Semua demi rafia orange

Pagi itu diawali dengan sebuah target : mendapatkan rafia orange hari itu juga! Karena emak rempong ini kelewat lupa nyekroll chat WhatsApp Group TKB yang mana mewajibkan para siswanya membawa rumbai rafia keesokan harinya, yang itu berarti rumbai rafia harus didapat dan dibuat dalam waktu satu hari. Demi suksesnya pertunjukan Yamko Rambe Yamko TKB Aldin. 

Aku tidak banyak menyangka bahwa mencari rafia akan serumit ini. Pagi2 setelah segala kerempongan drama mandi pagi supaya ga terlambat, Yess it’s drama yang terkadang aku bingung bagaimana mengolahnya menjadi sebuah kronologi dengan sejuta pembelajaran dan pendidikan kemandirian anak.

 Drama adalah ketika kamu pengen mengajarkan anak-anak mandiri mandi sendiri pakai baju sendiri tapi waktu sangat mepet, dan yang namanya anak-anak, baru masukin satu kaki ke celana eh lanjut masang Lego sambil ngobrol,

“Bun tau ga, ini tu sebenarnya dia astronot, coba lihat helm nya. Ya kan ya kan”

dalam hatiku ya iyalah nak -_- dari jauh juga emang astronot, the things is waktunya udah mepet banget nak, kamu harus masuk sekolah tepat waktu, di dunia ini ga ada aturan sekolah yang mentoleransi keterlambatan, pihak sekolah  udah melakukan survei bahwa keterlambatan anak masuk sekolah itu 80% disebabkan manajemen waktu keluarganya dan itu artinya kalau kamu terlambat itu salahnya bunda nak, bunda ! kamu harus disiplin, hidup ini keras, jiwa kita harus terlatih cekatan, jangan kelamaan pakai baju, nanti kamu terlewat mendengarkan bel sekolah yang nyaring, pliss!

 Tentu saja omelan itu hanya nyangkut di tenggorokan, ibu yang baik kata seminar parenting harus bisa mengendalikan amarah dan omelan. “Oooo… Astronot mas, Pantesan dia helm nya putih ya!” Ekspresi yang sangat dibuat2, pada saat yang sama si adek teriak2 minta handuk, lari ke kamar mandi nyamber handuk sekaligus “ngentas” si adek dan membungkusnya dengan handuk sementara untuk si kakak ujung-ujungnya aku yang makein baju, pelajaran kemandirian gagal, tapi pelajaran tata surya dimulai, 

“Bun, kenapa astronot itu harus pake helm? Kenapa dia harus bawa tas? Gaya gravitasi itu apa?” Thanks to ibu kita Kartini, kalo sampe jaman sekarang wanita masih ga boleh sekolah, bagaimana seorang ibu bisa menjelaskan ilmu tata surya dan mensimulasikan gaya gravitasi tanpa pendidikan tinggi? Masih ada yang nyinyir kalo lulusan perguruan tinggi dilarang jadi ini rumah tangga? Lalu siapa yang akan menjelaskan komponen-komponen baju astronot, asteroid, meteor, dan segala pengetahuan kosmik sepagi ini?

 Dengan mulut yang terus berkuliah tata surya, tangan-tangan tak berhenti merapikan baju, mengancingkan batik sang adek dan membuatnya bangga pakai baju batik hari ini kamu jadi Presiden ya ! Padahal kan emang seragam of today adalah batik, dan dia kadang protes kenapa Taqi harus pakai batik? Kan mas Aldin ga pakai batik? Di dunia ini ga semua harus sama nak, lanjuuttt kuliah tentang batik, kenegaraan, kenapa pakai baju batik. Yess, Well Done! Aldin Taqi siap, kuliah tata surya dan kewarganegaraan selesai. 

Thanks to another women selain ibu kita Kartini adalah kepada Mbak Yay, yang mana si mungil sudah dimandikan juga olehnya, di balik ibu yang sehat jiwa dan raga, ada embak yang tangguh di belakangnya, and mbak Yay made it. 

