Syujun 30 weeks : Semangat Berkambing-kambing

Apa hubungannya syujun ama kambing coba? hehe, aqiqoh? tentu saja, tapi bukan itu kisah kambing yang menyentuh hari ini. Hari ini aku makan daging kambing dari ‘kenduren’ aqiqohan tetangga, dikit sih tapi uenak, hehe.. Tapi aku belum bisa masak gule kambing, jadi ga akan berbagi resep di postingan kali ini. Nah, jadi kambing apa dong yang akan berceloteh di sini?

Ini tentang investasi kambing, kawan. Ini tentang rezeki yang halal buat syujun (Eeaaa).  You know lah, aku kan akhirnya choose to not go abroad for school this very time, aku udah bilang ke sensei kalo aku mau establish my family dulu, baru pursuing PhD, it is about choice kan. Abang belum boleh resign. Ga enak juga ngebayanginnya ngerjain PhD jauh-jauhan ama pangeran tercintah, ehehe. Apalagi syujun masi newborn ntar, needs so much belaian kasih sayang dari emaknya. Jadi rencanaku beberapa tahun ini bakalan tetap di sisi suamiku dan merawat syujunku dengan baik. Dan tentu saja pengen earn money tapi ga pengen kerja kantoran, whahaha (maunya), meskipun rada perfeksionis dalam hal karir, gini-gini aku kan sayang sama keluargaku, ga tega ninggalin syujun sementara aku bekerja 8-5, pulang-pulang si kecil udah bobok, kapan mainnya?.. kapan bercanda-candanya?.. kapan aku bisa mewariskan nilai-nilai hidup?.. kapan aku bisa ngajarin kalkulus? (*lebay) hiks hiks.. sulit dibayangkan.

Tapi bingung gimana caranya ya. Memulai suatu bisnis kan ga bisa sembarangan, apalagi aku zero pengalaman. Well, kalopun nanti kerja kantoran pengennya yang pulang siang, ga sore2 amat lah, misalnya PNS kali ya? haha iya gituh? Jadi guru di sekolah deket rumah? Bikin apotek? hmm.. belom apoteker, haha.. Bisnis apa gitu kek.. apa dong?

Maka dari itulah kambing muncul di judul ini, aku mau investasi paroan kambing. Ini semacam bagi hasil dengan penggembala kambing, jadi kita sebagai investor beli kambing, terus digembala oleh patner tersebut. Kalo kambing itu beranak pinak, hasilnya dibagi dua untuk investor dan eksekutor. Kalo nanti kambing-kambing itu dijual, laba bersihnya juga dibagi dua. Begitulah kira-kira. sistem ini relatif mudah, balik modalnya cepat dan keuntungannya lebih besar daripada nganggurin duit di bank (yaiyalah). Kata pamanku, kalo pengen gajian 5 juta perbulan, invest-lah kambing 100 ekor, cukup. Tinggal pilih aja mau gajian berapa, terus hituang aja jumlah kambing yang perlu di-invest, hehe.

Di desaku banyaaaak banget orang-orang yang mengharap paroan kambing dari warga yang bermodal. Kemaren pamanku datang dari kota, ada tetangga yang having special visit just to offer paroan kambing gini. Dari sisi sosial, investasi model seperti ini menguntungkan buat orang-orang kampung yang mereka ga punya pilihan lho mau kerja apa, jadi kuli sawah juga ga tiap hari kan.

Demi mempertahankan kepulan asap dapur, mereka menggembala kambing-kambing  orang lain, selagi Allah masih menggratiskan hujan, dan rumput di muka bumi masih gratis, mereka selalu diuntungkan akan sistem ini. Tak jarang lho, ada yang sukses berat gara-gara “angon wedhus”, mau renovasi rumah jual kambing, mau beli motor jual kambing. Subhanalloh.. aku jadi kagum dengan cara Allah memberi rezeki, adaa aja caranya.

Meskipun para penggembala itu rata-rata ga pernah sekolah, tapi mereka punya inovasi lho! Misalnya ada yang spesialis penggembala Kambing Gibas dengan alasan Kambing Jawa banyak yang menggembala dan kalo satu sakit, yang lain bisa cepat ketularan. Sementara kambing gibas lebih tangguh, meski repotnya perlu sesi mandi di sungai. Ada juga spesialis Kambing Kerikil, jenis kambing kecil yang sangat diminati pejual sate dan gule, meskipun harga jualnya kecil, permintaan pasar tetap konsisten kecuali tukang sate di muka bumi bangkrut.

