Karena Melakukan Hal yang Kita Sukai itu Menyenangkan

Tokyo kala itu, tengah malam, kereta terakhir jurusan Shibuya. Di sampingku adalah abang-abang PhD yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan tempat tinggalku. Sama saja, kau tak akan bisa membedakan abang-abang Jepang itu apakah mereka sedang mengantuk atau sedang seratus persen terjaga, karena mata mereka tak seperti mataku, mata gadis jawa yang tampak sekali jika telah mencapai 5 watt. Menyipit-nyipit dan berkedip lambat. Ngantuk.

Kami habis dari Lab, ngapain coba? Latihan presentasi, aku presenternya dan mereka layaknya dosen penguji, bertanya pertanyaan-pertanyaan ga penting tapi susahnya amit-amit. Dan entah darimana mulainya, diskusi dengan mereka tiba-tiba bisa menjadi topik yang sangat menarik, hingga kalau saja tak ada kereta terakhir yang harus kami kejar untuk pulang, maka diskusi itu mungkin akan berlanjut hingga esok-esoknya. Serius, kalau ada lomba diskusi hari itu, pasti mereka juaranya (aku jurinya yang terkantuk-kantuk).

“Kau nampak lelah sekali Fa”, dia bilang.

Aku mengangguk dan pura-pura bangun dari kantuk yang menjalar ke seluruh neuron.

“Apakah kau pulang dari lab jam segini tiap hari?”, tanyaku

“Ya” dia mengangguk semangat.

“kenapa?”

Sejenak matanya menerawang, menatap langit-langit kereta yang ditempeli pria ganteng membawa teh botol (pemain dorama yang suka didonlot temen kosanku dari rileks). Sayup-sayup kereta menjadi backsound yang dramatis atas ungkapan cita-citanya

“karena aku ingin mengajar suatu saat nanti, menjadi professor kayak sensei, melakukan penelitian hebat bersama mahasiswa-mahasiswa pintar”, dia terdiam sejenak, “bahkan sejak aku masuk kuliah S1, aku sudah merencanakan bahwa aku pasti akan kuliah sampai S3”

Kantukku hilang. Api semangatnya menyengat nafasku, Wow!

“Tapi kan jadi dosen sebenernya gajinya kecil”, kataku polos.

“iya sih, tapi.. melakukan hal yang kita sukai kan menyenangkan”, dia tersenyum yakin. Aku langsung tersenyum tertahan, mengangguk-angguk setuju.

Astaga! Gue suka gaya lo, Bang! Kataku dalam hati (dalam hati saja, karena susah mengungkapkannya pake bahasa Jepang), tertawa puaslah jiwa-jiwa perindu mimpi itu. Serasa menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan yang kadang sulit dijawab secara logika.

Iya, seratus persen iya, aku pengen jadi dosen. Titik. Karena aku suka, dan melakukan hal yang kita sukai kan menyenangkan. Haha, jawaban pintar!

Habis sudah kasus kebingungan ketika kau ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit kau jawab. Panjanglah kujelaskan kalau aku jadi dosen, aku bisa mengajar anak-anak Indonesia, mencerdaskan orang banyak, memberi karya buat bangsa. Memang benar itu tujuanku, tapi mengkalimatkan dengan elegan dan manusiawi terkadang sulit. Sekarang aku tau jawabannya, yang membuatku akan terus yakin akan impianku. Karena melakukan hal yang kita sukai itu menyenangkan.

Tahukah kau, Ibu dosen kami bekerja siang malam demi menemukan obat TBC, penyakit yang kebanyakan diderita negara berkembang yang rata-rata miskin uang dan miskin teknologi. Tapi senyumnya menyiratkan peluh yang terbayar sempurna, seolah berkata “ karena melakukan sesuatu yang kita sukai kan menyenangkan”.

Dosen Teknik Mesin yang gemar makan pizza pun keisengannya berbuah kerja yang sedap. Knalpot motor penjual pizza itu didesainnya menjadi sumber kalor penghangat pizza selama delivery ke pelanggan. Tertawa kagumlah sang pengantar pizza atas keisengan cerdas pelanggannya. Ah, memang, melakukan hal yang kita sukai tu menyenangkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s