Syujun 38 weeks 6 days : Detik-Detik Syujun Menyapa Dunia

10 Maret 2012 14.00 wib. Aku dan suamiku jalan-jalan keliling ngawi, bersenang-senang ga jelas di atas dua roda, ngobrol ngalor ngidul, bercanda-canda. Tawa riang kami dihempas lembut angin jalanan kota kecil kami yang tenang dan sepi. Ah, kisah klasik di atas dua roda, dan aku paling suka ketika tangannya diam-diam memegang jemariku yang melingkar di pinggangnya. Tanpa kata, hanya degup jantung yang menerbitkan senyum-senyum, tapi aku tau hatinya berbisik “Percayalah, aku akan menemanimu selamanya” .Berdua makan sate kambing dengan nikmatnya, dan sama sekali tak terpikirkan bahwa Syujun akan lahir tengah malam nanti.

16.00 wib. Sejak usia kandungan 36 minggu, aku rajin berjalan kaki. Latihan relaksasi, pernafasan, senam hamil, dan yoga kujalani, hamil kan cuma bentar jadi harus dioptimalkan semaksimal mungkin, ngelahirin cuma terjadi beberapa kali seumur hidup jadi harus diusahakan sealami mungkin. Kau tahu, persalinan bagiku adalah suatu every-woman-can-do-it thing, tantangan yang terniscayakan. Pun butuh belajar, ikhtiar, dan doa. Dan pada akhirnya, Allah yang akan megatur skenarionya dengan sangat rapi. Hari ini hari sabtu, suamiku di rumah, dan entah kenapa aku tak ingin jauh-jauh darinya, kangenn, minggu malam ia akan ke hutan lagi, pikirku. Alih-alih jalan kaki ke sawah, aku memilih jalan kaki di rumah saja, dari ujung ke ujung, belok-belok mengitai sofa dan lemari, dan diam-diam selalu kubisikkan pada Syujun, “lahirlah pada hari sabtu atau mingu aja sayang, agar ada ayah menemanimu menyapa dunia untuk pertama kalinya”.

18.00 wib. Belum ada tanda-tanda persalinan, semua masih berjalan seperti biasanya, kontraksi braxton hicks masih setia mengajak Syujun bercanda. Namun aku tetap tak ada firasat apa-apa kalau Syujun lahir tengah malam nanti.  

21.00 wib. Kami berdua telah terlelap, jalan-jalan tadi siang cukup menguras energi. Ke toko sepatu tak ada sepatu yang cocok, ke toko maternity, tak ada bantal menyusui, ke toko perlengkan bayi tak ada apron menyusui, yang enak cuma sate kambing hehe. Tiba-tiba ada rasa nyeri di perut, light sih, kayak lagi dapet aja rasanya. Diam-diam kuhitung frekuensi kontraksinya. Wow! 5 menit sekali, katanya kalo udah gini udah mulai pembukaan leher rahim. Rada panik.

21.15 wib. Kontraksinya benar-benar teratur tiap 5 menit sekali. Rasanya nyeri di perut bawah dan pinggang, biasa saja rasanya kayak pas lagi dapet hari pertama. Lalu aku bangunin suamiku, “Say, jangan-jangan Syujun pengen lahir malam ini?”.

21.45 wib. Yakin banget kalo ini bukan kontraksi palsu. Habis sms-an sama temen yang jadi bidan, kata dia “langsung ke bidan aja fah kali aja udah pembukaan”. Oke! Hatiku berdebar kegirangan sekaligus deg-degan pangkat seratus!.

21.50 wib. Suamiku yang masih bertampang cool and charming, tersenyum-senyum saja melihat istrinya kebingungan di depan lemari baju, sibuk memilih-milih “Duuuh… Baju mana ya yang paling oke buat melahirkan???” takut salah kostum di depan Syujun nanti, heheh (lately kupikir-pikir ini sangat ga penting -_-“). Sementara ibuku malah panik, dan menyuruh kami buru-buru ke bidan.

21.57 wib. Di atas dua roda di jalan yang bergelombang menuju rumah bidan. Gerimis turun lembut satu-satu, untungnya rumah bidan cukup dekat. Diperiksa, eh ternyata udah bukaan tiga! Kirain kami bakalan disuruh balik ke rumah, tapi bu bidan suggest me to stay. Ayah, ibu, bulik datang bawa perlengkapan bayi dan baju gantiku. Semuanya menenangkan, aku masih santai-santai aja, ga sabar ketemu Syujun.

23.00 wib. Kontraksi semakin intens, tiga menit sekali. Bukaan lima! Atur nafas sambil dzikir relaksasi. Ketika kontraksi berlangsung, kadang masuk fase sadar kadang totally relax yang bikin tubuh nyaman banget dan ga segitunya sakit. Ga sia-sia latihan relaksasi tiap malam, benar-benar ngefek to handle any situation with ease. Tubuhku terkontrol. Kunikmati setiap gelombang rahim datang dengan desahan dzikir, tentu sambil meremas jemari suami (rasanya ga afdol kalo ga ada adegan ini kan ya? Hehe). Meringis-ringis saja, namun ga jerit-jerit histeris. Suara kodok dan jangkrik dari sawah sebelah menambah syahdu dan dramatis suasana. Oh.. Syujun, lihatlah semua siap menyambutmu!