Siap berangkat sekolah, perut anak2 sudah terganjal sedikit sarapan, dan berhasil cium pipi kanan kiri saat bel tanda masuk berbunyi adalah kebahagiaan terbesar pagi itu, kemudian melihatnya berlari excited menuju kelas bareng sama teman-temannya adalah momen paling mengesankan bagi seorang ibu, mirip iklan-iklan di tivi banget.

 Oh entah kenapa bunyi bel sekolah itu sangat nyaring! Kelamaan terbuai nostalgia baru nyadar, ternyata Taqi masih gandeng tanganku, kelas playgrup nya memang baru mulai setengah jam lagi, jadi santai aja, “Udah bun sampai sini aja antarnya, dadaaa” senyumnya maniiiisss sekali. Duh nak, kamu masih terlalu imuuut untuk adegan kemandirian seperti iniiii T_T malah mewek. 

Dasar emak2, anaknya manja disuruh mandiri, giliran anak mandiri malah mewek kok waktu cepat sekali berlalu. Jam sekolah dimulai, perjalanan awal mencari rafia orange pun dimulai!

Sebagai member generasi milenial yang sekaligus merangkap menjadi aktivis online, mencari barang yang spesifik di pasar tradisional-semi-modern adalah tantangan besar! Yess meskipun judul yang terpampang nyata di pasar ini adalah Pasar Modern Bintaro, di mana pasar ini terkenal bersih dan kinclong, Dian Pelangi berfoto pas belanja sayur pun sangat Instagram-able di sini. Viral menuai banyak like dan bahkan di-endorse perusahaan HP terkenal pun demi berfoto selfie saat beli sayur di pasar ini! Ya Tuhan, kenapa ya kalo aku yg foto si sini rada mustahil rasanya, rame banget cuuy ! Confidentless. Mungkin itulah yang membedakan antara selebgram vs emak rempong (malah curhat -_-, terima nasib). 

Pun begitu, hati kecilku tetap mengatakan ini cuma pasar tradisional, Pasar Modern yang ideal menurutku adalah yang ada katalog Inventory nya yang bisa dicari pakai keyword online!

Tahukah kamu Generasi milenial ini jempolnya sudah terlatih mencari keyword dan tombol search, dan saaangaaaat tidak terlatih mentalnya ketika lagi dan lagi mendapati gelengan demi gelengan : ” Pak ada tali rafia warna orange?”, “Mbak, punya tali rafia orange ?” , “Mas, jual rafia warna orange?” Belasan bahkan puluhan gelengan suram akhirnya harus kuterima dengan lapang dada.

Toko demi toko kulalui, sampai kehabisan toko plastik, toko mainan dan toko suvenir pun kusambangi, ribuan pulau, ratusan kota, seribu purnama berlalu, sampai pegal kaki ini pun tak kunjung rafia orange muncul ke permukaan dan tertangkap retina. 

Hingga suatu ketika, “Ada bu, tapi gede mau?” Mauuuu maas! Serahkan pada saya! Berapapun harganya saya beliii ! Teriak hatiku Ya Allah apakah ini pertanda pencarian segera berakhir… detik demi detik si Mas Penjual masih mencari sana sini di antara tumpukan plastik, kolong gelas-gelas plastik, menit demi menit dia pun garuk-garuk kepala, akhirnya kandas diakhiri dengan senyum2 nyengir ” Maaf bu, ternyata udah habis.. tadi sih padahal masih ada lho, maaf ya bu..”. Lemes lutut ku. 

Kalo air mukaku udah suram gini tau lah ya siapa yang paling perhatian sama aku, tak lain tak bukan adalah suamiku tercintah. “Udah lah.. mau gimana lagi, pulang yuk, Cari aja di tokopedia yg bisa digojekin hari ini juga”. Jempolku beraksi, Ya Allah susah banget nyari rafia orange ini, dari sekian banyak toko plastik yang telah kutelusuri di pasar ini warna paling banyak adalah hitam, merah, kuning, biru, Lha orange??? Gak ada T_T dalam hatiku kenapa harus anakku yang kebagian jatah warna orange, ini pasti gurunya gak survei dulu warna rafia yang paling umum yang dijual di kawasan Bintaro (Ya kali bu guru kan bukan pegawai statistik keles). 

