Renungan 38 weeks of Little Syujun

Sudah hampir mendekati hari kelahiran anak keduaku, tubuh terasa makin berat, beraktivitas dengan berat idealku yang surplus 11kilogram bukanlah hal yang mudah. Punggung sering pegal. Otot-otot kaki susah di ajak kompromi, kalo ga dipake jalan-jalan pagi malamnya akan kram, kalo exercise too much pegalnya subhanalloh. Sering banget aku mengeluh pada suamiku :( yang dengan sabar mijitin kaki pegal2ku.

Abang bilang, aku ga boleh seperti itu. I need to cherish every moment of this pregnancy. Karena yang aku bawa itu makhluk bernyawa dan berperasaan. Dia akan sedih kalo tau ibunya ternyata tak bahagia atas keberadaannya, karena detak jantungnya ada di dalam tubuhku, dia bisa merasakan apa yang aku rasakan. Ya Allah rasanya.. seperti tersadarkan. Akhir-akhir ini aku jarang berbicara dari hati ke hati dengan janinku ini. Padahal dulu pas hamil Aldin aku sering banget mengajaknya ngobrol, bahkan bercanda.

Aku tahu aku harus bersikap adil kepada anak-anakku nanti, situasi dan keadaannya memang sangat berbeda dengan ketika aku hamil Aldin dulu, belum ada sang kakak yang sangat aktif dan punya rasa ingin tahu sangat tinggi. Keinginannya kadang memaksaku beraktivitas lebih, hingga emosiku sangat capek, gak sabaran :(. Mungkin inilah lesson learned dari hamil kedua. Harus makin pintar membagi waktu dan emosi, untuk anak pertama dan kedua.

Awalnya aku kira selama hamil ini aku harus banyak memperhatikan Aldin, karena setelah lahiran aku akan terfokus pada adiknya. Ternyata aku salah, aku harus mulai merasa memiliki keduanya sekarang, dan bukan nanti. Keduanya adalah anakku, aku harus memberikan perhatianku pada keduanya mulai sekarang. Setelah adik lahir pun, kakaknya juga tak boleh kulepas kubiarkan sendiri. Aku akan melibatkannya dalam mengurus adiknya nanti.

Rasanya aku perlu ‘me time’ dengan janin anak kedua-ku ini. Berbicara dari hati ke hati, berimajinasi keberadaannya nanti setelah hadir di dunia. dan mengatakan padanya bahwa aku pun mencintainya. Bahwa aku sangat merindukan menggendongnya, menciumnya dan membelainya. Sangat menginginkan agar dia terlahir dengan aman, nyaman, tenang dan menyenangkan. Dan lahir menjadi anak yang sholeh, cerdas, dan bahagia.

Bismillah, Ya Allah, lancarkan proses persalinanku nanti, serta beri hamba kekuatan dalam urusan parenting kedua anakku nanti. Berikan stok kesabaran yang tak pernah habis. Berikan ilmu yang selalu bertambah. Karena ini amanah besar dari-Mu, karena peradaban dunia dipercayakan di tangan para ibu, termasuk aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s