaji materi, yang memberikan tausyiah berdasarkan metode penelitian, biasa, mahasiswa : bertanya pada google, mencari dalil yang tepat, menganalisis berdasarkan beberapa referensi, beres. “Tuuut… tuuuut..” , Klek! . Hah? Dimatikan! Kuduga pengajian memang telah dimulai, dan dia sedang berceramah, namun sms datang dan membuat rasa gerah terbanjiri peluhku mendadak menjadi tawa konyol :

“Sori fa, lagi b*ker di WC … telfon yang laen coba..deh..”.

Gubrakk!!

Ada-ada saja ni anak, batinku. kok bisa-bisanya bikin emosiku terhadap cuaca Jepang yang sangat panas mendadak meleleh terkonversi menjadi tawa terbahak-bahak yang tertahan.

Pun makin basahlah bajuku oleh keringat, pori-pori di permukaan kulit bagai kain basah yang diperas.. perih dan panas. Bau? enggak dong, Jepang punya produk tisu-powder-basah-wangi (di kampungku tak ada benda beginian), sekali usapkan saja ke keringat, wanginya enak.

Haus mengeringlah aku. Kuteguk air mineralku yang ternyata telah menghangat direbus radiasi surya, tak menyegarkan tentu.

Singkat cerita, akhirnya ada rekan yang keluar rumah, melihatku kering terpanggang matahari, kasihan menatapku lama. Lantas baru sadarlah dia bahwa aku tengah menunggu seseorang menunjukkan tempat mengaji yang benar. Kemudian mengajilah kami di bawah naungan mesin pendingin yang sejuk. Surga! Teriakku dalam hati.

Tahukah kamu, Kawan, apa yang membuatku tersejukkan kembali sesungguhnya? Memang teknologi pendingin udara telah mengatasi segala panasnya cuaca, atau pun hidangan es buah menyegarkan sahara tenggorokan, namun kesejukan yang tak terkatakan itu bernama cinta. Ketika kau telah jatuh cinta pada anggunnya kain kerudung yang kau pakai, maka tersejukkanlah cuaca panas yang memanggang. Bukankah pengorbanan adalah harga cinta yang paling bermakna? Maka berpanas-panas dengan kain kerudung ini sungguh pun adalah pengorbanan yang disaksikan. Dan yakin saja, Yang Menyaksikanmu itu telah menyiapkan es krim terlezat di surga nanti :)

10 responses to “Si Fafa Pergi Mengaji

  1. Woaaa, lama tak mampir, kangen blognya Fafa, hehehe

    Hehehe, lucu ni crita, but so meaningful.
    Fafa…I like u dah! (“,)

  2. Hai…I’m Panji’s sister…me afarmasist to ( sampun Apoteker).
    I like u’r blog, sis….Yes, u’r right…mengaji make u a better world

  3. Pingback: Cara Ayah Mengenalkan Allah Padaku | I Love My Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s