Bakmi Goreng Sang Puteri

Gadis itu membuka matanya, baru tersadar bahwa ia tertidur. Dikucek-kuceklah matanya, riap-riap rambut yang berserak di dahi ia sibakkan, berantakan namun lembut seperti habis creambath, padahal cuma pake sampo biasa. Ia pusing sepusing-pusingnya, besok ujian dan kepalanya masih berat sangat, seberat Gunung Merapi ditambah Gunung Himalaya. Terpaan demam berhari-hari akibat infeksi Salmonella thypi tak tahu diri. Alhasil di genggam tangannya pun hanya stabilo “ijo ngejreng” yang hanya pasrah mengoles judul-judul chapter saja, tidak masuk otak. Ia benar-benar malas belajar, matanya kini sayu-sayu ingin menutup lagi.

Sebenarnya ia lapar, namun raganya tak sanggup mengangkat Gunung Merapi ditambah Gunung Himalaya di kepalanya itu untuk pergi membeli makan. Dan sungguh, enzim-enzim di perutnya pun sejak tadi telah berkucuran, meneriakkan satu makanan istimewa: BAKMI.

Stabilonya benar-benar lelah mengoles kalimat, setiap huruf tergores di buku setiap sendok bakmi terbayangkan, aaah andai ada bakmi delivery pasti ia sudah memesannya sejak tadi. Namun tanpa sadar ia telah menguap lebar dan terkulai lelap hingga tanpa sadar stabilo yang masih digenggamnya menyoret sesuatu : MASLOW’s Hierarchy of Human Needs. Dan petaka itu bermula. Tiba-tiba stabilo itu meleleh, lelehannya berwarna “ijo ngejreng” itu tumpah ke bantal dan kasur. Aaaaaaa! Sontak ia berteriak, namun tiba-tiba ada suara.

“Ssst… Jangan berisik”

“ss..ss..ssiaapa kamuu??!!!” ia kaget, siapa makhluk ini tiba-tiba nongol di kamar kosannya yang sejak tadi tertutup rapat. Badannya kecil, tingginya semampai namun seukuran spidol Snowman Boardmarker. Ia bersayap! OMG. Bermahkota kristal hijau ,pasti sangat berat untuk ukurannya.Wajahnya teduh seperti Puteri Salju, dan yang sangat mencolok adalah gaunnya berwarna “ijo ngejreng” persis seperti gaun pesta ketumpahan jus stabilo.

“Aku adalah Puteri Stabilo! ”

Uhuk uhuk uhuk.. Gadis itu tersedak tiba-tiba. Mendadak seperti Aadin, eh bukan, mungkin aku putri Jasmine saja, pikirnya. Maka gadis itu segera menyiapkan tiga permintaan, sambil menahan senyum kebahagiaan, jantungnya berdebar menantinya menawarkan tiga permintaan.

“Sesuai apa yang kau tandai dengan Stabilomu, yaitu MASLOW’s Hierarchy of Human Needs, sekarang coba sebutkan 5 kebutuhan yang dibutuhkan manusia!! Cepat!!”

Astaga, ini membuat gadis bermuka bangun tidur itu melongo 360 derajat. Wajah teduh makhluk itu mendadak berubah seperti nenek sihir. Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal padahal udah pake sampo. Menggaruk-garuk pipi dan memonyong-monyongkan bibir, kebingungan. Dikiranya ini jin pembawa tiga permintaan, ternyata serupa jin pemberi soal UTS. Tertatih-tatih ia menjawab,

“Eh..” sekarang ia menggaruk dahi tapi respon Sang Puteri malah melotot menakutkan, “Apa ya.. Itu, yang paling mendasar adalah physiological needs, yaitu kebutuhan manusia untuk menjaga kelangsungan hidup seperti makanan, minuman, dan badan yang sehat, terus yang kedua Safety Needs kebutuhan akan kemanan, terus Social Needs kebutuhan sosial semacam cinta dan persahabatan, selanjutnya Esteem Needs kebutuhan untuk dihormati, dan yang terakhir Self-actualization Needs kebutuhan untuk beraktualisasi”

“Bagus..” Astaga, dan raut mukanya Sang Puteri mendadak cantik lagi seperti Puteri Salju. Padahal selama menjawab tadi mata gadis itu melirik-lirik buku Manajemen di samping bantal, ia tersenyum menang diam-diam, entah Sang Puteri sengaja membiarkannya melirik buku atau memang dia tak tahu, yang jelas pertanyaannya terjawab, yes! Teriak hatinya.

“Aku datang salah satunya memang untuk membantu mahasiswa sepertimu, yang rajin belajar bahkan hingga tertidur belepotan stabilo” Gadis itu lantas mengusap baju tidurnya,  bersemangat, merapikan riap-riap rambutnya yang bersih tanpa ketombe padahal cuma pake sampo biasa. Sekali lagi, ia siap mendengar tawaran tiga permintaan semacam Aladin itu, ayolah cepatlah.. bisiknya tak sabar.