24.00 wib. Dada dan pundak suamiku adalah sandaran ternyaman di dunia! Ketika aku menarik nafas sedalam-dalamnya dan berusaha tetap rileks. Bau anyir menyerbak! Kukira ketubanku pecah, tapi muka bidan terlihat agak panik, little did I know ternyata pendarahan aktif. Untungnya kontraksi semakin intens, bukaan semakin lebar, dan memang terasa semakin berat untuk rileks. Tapi beneran pas rileks banget, rasa nyeri kontraksi terasa ‘smooth’ banget.

00.30 wib. Nampaknya ini fase transisi, biyuuuh ini kontraksi rahim terhebat yang membuat desahan nafasku habis sehabis-habisnya. Semakin aku meringis semakin penuh cinta suamiku memeluk dan menciumku, benar-benar menguatkan!. Lalu reda. Lalu muncul lagi dan ups! Refleks aku mengejan dong! Bu bidan dan asisten penasaran, bilang jangan ngejan dulu ya mbak, eh ternyata pas dicek udah bukaan lengkap. Ayo saatnya mengejan! Entah kenapa aku malah bahagia ya pas ini, rasa sakitnya udah berlalu. Sekarang berganti ngos-ngosan ngumpulin nafas dan energi mengejan. Bu bidan ngajarin cara ngejan yang baik, lucky me udah baca dokumen di itb motherhood tentang teknik mengejan. Langsung praktekin pas hari H lah, hehe. Seruuuuu! Hehehe.. Kayaknya ini detik-detik persalinan yang aku suka! Meski keringat bergelundungan segede kacang kedele, dan tubuh suamiku di belakang punggungku tetap tangguh menyanggaku nervously! Tapi inilah detik-detik yang kami tunggu!

00.45 wib. 11 Maret 2012. Mak pruncull! BROJOL! Oooohh rasanya legaaaaaaaa selega-leganya. Kayak sembelit akut trus tiba-tiba bisa keluar. Hehehe. Alhamdulillah… Itulah kata pertama yang terucap sambil ngos-ngosan sisa-sisa mengejan. Semua orang tersenyum tertawa puas! Syujun sempurna! Saat dia diletakkan di dadaku, kubisikkan namanya untuk pertama kalinya “Izzaldine Syufyan”, Ya Allah.. Rasanyaaaa Mak Pyooooooooohhhh…. Udah lupa segala usaha pembrojolan tadi, hehe. Bahkan pas dijait pun ikhlas-ikhlas aja, ga kerasa sakit amat kalo makhluk mungil itu main-main lucu di hadapanku, masih basah, masih keriput, masih berbau campuran air ketuban dan darah, aaaaaaahh tapi indaaaah sungguh! Kalo ternyata kayak gini imbalannya, aku bisa paham kenapa ga ada wanita yang kapok melahirkan!. Saat IMD itu juga ayahnya melantunkan Adzan di dekatnya, subhanallah, makin meleleh hati ini, semua orang di ruangan sederhana itu, aku, suamiku, ibu,dan tante, terpana melihat Izzaldine. Sementara bu bidan dan asisten sibuk dengan sabar merapikan keadaan, agak panik karena plasenta lengket di dalem, ga keluar-keluar, hehe. Tapi tetap saja aku ga terlalu peduli, semua fokus hidupku ada pada Izzaldine saat itu! Rasanya berkedip pun menyesal demi melihatnya sepanjang waktu.

02.00 wib. Semuanya beres, Syujun yang kini bernama megah Izzaldine Syufyan telah dibedong rapi dan ditidurkan di inkubator di dekatku, ruangan bersalin ini dingin, angin sawah sebelah menerobos jendela yang tak tertutup sempurna, lelap sekali tidurnya di dalam boks itu, kayaknya dia capek sekali melewati proses pembrojolan tadi. Hehe. Di kursi sebelahku, suamiku yang tak kalah cute di tengah kelelahannya, kembali melontarkan lelucon-lelucon yang membuatku tertawa, hehe, dia bilang tulang jemarinya patah dan kakinya kram pas menyangga aku tadi haha, lebay sungguh. Aku sangat berterima kasih padanya, the best man I ever had has done jis job very very well. Rasanya dia yang paling bersusah payah dalam usaha pembrojolan ini, terima kasih suamiku sayang :) . Aku sendiri merasa segalanya sangat cepat dan ga sesakit yang kusangka sebelumnya. Dan memang cepat, bu bidan memprediksi akan brojol jam 5 pagi, ternyata Syujun udah ga sabar pengen ketemu kami hehe, jam 1 pagi sebelas maret dengan lucunya dia telah menyapa dunia. Dan dia benar-benar lahir sesuai harapanku : hari minggu saat ayahnya ada menemaniku :)

08.00 wib, pulang dari rumah bidan. Welcome Izzaldine! Alhamdulillah.. Recovery pasca persalinanku relatif cepat, sampai beberapa orang mewanti-wanti agar jangan over-pecicilan takut jahitannya mbrodol (weww??!). Tapi alhamdulillah baik-baik saja, cuma perut yang masih bergelambir sensasinya rada ga enak, well.. hope it back in to my shape soon. Berjuta-juta syukur tak terkira kupanjatkan pada Allah atas nikmat kehamilan dan persalinan yang menyenangkan ini. Izzaldine adalah permata mungil kami, amanah yang akan kami jaga sebaik-baiknya. Aldin kecilku, bunda berjanji akan menjadi bunda terbaik untukmu sayang :-)

7 responses to “Syujun 38 weeks 6 days : Detik-Detik Syujun Menyapa Dunia

  1. Wah..mengingat moment-moment ini…Subhanallah, campur aduk…antara tegang, takut, dan senang….
    aku sayang kalian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s