Kali ini patner kambing kami adalah Mr. G (aku yakin kalo kalian tau nama aslinya bakal terkesan ndeso banget, so called him Mr. G saja, hehe), mudah-mudahan dia bisa dipercaya. Rumahnya lumayan dekat rumah orangtuaku, jadi keberadaan kambing bisa dicek anytime. Secara ekonomi memang beliau termasuk yang kesulitan mengepulkan asap dapur tiap hari. Harusnya ia mendapat BLT (Bantuan Langsung Tunai) dari pemerintah, tapi entah apa konspirasi pejabat-pejabat itu, nyatanya hak rakyat kecil sepertinya pun diembat, Mr. G tak mendapat apapun. Kisah tragis yang terakhir kudengar, motor harta satu-satunya miliknya dibawa kabur sama menantunya untuk dijual, perhiasan anaknya juga dijual oleh menantunya itu, kemudian si menantu kawin lagi, lantas merantau ke jakarta, istrinya pun tak punya pilihan lain, ia berangkat mencari nafkah ke kota, meninggalkan anaknya yang masih balita di kampung, diserahkan begitu saja pada kakeknya (Mr. G).

Terlepas dari apapun kelebihan dan kekurangan seseorang, satu hal yang patut diapresiasi adalah, Mr.G tidak meminta-minta, ia masih punya harga diri, ia sadar ia tak punya bekal pendidikan layak, yang ia punya cuma ketelatenan memelihara kambing, maka kesana kemarilah ia menawarkan jasa penggembalaan kambing.

Kalo diinget-inget cita-citaku jaman dulu, pengeen banget bisa bantu meningkatkan taraf hidup warga miskin di daerahku, pengen punya company terus memperkerjakan mereka. Alm Kakekku dari dulu selalu punya anak asuh buat disekolahin, pamanku juga sekarang udah punya “perusahaan sendiri” yang karyawannya lulusan-lulusan SMK dari kampungku, mulia banget kan. Aku pengen juga mengikuti jejak mereka, apalagi orang kuliahan gini sangat diharapkan bisa “mbangun deso”.

Tapi saat ini mungkin fokus hidupku diprioritaskan buat syujun dulu (selamanya bakal diprioritaskan buat syujun and family kok sayang, hihi.. dia protes, nendang-nendang), jadi langkah investasi ini punya double efek : aku bisa ngurusin syujun dan mempunyai aset, serta membantu warga miskin yang membutuhkan pekerjaan.

Bismillah.. semoga investasi ini berkembang pesat, menghasilkan rezeki yang banyak dan berkah serta bernilai ibadah.. amin.. Ya Allah, berikanlah penghasilan yang halal untuk keluarga kami, agar apapun yang masuk ke tubuh kami dan syujun selalu Engkau berkahi, dan perkenankan ikhtiar kami memberi kemanfaatan bagi makhluk-makhluk-Mu di alam semesta. Amin.

10 responses to “Syujun 30 weeks : Semangat Berkambing-kambing

  1. sedikit masukan, kalo bisa setiap pembelian kambing nantinya ( inshaAlloh akan berkembang pesat kan? amiennn…hehhee ) sebisa mungkin ikut memilih milih kambingnya, karena pengalaman yang lalu beli kambingnya diserahin ke orang eh dapatnya ga sesuai yang diinginkan, dan kadang-kadang ada yang mandul… jadi harus tetap didmpingi mbak e…heheheh…. semangatt yaaakkkkk….. inshaAlloh menguntungkan….^___^

    • Oke! Tentu saja, soalnya dulu ayahku pernah ditawarin anak kambing, tanpa diliat dulu langsung dibayar, ehh..ternyata anak kambingnya masi di perut alias belum lahir. Hehe. Jadi emang harus dicek dulu.
      Amin.. Makasi doanya ^_^

  2. wowww..fafah..wowwwww…..itu angon kambing menarik fa,,jadi pengen juga euy invest di ono, itu kira2 butuh modal berapa yah fa untuk pemain amatiran dan awal?fafa yg masyaallah cantik di tunggu jawabane,maturnuwun

    • hai viiiinn.. modalnya tergantung harga kambing vin hehehe.. normally kambing betina 700-800 ribu per ekor, jantan 800an per ekor, tapi harganya bisa naik kalo pasmusim qurban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s