Keyword demi keyword, filter demi filter, semua telah kucari hingga mataku tak lepas dari Smartphone sepanjang perjalanan pulang. Lagu favorit yang diputar di radio pun cuma suamiku yang nyanyi karena saking galau ya hati ini, apa kata dunia kalau sampai anakku gak bisa percaya diri di pertunjukan nanti? Emak macam apa aku ini? Kenapa gak cari dari kemarin-kemarin? Kenapa baru cari sekarang? Kenapa oh Kenapa? Mengapa oh Mengapa? Sungguh pikiran-pikiran tak solutif, sementara suamiku masih asik nyetir sembari sesekali bersenandung dan melihat-lihat kanan kiri, kalo aja ada toko plastik di pinggir jalan yang menjual rafia warna orange. Aku tahu sebenarnya dia menyanyi untuk menghibur aku, biar gak panik berlebihan, namun strateginya gagal. Panic overloadd !!! 

Sampai kaki kami menginjakkan warehouse-workspace ya sebut saja kantor yang berantakan tempat kami bekerja mengumpulkan pundi-pundi emas, pencarian rafia orange di salah satu marketplace terbesar di Indonesia ini pun gagal, ada sih yang jual rafia orange ukiran gede, sebesar helm paling besar mungkin, tapi lokasi seller-nya di Denpasar ! Which is itu ga mungkin banget nyampe sini dalam beberapa jam, waktuku tinggal setengah hari mencari rafia orange. Dan jam dinding terus berdetak, ga bisa di-pause, gak ada tombol undo CTRL+Z dalam kehidupan ini. 

Tiba-tiba, eh ada ni! Secercah harapan membumbung tinggi di udara ! Pakai keyword “tali rafia” ada seller di Jakarta yang menjual! Dan yang penting bisa delivery pakai Gojek 4 jam sampai! Ya Allah apakah ini karunia-Mu ? 

Mendadak jaringan internet menjadi sangaaat lambat ketika aku bersuka cita euforia penuh harapan mengontak seller ini! “Kak, yang warna orange ready? Bisa gojekin hari ini juga?”. Plis cepet baleeess, rasanya gemes kayak nungguin chat gebetan. 

Detik demi detik berlalu, seller ini bintang reputasinya banyak pasti trusted pasti ready lah, kepanikan mereda dan aku mulai bisa mengalihkan dengan kembali bekerja, ngatur2 para staf, diskusi-diskusi seputar launching produk besok, persiapan-persiapan semua hampir beres, ya memang I’ve worked hard on it, perfect preparation begadang malam tak sia-sia, parahnya sampai melupakan persiapan pertunjukan pentas seni anakku T__T coba aku siapin sejak kemarin2, meski mahal, meski jauh sampai Denpasar pun akan ku bayar demi Rafia Orange. 

Tahukah kamu arti pertunjukan pentas seni bagi anakku? Ketika dia melihat wajah ayah bunda nya duduk di jajaran penonton,  dia akan tersenyum ketika aku melambaikan tangan, bersorak-sorak, bertepuk tangan dan mengacungkan dua jempol dari jauh dan mengangguk-angguk, dia mendapat kekuatan dan kepercayaan diri bertubi-tubi, senyumnya sangat bahagia, semua persiapan latihan pentasnya akan dia perlihatkan pada orangtua kesayangannya, “Bun, aku udah latihan nih bun, lihat nih aku hebat banget, berani, gak nangis lho!, hebat kan?” , “Bunda harus datang ya, nanti video-in Aldin ya” . Ekspektasi maksimal dengan segala keceriaan yang dia miliki. Apa jadinya kalo nanti dia tak percaya diri salah kostum gara-gara kelalaian emaknya T__T itu akan menjadi penyesalan sepanjang masa tiada tara bagiku. 

