Lulusan ITB ga bisa bantu orang = sampah!

Hari ini aku dapat nice women talks dengan sebut saja Mbak Vina, person who always in charge baik dalam urusan fluktuasi IP maupun financial help di TF scholarship yang ngasi beasiswa aku ampe lulus kandang gajah ITB, dan satu lagi dengan anak 2007 yang tadinya sempat jutek gara-gara mengira aku angkatan 2009 yang mau ikut seleksi beasiswa (padahal aku juga panitia sama kaya dia), well, maklumlah resiko emak-emak berwajah imut (dan hal ini terjadi ga hanya sekali, yang lebih parah adalah pas di gedung Annex seorang bapak mengiraku anak SMA -_-” ). Dan hari ini aku teringat qoute seseorang yang terngiang-ngiang di tengah wisuda Juli kemaren, yang coba kulupakan sejenak untuk menikmati perayaan wisuda namun sekarang terngiang dan menusuk lagi, “Lulusan ITB ga bisa bantu orang mah sama aja kayak SAMPAH!” ( sampah-nya itu looh nonjok banget, asli).

Si kecil di dalem juga ga terlalu rewel, karena aku punya suami siaga :D, aku yang hamil dia yang muntah-muntah sekaligus ngidam, (hehe sabar ya sayang.. maafkan istrimu bandel :p). Hari ini aku bahkan hampir lupa kalo sedang hamil! dengan kostum rok-jins, kaos+white knitted vest-like, jilbab marshanda style, dan sepatu kets benar-benar mendukung untuk lari-lari pecicilan dan lompat-lompat-tak-sengaja menapaki tangga GKU timur, (wew.. be tough my sweety syu-jun.. God, I hope he is OK). Maka hari ini benar-benar terasa lain, dan jiwa mudaku senantiasa berkobar-kobar mengharu biru.

Semuanya bermula dari pertanyaan awal : habis lulus mau ngapain?, hingga bermuara pada petuah sakti Mbak Vina, struggle woman yang nekat merantau ke Jakarta berbekal ijazah SMA, tujuannya cuma satu : merubah nasib! ga mau jadi orang susah lagi. And see? sekarang ia mendapatkannya, karir sukses, bantu orang banyak, and she is now celebrating her 8months pregnancy. Aku dan anak 2007 itu manggut-manggut antusias mendengarkan petuah saktinya, bahwa hidup ini harus bermanfaat buat orang lain. Lembaga ini ngasih beasiswa buat orang-orang yang kesulitan finansial namun berusaha keras mau sukses, berfikirlah out of the box, lulus dari ITB kira-kira apa yang bisa saya lakukan untuk membantu orang lain. Mau berkarir profesional, kaya jadi pengusaha, bantu orang lain. Dan ia menyarankan agar kami berkarir profesional dulu, instead of berburu Master-PhD scholarship (like what I’m doing). Well, mbak Vina emang tau banget latar belakang keluarga kami-kami (that’s why we are selected to be scholarship receivers).  Dan dulu pas awal-awal penerimaan beasiswa ini, memang diceritakan bahwa kami diberi beasiswa agar bisa jadi sukses dan mampu merubah nasib keluarga dan menginspirasi orang-orang di sekitar kami. Ini benar kawan, di antara mahasiswa-mahasiswa kaya yang rewel gara-gara kampus ga muat buat parkir mobilnya, banyak lho mahasiswa itb yang ngebiayain kuliahnya sendiri, kerja sambilan pontang-panting, gaji orang tuanya pas-pasaan banget, dan kami-kami ini merasa beruntung dibesarkan di Institut Tepat Banget yang memberi banyak beasiswa.

Dan akhirnya aku merenung meratapi diri, orang tuaku yang hingga saat ini masih bercita-cita “5 tahun lagi naik haji”, pun tabungannya selalu tergerogoti habis oleh anak-anaknya, dan usia mereka pun kini.. mulai dihinggapi penyakit. Ditambah stress karena gagal panen diterjang wereng, bertani semakin sulit. Beberapa orang tetangga desa yang saking stressnya sampai meninggal karena minum pestisida (karena tak percaya kenapa pestisida tidak bisa membunuh wereng, naudzubillah).

