Cara Ayah Mengenalkan Allah Padaku

Sejak kecil aku sangat dekat dengan ayah. Ibu? tentu saja, setiap kali syujun nendang2 gini aja seringnya aku selalu ingat ibu, “pasti dulu aku juga suka nendang2 ibu”-pikirku. Namun untuk urusan pengajaran tentang hakikat hidup dan nilai-nilai kerohanian, nampaknya ayahlah yang sangat berpengaruh dalam hidupku.

Ayah adalah orang pertama yang mengajarkanku mengaji, padahal aku adalah anak yang paling malas kalo disuruh berangkat TPA (Taman Pendidikan Al Quran) soalnya ada film Dragon Balls kesukaanku diputar pas jam TPA. Sialnya tetanggaku tidak diwajibkan TPA sama orangtuanya, sehingga aku sangat merasa kecolongan cerita kalo sampai ga nonton satu episode. Tapi meskipun aku sudah TPA, ayah tetap mengajarkanku mengaji, membaca Iqro dengan sangat menyenangkan. Mungkin karena kalo di TPA yang durasinya 2 jam itu, ngajinya cuma 1 halaman soalnya kan banyak santrinya, ustadzahnya cuma dua. Tapi kalo ngaji sama ayahku, aku bisa nambah berapapun aku mau, dan ayah selalu memujiku dengan senang dan saat-saat itulah aku benar-benar suka mengaji, tanpa paksaan. Ah aku masih ingat ketika itu, sore-sore ayah pake baju koko, sarung, dan kopyah hitam, senyumnya khas, persis senyum eyangku, dan katanya senyumnya mirip senyumku. Hasilnya, aku sudah bisa membaca AlQuran saat umur 5 tahun, saat hampir lulus TK. Saat itu di TK ku, baru aku saja yang bisa baca Al Quran, teman2 masih Iqro, tapi hanya aku dan ayah yang tau, itu rahasia kami saja, pas TPA aku tetap ngaji pake Iqro.

Ayahku rajin berdoa, itu yang aku tau sejak kecil. Ayah doanya paling lama kalo habis sholat. Ayah selalu melibatkan Allah dalam setiap pembicaraan, misalnya : panen Ayah alhamdulillah berhasil, artinya sedekah kita harus diperbanyak, karena kalo kita makin bersyukur, Allah akan makin senang menambah nikmat pada kita. Dari dulu ayah sering bilang gitu dan aku percaya-percaya saja, belakangan pas sekolah di MTsN, aku baru tau kalo itu ayat Al Quran.

Tak hanya bulan ramadhan, ayahku suka sekali sholat dhuha, sholat sunah, dan mengaji. Sementara aku yang masi kelas 1-2 MI (SD) saat bulan Ramadhan pura-puranya belajar berpuasa, eh tapi ada saja ide untuk curi-curi makan indomi kremes trus dibumbuin, disembunyiin di bawah kasur, lumayan untuk pengganjal perut sambil pura-pura tidur siang. Nah, melihat ayahku sering sekali berdoa, yang aku takutkan adalah : “Jangan-jangan gara-gara rajin beribadah, Allah ngasih tau ayah kalo aku curi-curi makan pas puasa??! gawat lah kalo ketahuan, bisa hancur harga diriku sebagai anak kesayangan ayah” aku khawatir, akhirnya aku menyudahi aksiku, dan bertekad berpuasa penuh.

Ketika masa awal-awal puber, aku menangis pengen dibelikan radio-tape recorder, aku ngefans Britney Spears! Ayah dan Ibu tak sanggup menolak kalo aku sudah menangis gitu, dibelikanlah aku tape recorder sekaligus kaset britney spears, westlife, backstreetboys, dll. Ya! meskipun ayahku tau, dari cover kasetnya aja, album yang pertama, Britney bajunya udah seronok kayak gitu, tapi ayah tak melarangku dan tak menyinggung-nyinggung masalah pornografi atau menakut-nakutiku kalo Allah akan murka terhadap wanita yang mengumbar auratnya, apalagi cerita tentang wanita-wanita yang masuk neraka seperti cerita pak ustadz di TPA yang bikin serem. Tidak, itu sangat bukan tipe ayahku. Ayah tau, cepat atau lambat aku akan menjadi gadis belia, yang harus menjaga harga dirinya, tapi ayah juga tau bahwa lingkungan tak bisa serta-merta dikendalikan untuk menjaga agar anak gadisnya tetap menjadi penurut dan sholihah, gampangannya Ayahku ga bisa nyuruh Britney Spears pake kerudung kan, trus baru ngeluarin album?