Jling! Notif tokopedia ! Seller nya bales! ” ada gan, tapi ini agak merah”, waduh aku agak curiga ni, soalnya di foto jelas-jelas ini orange warnanya, aku chat lagi lah ” Maksudnya gimana kak? Orange agak merah apa emang merah ? ” aku pastikan lagi warnanya takutnya salah. Tik tok tik tok.. “Duh slow respon banget sih!” kebiasaan buruk emak2 yang menurut Einstein tentang teori dilatasi waktu itu benar adanya, lima menit bagi seorang seller itu termasuk fast respon ketika dia harus menghadapi ratusan chat, sementara di HP mamak2 mana ada notif segambreng, yang ada cuma chat sama si olshop seller, maka jadilah lima menit rasa lima tahun purnama, gak sabaran nungguin chat, kalo aku gak pernah jualan online, dengan kondisi level panik tingkat kecamatan kayak gini, dan respon seller nya super PHP, pasti udah nge-chat PING ..!! PING..!! Yakalee ini BBM, Lha wong chatroom Tokopedia -__-, untungnya sekali lagi aku aktivis online yang cukup sabar dan terlatih belanja online, jadi cukup kalem lah, padahal hati ini rasanya udah pengen banting Hapeee ! Cepetan bales woooooyyy! Anak gue mau pentas butuh rafia orange baleeeessss!!!! 

Jling ! “Maaf gan, ini merah warnanya, kena cahaya flash pas moto jadi orange ”

Duh Gusti.. ujian apa lagi ini.. 

Rasanya pengen nangis, tak mampu bersuara tapi suamiku pasti bisa baca pikiranku, “Ya udah, kita cari ke pasar lain yuk, usaha aja, kali aja ada, sekalian jemput anak-anak pulang sekolah” Selepas menyusui si mungil dan kiss bye muah muah, Saka dipegang mbak Yay lagi dan kami bergegas hit the road lagi, Bismillah Ya Allah berilah keajaiban. 

Perjalanan kembali melewati jalan Merpati Raya yang masih ada beberapa Toko Plastik , sempat mampir ke Toko Pkastik milik tetangga kompleks, pun nihil, adanya warna kuning dan merah. Aku lihat chatroom WhatsApp group ibu2 yang anaknya satu grup sama Aldin, sama nasibnya! Ada yang masih struggle juga mencari tali rafia orange, susah juga dia nyari nya sampo bilang “kalau sampai sore ini belum dapet, paling aku beli rafia merah dan kuning aja Buibu, berharap warnanya nge-blender jadi orange” wkwkkwkwkw :D :D Aku pun agak lega karena ada teman seperjuangan. 

“Yaudah say, nanti beli yang merah atau kuning aja buat cadangan, sampai kita menemukan rafia orange nya” pikirku. Waktu semakin mepet, belum lagi butuh waktu untuk menyuwir2 rafia nya menjadi rumbai. Dan kata bu Guru harus dikumpulkan BESOK! Deadline is a deadline. 

Ketika hati ini mulai pasrah, ikhlas, dan hampir menyerah, tiba-tiba Allah menunjukkan kuasanya. Jalanan Merpati Raya yang agak2 kencang mendadak ada truk besar lewat melambat yang membuat seorang pedagang plastik bermotor yang tampak terseok-seok dengan tumpukan ember, gelas plastik, sedotan, bola-bola plastik, dan tumpukan RAFIA ! Ya, R.A.F.I.A ORANGE ! 

Kejadian ini hanya beberapa detik, sontak suamiku buka kaca samping, pas saat berpapasan di TENGAH JALAN dia ngerem dan “Mas Rafia nya dijual mas? Saya mau beli! ” “Iya Pak” si mas penjual pun ngerem. Lhaa INI DI TENGAH JALAN, aku nengok belakang ada mobil ikut ngerem, wah bahaya bisa diklakson dan terjadi kemacetan berjamaah gara-gara Rafia Orange. Suamiku pun teriak, ” belok sana aja mas!” , Ya Allah kok pas banget ada belokan menuju halaman ruko Harvest Bintaro yang lumayan lengang parkirannya, kami pun belok, aku turun dari mobil. Benar adanya, si mas ini habis belanja dari distributor plastik! 

“Wah bu, tapi saya ga bisa jual satuan bu, ini buat toko-toko kelontong, jadi kalo ibu mau beli harus satu pack gini semua” 

Wah. Aku tengok suamiku yg masih nyetir, bertanya pakai bahasa isyarat, gimana nih harus dibeli semuanya? dia manggut2 aja pertanda “Pokoknya berapapun harganya beli aja”. 

