Kau, Aku, dan Kampus Kita

Kalau saja boleh mengeluh, kalau dipikir-pikir praktikum fitokim memang melelahkan. Oke, Judulnya saja isolasi Myristicin dari Myristica fragrans, tapi kau boleh mengejanya sebagai “bikin jamu biji pala”, dengan segala pelarut organik yang toksik dan karsinogenik yang sengaja-tak sengaja tetap terhirup selama 4 jam. Maka sholat ashar selepasnya menjadi momen paling menyejukkan sehabis praktikum. Untungnya kita tak boleh banyak-banyak mengeluh, bicara tentang minyak itu, minyak atsiri maksudnya, bukankah selama ini minyak-minyak itu yang diburu penjajah selama ratusan tahun untuk menghangatkan populasi Eropa? Tak ada salahnya bukan, belajar mengekstraksi kekayaan alam Indonesia ini?

Suasana ashar pun masih dibayangi pernik-pernik fitokim, “aduuh masih bingung ni pelarut ekstraksinya apa”, atau “tes awal gue tadi parah banget!”, atau “aah, akhirnya beres..” kelegaan menyelimuti tahmid-tahmid yang terkalimatkan para jamaah di mushola farmasi-elektro sore itu. Aku tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa memasang sepatu hari itu adalah saat yang begitu aneh, sepanjang hari, sungguh. Kau tahu kenapa? ada sepasang mata di ujung sana menatapku, memakai sepatu. Dan sepanjang sejarah pemakaian sepatuku selama lima belas tahun terakhir (anggap umur 5 tahun adalah pemakaian sepatuku yang pertama), kali ini adalah pemakaian sepatuku yang paling sulit, grogi sungguh! Padahal sepatuku tak bertali!

Oh Tuhanku.. Sungguh, begini ya ternyata rasanya punya cowo?

Groginya setengah mati. Tiba-tiba saja tatapan mata elang-nya sanggup melenyapkan gedung farmasi di sebelah kiriku, gedung GKU Timur di belakangnya, dan keributan mahasiswa-mahasiswi di depan mushola tinggallah senyap. Semuanya lenyap mirip di sinetron. Hanya ada dia, pemuda bercelana jins berkaos putih dan jaket biru tua—yang tersenyum sangat manis, dan aku—yang  masih grogi membenarkan sepatu yang sudah benar. Kalau kupakai stetoskop saat itu, aku jamin detak jantungku mirip-mirip bunyi gempa. Bergemuruh tak karuan. Sungguh mempesona menjumpainya di sini.

Kami pun berjalan pulang bersama ke arah Kanopi Teknik Lingkungan, dalam senyum malu-malu, tak peduli lah aku anak-anak farmasi itu bilang apa. Setiap detik terlewati begitu senang, lupa sudah bau asam sulfat pekat dan uap eter di lab tadi, tergantikan wangi ‘Axe’-nya dia yang samar-samar tercium olehku. Mendebarkan tau!

Astaga! Rasanya dari mushola farmasi-elektro ke gerbang Ganesha kok jauhnya minta ampun! Dan kami tetap tak banyak mengobrol, banyak senyum-senyumnya, salah tingkah. Tepat di depan Jam Gerbang Ganesha itu, dia bilang “aku boleh pegang tangan kamu nggak?”

Jleg. Nafasku terhenti. Spontan langsung aku jawab cepat “NGGAK!”, sedetik kemudian, aku tersadar, astaga, dia kan pangeranku, kenapa ga boleh coba? Kulirik dia di sampingku takut-takut kalu dia sakit hati, ternyata tidak, senyumnya masih cool—dan aku suka gayanya. “Ya udah”, dia bilang. Agaknya kegrogianku telah terdeteksi olehnya. Fuuh.. merahlah mukaku.

Sreeeeeeett…,aaaaaahh!! ,tanpa sadar tubuhku telah diseret dan didekapnya dari samping. Ya Ampun! Ada mbak-mbak naek sepeda hampir menabrakku, ngebut menuju arah parkir Sipil. Maka jantungku semakin bergetar hebat, dan mukaku udah ga karuan merahnya. “Awas Fa!!” itu kata-kata dia yang terakhir kudengar, lalu menyeretku—menuju ke arahnya hingga konsentrasi aerosol ‘axe’ makin tercium tajam olehku. Wangi. Tubuhnya tak terlalu kekar memang, tapi cukup membuatku aman. Si mbak-mbak yang ngebut tadi nampak menengok, kukira mau minta maaf, eh malah cekikikan melihat kami beginian selama dua detik dekat Aula Barat. Huaaaaahh.. kukira saat paling mendebarkan di ITB adalah pas ada ancaman DO pas aku iseng ikutan OSKM tahun 2006 lalu, sekarang 2010, dan Gerbang Ganesha tetap saja menjadi saksi berdebarnya jantungku saat itu. Debaran indah yang hanya orang-orang jatuh cinta saja yang mampu merasakannya. Hehe.

11 responses to “Kau, Aku, dan Kampus Kita

  1. ahahaha…romantisme anak muda.. :) suit, suit..
    tapi romantisku kayaknya dalam bentuk yang berbeda, can you feel it…?? :)

  2. Halo,

    Salam kenal. Kami suka dengan tema tulisan kamu tentang pengalaman kamu di ITB.

    Begini, LPM ITB sedang membuat situs antarmuka untuk menjembatani mahasiswa- alumni ITB, dengan siswa SMU dari seluruh Indonesia, yang berminat ke ITB, untuk bisa bertukar informasi. Tujuannya, adalah untuk mengurangi kasus “salah pilih jurusan” sebelum memutuskan masuk ke ITB, juga membuat siswa SMU mengenal lebih dekat kehidupan mahasiswa ITB, dengan harapan, mereka bisa mengoptimalkan waktu belajarnya di kampus.

    Kami berusaha untuk mengurangi bias informasi seputar jurusan di ITB, bagi siswa SMU, sehingga mereka punya spektrum yang luas dan berimbang seputar disiplin jurusan, bahkan aktivitas mahasiswa ITB.

    Kalau Kamu bersedia, silakan berkunjung, berdiskusi, berbagi, dan jangan lupa untuk menjawab keingintahuan siswa- siswa SMU dari seluruh Indonesia, tentang ITB.

    Oh iya, tulisan ini juga bisa lho, kalau mau diposting .

    Regards,

    Layanan Produksi Multimedia ITB
    http://www.masukitb.com
    http://multimedia.itb.ac.id

  3. iya kak benar judulnya begini ya rasanya punya suami
    nice post kak!
    smoga saya cepat menyusul. amin
    hehehehe

    *tahmid-tahmid di elektro ngmongin tes awal ya kak?*

  4. Fakh………………wah…jatuh cinta nie ye………ngebayanginnya aja aq ketawa. Tp kan skrg dah lega to kan dah nikah. Maaf ya aq ga dateng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s