“Menyalakan Lilin” di Tengah Jalan

Oke! welcome back! okaerinasaaaaii… *menyambut diri sendiri :p, akhirnya saya kembali berada di Bandung, setelah seminggu refreshing ke kampung halaman tercinta. Selalu ada inspirasi dong, ini dia nih:

1. Musibah wereng benar-benar menjadi petaka bagi kota kami musim panen lalu, sawah pakde kedunggalar yang 1 hektar hanya berhasil menuai panen 8 bathok beras, gara-gara wereng. Ayah tetanggaku ada yang stress terpaku hingga pingsan dalam kondisi mematung di tengah sawah melihat “angin tornado” wereng menghancurkan sawahnya. Pemerintah berniat baik, memberi subsidi benih kedelai untuk petani, agar tak diserang wereng lagi, namun apa daya para petani justru ramai-ramai menjualnya demi mendapatka uang (mungkin untuk membayar hutang atas kerugian sawah tak terkira, di samping harga jual kedelai juga tak setinggi beras). Oke, inspirasinya adalah aku berencana bikin biopestisida buat membasmi wereng di Ngawi, minimal buat sawah ayahku.

2. Inspirasi untuk bikin video edukasi buat Aprilia, Hani, dan anak-anak SD (sampai SMA pengennya). langkah kecil untuk membangun pendidikan secara cerdas.

3. Ngambil jaket almamater di rumah (eh, emangnya ini inspirasi?) buat final lomba LPMF di Unair ntar, tepat 2 hari setelah wisuda :D hehehe . Bismillah, persembahan terakhir buat ITB, Juara 1! Yosh!

4. Inspirasi disain kebaya wisudaa.. :))

5. Inspirasi tentang berbuat kebaikan secara refleks dan terencana.

ini nih yang sebenarnya akan kuceritakan sekarang. Kan aku lagi naik (dibonceng sih) motor menuju Desa Teguhan melewati jalan raya Paron-Jogorogo, tampaklah beberapa bapak-bapak mencangkuli tanah di sekitar jalan, membawa bongkahan tanah tersebut dengan karung, lalu menimbunnya pada jalan raya yang bolong-bolong besar–yang kalau tak hati-hati, pengendara motor kencang akan terpelanting melewati jalan yang rusak tersebut. hampir dipastikan 3-4 orang bapak-bapak itu bukan anggota DPRD atau pejabat yang lagi gaya lah,  mereka juga bukan warga yang rumahnya di sekitar situ (soalnya mereka pake motor menuju lokasi) mereka benar-benar menyengaja bawa cangkul dan karung dari rumah, menuju jalan yang rusak tersebut, dan MEMPERBAIKINYA dengan apa yang mereka punya! meski tak punya aspal atau mesin penggilas jalan, ketulusan hati mereka tergerak. Tanpa mencela para pemerintah pembangun jalan yang mengkorupsi atau apa lah, mereka tetap bekerja sebaik-bainya agar pengguna jalan tak celaka. Merekalah teladan bagaimana menjadi solusi, lebih baik menyalakan lilin daripada mencela kegelapan. Di kampung saya, orang-orang baik seperti ini masih banyak ternyata. Bravo Ngawi!

2 responses to ““Menyalakan Lilin” di Tengah Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s