“Yaudah mas, pas nya berapa?” Berniat menawar biar ga dikerjain. 

“30.000 aja bu, saya samain kayak harga toko” 

Lhaa ternyata murah amat! 30.000 isi 50 roll rafia kecil yang harga satuannya 2000, *wih margin lu lumayan cuy lama2 gue jualan rafia lah (mohon maklumi lintasan pikiran pedagang, meski panik tetep mikir margin profit :p). Iya sih satu set banyak warna, tapi melihat warna orange bertengger nyempil di sana membuatku sadar bahwa ini benar-benar pertolongan Allah. Ya Allah terima kasih! Perhitungan manusia tak selalu benar, filter search marketplace tak selalu pandai mencari, pedagang toko plastik di pasar tak pernah akan tau bahwa warna orange mendadak jadi best seller, tapi Allah selalu tahu ketika hamba-Nya membutuhkan keajaiban. 


This is RAFIA ORANGE! Ya Allah.. baru kali ini seumur-umur aku beli rafia duaribuan dengan perasaan bahagia selangit dan bumi seperti ini. 

Begitulah anak-anakku, Allah ga melihat hasil yang kamu dapat, tapi Dia melihat usahamu, sejauh apa kamu memperjuangkannya, sekuat apa usahamu mendapatkannya, karena kelak ketika sudah dapat, bahagianya benar2 membuatmu bersyukur langit dan bumi bersujud seharian pun tak cukup. Hati ini pun terasa hangat, terima kasih Ya Allah. Ini benar-benar keajaiban. 

*** 

Malam ini adalah malam begadang untuk anak, demi rumbai rafia yang tersuwir rapi, “ayo anak-anak tidur, bunda mau kerja bikin rumbai”, kemudian Taqi pun merayu-rayu “Bun, taqi juga mau, warna hijau semen bun, Taqi mau dibuatkan itu juga”, aku pun bengong, “Taqi kamu ga perform sayang, yang perform Mas Aldin, besok kita nonton” , Tapi Taqi mauu, sudut mulutnya turun, matanya berkaca-kaca, Taqi mau juga. Oh My God, lembur malam ini akan dua kali lipat karena Taqi pun mau dibuatkan -_-” . “Bun, ingat ya, yang punya Taqi dibuat juga ya, Taqi tidur, kamu yang buatin” dan Ayahnya cekikikan di kasur meluk sang Kakak, Duh enak banget hidupmu! “iya.. Iyaa.. kalian tidur aja, besok bangun tidur udah magic nih, jadi semuanya”. Sementara Saka masih asik sendiri main-main tali rafia, mengurutkannya mencari ujungnya sambil terheran-heran “mmmm?? mmm?” ekspresi penasaran tembem maksimal, Rafia Saka ini rafia, Saka Bantuin bunda ya, cuma aku dan Saka yang terjaga malam itu karena memang sore hari si mungil ini sudah tidur. Akhirnya satu persatu pun semuanya tidur. 

*** 



Performance dimulai semua orang senang. Anak-anak sangat percaya diri, guru-guru yang tulus, sederhana tapi bermakna, khas sekolah alam. 

Sorak sorai tepuk tangan riuh, sesaat sebelum musik dimulai anak-anak punya request untuk ayah bunda “Mamaaa.. jangan lupa film-in yaa”, “Ayaaah nanti kalo kalo akuu.. hebat.. nanti habis ini aku aku.. mau dibeliin komputer ya ayah yaa, yaa yaa” cadel cadel gemesin khas anak-anak TK. Mata-mata mereka hanya mengarah ke salah satu dua penonton yaitu keluarganya, ayahnya, bundanya, neneknya, kakeknya, adiknya, terharuuu rasanya melihat si kecil bisa tampil percaya diri dengan kelincahan yang sangat memukau. Semua orang bahagia. Dan yang paling kucari hari itu adalah senyum Aldin. Senyum Aldin ketika matanya mencari-cari ku di antara kerumunan penonton yang memadati acara, Mas! bunda di sini ! Teriakku dalam hati sambil melambaikan tangan akhirnya mata kami bertemu dan dia tersenyum sangat manis! Ya Allah bahagianya hidupku. Ini benar2 sudah cukup Ya Allah.. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s