“Dan sebagai hadiah atas kegigihan belajarmu, sebutkan satu permintaanmu maka akan kuberikan”

“Ha? Kok cuma satu sih??!!” Gadis itu kaget, dan Sang Puteri juga kaget, beberapa detik kemudian si gadis sadar, dan nyengir-nyengir sendiri, ini kan bukan Aladin, hehe, ia menggaruk lagi rambutnya yang halus seperti habis di-creambath padahal cuma pake sampo biasa. Lantas bohlam kuning pun tiba-tiba berpendar dalam kepalanya! Permintaannya telah ditemukan! BAKMI! BAKMI! BAKMI! 100% BAKMI!! Pasti BAKMI! BAKMI ORIGINAL! AKU INGIN BAKMI ORIGINAL! teriaknya penuh semangat.

Sang Puteri mengangguk dan tersenyum. Dan tiba-tiba hilang, kamar kosan sempitnya pun hilang. Semuanya tiba-tiba gelap, hingga gadis itu jatuh terantuk sesuatu di lantai, ah bukan, permadani! Ini istana! Dan mendadak ia telah memakai gaun cokelat susu yang sangat indah, dengan balutan kerudung sutra elegan model terbaru lengkap dengan mahkota kecil di atasnya! OMG, mendadak ia seperti cinderella, lalu ia segera mengecek sepatunya! Ah, untunglah masih ada sepasang, sepatu hi-heel kayu berhias balutan payet dan kristal yang ternyata bermerk Cibaduyut Style (ew..)

Teng..Teng..Teng.., bunyi apa itu?!  tiba-tiba ada lonceng berbunyi, takut-takut ia berpikir jangan-jangan bakal ada pesta dansa dari seorang Pangeran? OMG Apakah ia benar-benar akan menjadi Cinderela? Lalu ia melonggarkan sepatunya, biar mudah jatuh dan ditemukan pangeran. Duh, tapi pesta dansa? Dia menyesal tak bertanya petunjuk pada Puteri Stabilo dulu, mana pernah ia berdansa, tak pernah ada pesta dansa di kampusnya, kalopun ada pasti sudah dilarang sama Satpam penjaga malam. Dia mulai panik.

Langkah kaki terdengar berderap, seperti prajurit. Benar! Ada banyak sekali prajurit, mereka membawa bendera Belanda! Oh Nooo… apa ini? “jangan-jangan aku berada kembali di zaman penjajahan? Dan ini adalah pesta para kompeni itu?” pikirnya panik, jiwa kemahasiswaan dan nasionalismenya terusik. Gadis itu tetap diam dalam keramaian orang-orang berpesta, hingga kemudian segala pertanyaan gadis itu terjawab bahwa ini adalah pesta di Belanda, yang mengundang MASLOW sebagai salah satu pakar manajemen untuk memberikan ceramahnya pada para bangsawan serta konglomerat di sini.

Dan yang sangat mencengangkan adalah : Hidangan yang disediakan adalah BAKMI! Benar-benar bakmi khas jawa! Yang dihidangkan di atas piring berlapis daun pisang yang sengaja ditanam dalam rumah kaca (karena pohon pisang tak tumbuh di daerah subtropis), dan dibumbui dengan rempah-rempah dan bawang goreng khas Indonesia! Bukan berlabel “fried noodle” atau bahasa belanda lain melainkan benar-benar “BAKMI GORENG” Ketika mata gadis itu terbelalak dan tenggorokannya sulit menghentikan peristaltik menelan ludah saking laparnya, Profesor Maslow itu berbisik padanya : “Belanda telah mencuri resep Bakmi Jawa ini sejak zaman penjajahan, bahkan hingga sekarang, Bakmi Goreng buatan Belanda sangat populer di Eropa!”

Haaaa?? Gadis itu menjerit terkejut hingga hampir jatuh dari sepatu kayunya, ah tidak, ia tak bisa mengendalikan keseimbangan..dan..dan..aaaaa… brug! sepatu Cibaduyut Style-nya patah, ia benar-benar jatuh… dari atas kasur!  Gaun yang ia pakai berganti baju tidur winnie the pooh biasa lagi, ah, hanya mimpi, desahnya kecewa. Namun di depan matanya telah mengepul dengan aroma sempurna : Bakmi Goreng!

******************** The End *******************

FYI : Profesorku di Jepang tak pernah datang ke Indonesia, tapi ia tahu makanan asli Indonesia yaitu “BAMI GOREN” (Japanese spelling) , dan beliau menyantap bakmi goreng itu di restoran Belanda di salah satu kota di Belgia! Dan mereka benar-benar menulis “Bakmi Goreng” (without translate) dalam daftar menunya!

Bahkan orang-orang Kanada pun berusaha keras mengimitasi resep Bakmi Goreng Jawa http://stephfood.com/2011/03/11/bakmi-goreng-jawa/

3 responses to “Bakmi Goreng Sang Puteri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s