Wanita Tulang Punggung

Paradoks dua dunia punggung wanita. Punggung wanita yang pertama lebih mulia, ia jual punggungnya demi nafkah sekolah anak-anaknya, demi sesuap nasi keluarga. Punggung wanita kedua, ada di dunia malam, sama sih mungkin menafkahkan juga—namun terbuka dalam lelap tarian-tarian tak berguna, dunia malam—yang kata sebagian mereka, desebut-sebut menghinakan wanita, kau tahu lah maksudku.

Tentang punggung wanita yang mulia itu adalah kisah tulang punggung wanita Jogjakarta, wanita setengah baya dan wanita tua, yang menggendong bakul-bakul berisi barang-barang pasar. Kau tahu? Ada sekitar 500 wanita di sana, di pasar pusat kota Jogja, menjajakan punggungnya sebagai jasa angkut.

Memang benar dunia ini sekarang telah punya becak, mobil pik-ap, bahkan truk yang bisa mengangkut apapun, namun jasa mereka tak terperikan bagi pekerja-pekerja di pasar pusat kota. Wanita-wanita yang menggunakan punggungnya sebagai “tulang punggung”, tanpa lelah, menggendong hasil panen, buah-buahan, sayur-mayur, semuanya setiap pagi buta. Rutinitas pagi hingga siang yang mereka pahami adalah menggunakan punggung pemberian Tuhan itu sebaik-baiknya guna memberi makan anak-anak—yang juga pemberian Tuhan, yang paling berharga seisi dunia. Jasa mereka bak pahlawan bagi gadis kecil berkepang dua yang polos itu. Ayahnya bekerja di sawah, bekerja pada juragan sawah, sedang ibunya mengadu punggung di pasar.

Mengeluh? Sebenarnya jika mereka punya pilihan untuk mengeluh, mereka pasti ingin. Sayang tak ada pilihan kata mengeluh dalam kamus hidupnya. Bukan tak bisa, tapi benar-benar tak ada pilihan. Mereka buta aksara, sekolah? Zaman dulu sekolah adalah emas yang berharga mahal, seragam adalah pakaian agung keluarga sultan dan bangsawan, sekolah hanyalah impian yang optimis terwariskan pada anak-cucunya. Ya, mereka optimis mewariskan cita-citanya saja karena memang tak ada pilihan sekolah dalam rupiah-rupiah yang terkantongkan.

Wanita tulang punggung seperti mereka pun banyak di desaku. Aku masih ingat dulu ibuku selalu pagi-pagi menunggu mbah-mbah penjual capar (tauge), mbah-mbah yang menggendong rinjing besar berisi capar yang hendak digendongnya berjalan menuju pasar paron. Tak lupa ketika panen sawah di belakang rumah, tak jarang kulihat wanita-wanita perkasa penggendong rinjing raksasa menggendong nasi,lauk-pauk, pisang, untuk makan siang suami-suami mereka yang memanen sawah majikannya. Sederhana, namun punggung mereka tetap saja bersahaja. Di pasar Paron apalagi, banyak kutemui para wanita—kebanyakan nenek-nenek berbaju kebaya lusuh menggendong rinjing berisi dagangan mereka, entah apa saja lah yang bisa mereka jual demi nasi. Kelopak bunga mawar, kentang, kubis, wortel, semuanya masuk keranjang, taruh di punggung, ikat dengan jarik, angkut!. Paradoks di belahan bumi sana, kulihat nenek-nenek berbaju kemeja modern di dalam kereta Tokyo-Metro yang sejuk ber-AC, sedang asyik membaca buku “belajar bahasa Perancis”.

Ibuku pernah mengajarkan, bahwa wanita yang bekerja bukan berarti wanita yang tak bersyukur dengan rezeki suami, tapi mereka adalah wanita yang rela berpeluh secara bermartabat. Seorang ibu tak akan tega melihat anaknya merengek-rengek minta pensil warna, tak peduli lah pada keanggunan punggungnya, berangkatlah ia ke pasar, mengangkut seribu-duaribu sekali angkut. Semuanya demi anaknya. Sungguh tak ada sumber energi yang paling dahsyat untuk mesin-mesin raksasa seorang ibu selain anak-anaknya.

Terima kasih untuk para wanita perkasa, dan spesial untuk Mami dan Ibu, terima kasih telah melahirkanku dan melahirkannya. Selamat hari ibu, aku mencintaimu.

One response to “Wanita Tulang Punggung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s