Silencer Vs Enhancer

Sebenernya aku juga ga gitu tau kenapa nulis beginian, ehehe. Tadinya mau belajar tentang primer dan konsep-konsep PCR, terkait TA lah buat persiapan sidang. Eh ujung-ujungnya malah ga fokus. gyahahaha :D . Mana jadwal AASP udah keluar pula, bikin stress oksidatif meningkat. Maka curqolb (curahan qolbu, istilah sholeh-nya curhat) mungkin membuat pikiran lebih tenang, hehe.

Ditingkahi istilah-istilah DNA, mutasi, molecular analysis, pikiranku tiba-tiba ngelantur beralih kepada segelintir berita. Bayangkan kawan, kalo kamu ada di posisiku dan dikasitau bahwa si x temen kamu yang dulunya baek-baek itu tuh ternyata merid-nya MBA lho. Whatt?.. er..er… dan aku kaget dan shock sih. Dan seketika itu aku memutuskan untuk menjadi silencer aja.  “Oh, Married Because of Allah ya? sama kayak aku juga doong..”, dan nyengir selebar-lebarnya. dan.. Berhasil! inisiasi gosip berakhir.

Silent it! sudah jangan diteruskan! Begitulah kata si silencer. Dan tahukah kamu silencer itu apa? ia adalah molekul penyetop ‘gosip’ di level molekuler, si silencer ini dapet wangsit dari repressor bahwa kejahatan di muka bumi harus dihapuskan. Nah, setelah menerima sinyal itu, ia akan beraksi pada proses transkripsi mRNA dan berusaha sekuat tenaganya seolah-olah teriak-teriak “hentikaaaannn…! sumpah, ga akan ada gunanya kalo diterusin, serius!”, hingga akhirnya patnernya bernama repressor nurut dan mencegah RNA polimerase ngelanjutin proses “percetakan gosip” (haha.. jauh banget mRNA sama gosip, maksa). Silencer ini sangat yakin kalo diam itu jauh lebih baik daripada ngejelek-jelekin orang, tuh! molekul yang sangat terpuji banget kan?

Beda lagi kalo ternyata yang nerima gosip itu bernama enhancer. Apa aja informasi yang ada di depannya, untuk tujuan kebaikan maupun kejahatan, kebajikan maupun keonaran (well, ia memang sangat polos), enhancer akan memperjuangkan sepenuhnya proses “percetakan gosip” (baca: ekspresi gen) tersebut dengan mendekati si aktivator buat menjalankan protein kompleks mendorong RNA polimerase. Ckckck.. mungkin enhancher ini harus dikasitau kalo menyebarkan gosip dan aib sodara sendiri tu dosa lho.. dan sebenernya enhancer ini beraksi juga gara-gara dibujuk sama inducer, misalnya IPTG tuh, yang kadang over banget nyebarin informasi (baca: overproduksi).

Mungkin kita (terutama saya yang masih sering terperosok ke dalam gosip-gosip menarik) harus belajar banyak pada molekul-molekul itu, kapan harus jadi enhancer (pendengar yang baik) dan kapan harus jadi silencer. Bukankah kalo seseorang berbuat dosa, lalu bertaubat, lalu diampuni-Nya, dosanya lenyap seketika? Kalau saja kedua molekul itu (yang memahami benar efektifitas informasi) bisa berbicara, maka aku yakin mereka akan bilang: “Tak ada gunanya menjadi enhancer gosip (aib) kawan, Silencer lebih cocok!”

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

8 responses to “Silencer Vs Enhancer

  1. Aslm kak,
    Perkenalkan saya Diana dari Kimia UI 2008.
    Saya ketemu blog kakak ini dari student blog list YSEP 2009.
    Alhamdulillah saya akan jadi YSEP student 2011.
    Kalau kk tdk keberatan, saya baca2 postingan kk ttg jepang ya..

    Saya tertarik banget ke biokimia dan bioteknologi jg, jadi mw byk bljr dari kk..
    postingannya menarik bgt, dihubungin sama kehidupan sehari-hari..
    Islam sangat dekat dgn sains sih ya..
    Jazakillah ilmunya kak, smoga ilmunya barokah..

    Wslm..

    Warm Regards,
    Diana

    • Waalaikumsalam wr wb……
      waaaaaaaaaaaaa YSEP baru? semangat dan selamaaaaaaaaaaattttt yaaaa!!
      silakan “obrak abrik” blog sayaa,,, hehehehe :D
      aminn amiinn semoga barokah

  2. jiaaaaah..bagus sekali membahasakannya..
    heheheh, kapan yaa, aku bisa seperti ini.. **hahaha,,emang mau kuliah lagi? emang mau buka2 catatan kuliah lagi…??**

  3. isi kepalamu yang liar itu rupanya banyak gunanya juga ya fa… ^^
    bisa membuat matakuliah yang membosankan jadi lebih real & menarik…
    meski kadang kelewat liar…he

  4. woh, cara belajar yang menarik kak sekaligus bermakna dalam, dalem banget malah.hehhe

    ayo semangat calon bu dosen

    *andai punya insting buat tau kapan jadi enhancer dan silencer.hohoho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s