Petuah yang terngiang-ngiang itu bilang, “untuk kuliah Master-PhD kalian bakal butuh 4-5 tahunan, bersenang-senang dalam ilmu pengetahuan yang emang menarik, dan kalian akan bergantung pada beasiswa, bergantung pada orang-lain juga kan intinya?, lantas keluarga kalian..?” nafasku tercekat di kalimat ini. Petuah itu berlanjut, “Kita ga boleh egois, Demi Allah ga boleh egois, kalian lulusan ITB!, oke lah orang tua pasti ga pernah menghalangi anaknya menjadi apapun, tapi sebagai seorang anak yang udah dikuliahin jauh-jauh, digadaikan motor untuk beli buku, pulang setahun 2 kali, ditelfonin tiap subuh, didoain tiap ujian, dibangga-banggakan pas wisuda, sampah ga sih kalo kalian ga bisa bantu apa-apa sementara orangtua kalian masih berada dalam nasib yang belum berubah?!?!”

5 responses to “Lulusan ITB ga bisa bantu orang = sampah!

  1. Assalamu’alaikum, dek Fafa,
    selamat ya, untuk kehamilannya:) ikut seneng baca-baca progress si kecil. Seperti biasa, kamu pinter sekali deh:)

    Betul banget kalau kita, sebagai seorang manusia (maaf, saya ga lulusan ITB, tapi hubby iya… loh, apa hubungannya?), jika tidak dapat membantu orang lain memang kurang berguna jadinya.

    Tetapi, saya kurang setuju kalau soal mengambil Master-Phd bukan sebuah jalan awal untuk berbuat baik. Saya mengetahui dengan pasti, banyak orang yang lebih menitik-beratkan pada ‘gelar’ yang akan didapat ketimbang memikirkan manfaat/inspirasi yang diperoleh selama bersekolah di LN. Dek Fafa kan pernah bersekolah di Jepang, jadi pasti mengetahui situasi seperti ini. Alhamdulillah, ternyata banyak juga teman-teman yang bersekolah di LN bisa mendapatkan pekerjaan yang baik di sana, kemudian dapat membantu orang tua serta saudara-saudaranya yang membutuhkan di Indonesia. However, mungkin ini paradigma lama, ya, karena saya seorang generasi X, sedangkan dek Fafa gen Y, jadi boleh aja ga klop cara berpikirnya.

    Intinya, ikhtiar itu perlu dilakukan sedapat-dapatnya. Suatu langkah awal yang dilakukan bisa membuka pintu-pintu kesuksesan lainnya. Pada akhirnya, cara apapun yang kita tempuh, ya bekerja dulu baru sekolah, atau sekolah dulu baru bekerja, ketika kita sudah mempunyai penghasilan cukup, Insya Allah kita akan dapat membantu orang lain seperti yang kita inginkan.

    Dek, ini hanyalah pengalaman hidup saya sendiri untuk dishare.

    Apapun itu, semoga Allah memberi jalan dan kemudahan pada dek Fafa sekeluarga, untuk dapat membantu orang lain dalam hidup ini.

    Btw, blog ini juga banyak menyemangati hidup saya waktu sedang riset Phd beberapa waktu lalu. So, terima kasih loh, atas bantuannya selama ini…

    Wassalam,

    Monita

    • Waalaikum salam wr wb
      Waah.. dikomentari oleh orang PhD langsung! hehehehe.. makasi banget mbak, cita-cita saya buat PhD juga belum hilang kok (bahkan saya udah nyiapin buku GRE dan TOEFL buat Ramadhan ini). pendapat mbak benar sekali..
      “Master-Phd pun juga sebuah jalan awal untuk berbuat baik”. bahkan rekan-rekan PhD yang di Jepang pun, banyak banget yang berkontribusi buat Indonesia dan Jepang itu sendiri, jadi ternyata kemajuan Jepang itu juga berkat karya PhD-PhD Indonesia.

      ini cuma point of view dari sisi lain saja, yang menyarankan pada beberapa kasus, untuk bekerja dulu baru kemudian taking Master-PhD.

      Makasi banget lho mbak, alhamdulillah kalo blog coret-coret gini bermanfaat hehehe…

  2. dua sudut pandang yang saling melengkapi. yang satu menohok, yang lain melapangkan. masing-masing memang dibutuhkan. meski bagi saya yang pertama lebih dibutuhkan. kalau gak ada sentilan macam ini, bisa2 saya beneran jadi sampah! (dalam hati: saya tetap berdoá diberi kesempatan master&PhD di jerman ^^. aamiin yaa rabb)

    keren sharing nya fa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s