Kalau aku pikir-pikir, ternyata ayah lebih memilih untuk mengajarku dengan cara paling positif yang pernah ada! Ayah menjadikan Britney Spears guru bahasa inggrisku! Ayah menyediakanku kamus tebal usangnya jaman dulu, Ayah mengajarkanku cara memakai kamus itu. Padahal kamusnya ga ada hurus A, B, C yang menyala-nyala gitu untuk memudahkan pencarian, namanya saja kamus usang, tapi ayah membuatnya sendiri! menulis abjad-abjad itu dengan tangannya sendiri. Sejak saat itu aku suka bahasa inggris, karena aku suka Britney Spears, ayah mengajarkanku mengartikan syair-syairnya. Lagu barat pertama yang diartikan ayahku adalah lagunya Michael Learnt to Rock kalo ga salah, seharian ayah berkutat dengan kamus dan berhasil mengartikannya! otomatis takjublah aku pada kehebatan ayahku. Meski dulu aku ga terlalu ngeh kenapa lagunya cinta-cinta semua, sekarang aku sadar karena ternyata saat itulah aku pertama kali belajar grammar, dan semua tentang bahasa inggris. Sehingga yang kucerna dari Britney Spears adalah lagu-lagunya dan struktur kalimatnya, bukan pakaiannya, karena itu tak pernah dibahas ayah. Dan aku pun tak berminat berbaju seperti Britney Spears, seperti yang dikhawatirkan pak ustadz TPA. Akhirnya, aku pun menjadi anak yang tumbuh dengan kemampuan bahasa inggris yang lebih tinggi dibanding teman-teman sekampungku saat itu. Baru saat masuk MTsN (SMP) aku belajar bahasa inggris secara formal, dan kamus usang ayahku selalu menemaniku.

Masuk MTsN, aku malah ngefans sama Juventus. Maka itulah saatnya ayah mengajarkanku untuk sholat Tahajud, untuk pertama kalinya. Namanya juga penggemar bola, aku hanya mau bangun kalo Juventus-ku maen, artinya aku hanya sholat tahajud kalo ada pertandingan Juventus, itu pun cuma dua rakaat, kan keburu gol nanti kalo lama-lama sholatnya. Tapi ayahku tak marah. Ayah tetap melanjutkan tahajudnya yang panjang, dan kalo sudah seperti itu aku yakin ayah sedang mendoakan aku, adikku, juga ibuku. Akhirnya ketika masa-masa SMA, bahkan ketika ayah tak membangunkanku, aku akan sholat tahajud misalnya pas aku punya doa special untuk Allah, biasanya pas mau ujian atau lomba. Ayahlah yang mengajarkanku bedoa bersujud padaNya.

Hari-hari terakhir SMA, aku sadar bahwa aku harus kuliah tinggi, raport-ku lumayan bagus. Aku pengen kuliah di UGM, kayaknya keren. Tapi sejak aku ikut olimpiade biologi nasional, dan pelatihan di ITB, ternyata ITB yang paling keren. Aku harus kuliah di ITB! dan ketika itulah, dengan segala kesederhanaannya ayah mengajarkanku konsep tawakal. Ayahku seorang sarjana hukum yang memilih menjadi petani karena takut hidup bergelimang suap, dan ibuku guru MI (SD) honorer, yang lebih suka menyuapi anak-anaknya daripada menyuap pemerintah agar bisa berstatus guru pegawai negeri. Namun setulus-tulusnya hati ayah ibuku, tetap tak sanggup membayar 45 juta untuk ikut USM ITB, kala itu.

Tapi tebak, apa yang ayah bilang padaku, “Ayah ndak punya uang banyak untuk membiayai kamu kuliah tinggi-tinggi, tapi Gusti Allah maha Kaya nduk, Allah bisa mengabulkan segala keinginan kamu, Ayah ndak bisa, bisanya cuma berdoa”. Ibuku hanya nelangsa menahan isak tangisnya yang mengalir bersama doa-doanya. Ayahku lah yang menanamkan keyakinan bahwa Allah lah yang akan membantuku mencapai cita-citaku. Akhirnya aku masuk ITB, aku dapat medali perunggu olimpiade biologi nasional yang efeknya adalah gratis ikut USM. Hingga lulus pun Allah lah yang mengizinkan beasiswa-beasiswa menghidupiku.

Termasuk beasiswa ke Jepang. Aku pergi ke Jepang selama setahun, biaya telfon dari Ngawi ke Tokyo sangat mahal, internet pun belum masuk desaku. Ayah dan ibu tak bisa menelfonku setiap subuh, karena shubuh di Ngawi, sudah Dhuha di Tokyo. Tapi aku yakin, doa-doa mereka selalu mengalir padaku, hingga aku terselamatkan dari makanan haram karena jilbabku, dan tetap dilingkari orang-orang sholeh di sekitarku, yang menjaga sholatnya, meski harus sholat di antara tangga laboratorium, di stasiun, atau di pinggir sungai Asakusa. Karena Ayah selalu yakin, ketika Ayah telah mengenalkan Allah padaku, pada hatiku, maka selanjutnya Allah lah yang menjagaku di manapun, kapanpun.

*episode postingan untuk ulang tahun ayah 21 November, thank you for being my dad :)

11 responses to “Cara Ayah Mengenalkan Allah Padaku

  1. Fahfaaaaaaaaaaaaaah…..
    Kau membuatku nangis untuk yang kesekian kalinya. T.T
    Tapi kamu juga jadi ngasi ide.
    Kayaknya aku bakal ngasih surat buat kado Papah aku di ulang tahunnya Desember ini. :)
    Makasi Fafaaaaaaaaah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s