Semua demi rafia orange

Pagi itu diawali dengan sebuah target : mendapatkan rafia orange hari itu juga! Karena emak rempong ini kelewat lupa nyekroll chat WhatsApp Group TKB yang mana mewajibkan para siswanya membawa rumbai rafia keesokan harinya, yang itu berarti rumbai rafia harus didapat dan dibuat dalam waktu satu hari. Demi suksesnya pertunjukan Yamko Rambe Yamko TKB Aldin. 

Aku tidak banyak menyangka bahwa mencari rafia akan serumit ini. Pagi2 setelah segala kerempongan drama mandi pagi supaya ga terlambat, Yess it’s drama yang terkadang aku bingung bagaimana mengolahnya menjadi sebuah kronologi dengan sejuta pembelajaran dan pendidikan kemandirian anak.

 Drama adalah ketika kamu pengen mengajarkan anak-anak mandiri mandi sendiri pakai baju sendiri tapi waktu sangat mepet, dan yang namanya anak-anak, baru masukin satu kaki ke celana eh lanjut masang Lego sambil ngobrol,

“Bun tau ga, ini tu sebenarnya dia astronot, coba lihat helm nya. Ya kan ya kan”

dalam hatiku ya iyalah nak -_- dari jauh juga emang astronot, the things is waktunya udah mepet banget nak, kamu harus masuk sekolah tepat waktu, di dunia ini ga ada aturan sekolah yang mentoleransi keterlambatan, pihak sekolah  udah melakukan survei bahwa keterlambatan anak masuk sekolah itu 80% disebabkan manajemen waktu keluarganya dan itu artinya kalau kamu terlambat itu salahnya bunda nak, bunda ! kamu harus disiplin, hidup ini keras, jiwa kita harus terlatih cekatan, jangan kelamaan pakai baju, nanti kamu terlewat mendengarkan bel sekolah yang nyaring, pliss!

 Tentu saja omelan itu hanya nyangkut di tenggorokan, ibu yang baik kata seminar parenting harus bisa mengendalikan amarah dan omelan. “Oooo… Astronot mas, Pantesan dia helm nya putih ya!” Ekspresi yang sangat dibuat2, pada saat yang sama si adek teriak2 minta handuk, lari ke kamar mandi nyamber handuk sekaligus “ngentas” si adek dan membungkusnya dengan handuk sementara untuk si kakak ujung-ujungnya aku yang makein baju, pelajaran kemandirian gagal, tapi pelajaran tata surya dimulai, 

“Bun, kenapa astronot itu harus pake helm? Kenapa dia harus bawa tas? Gaya gravitasi itu apa?” Thanks to ibu kita Kartini, kalo sampe jaman sekarang wanita masih ga boleh sekolah, bagaimana seorang ibu bisa menjelaskan ilmu tata surya dan mensimulasikan gaya gravitasi tanpa pendidikan tinggi? Masih ada yang nyinyir kalo lulusan perguruan tinggi dilarang jadi ini rumah tangga? Lalu siapa yang akan menjelaskan komponen-komponen baju astronot, asteroid, meteor, dan segala pengetahuan kosmik sepagi ini?

 Dengan mulut yang terus berkuliah tata surya, tangan-tangan tak berhenti merapikan baju, mengancingkan batik sang adek dan membuatnya bangga pakai baju batik hari ini kamu jadi Presiden ya ! Padahal kan emang seragam of today adalah batik, dan dia kadang protes kenapa Taqi harus pakai batik? Kan mas Aldin ga pakai batik? Di dunia ini ga semua harus sama nak, lanjuuttt kuliah tentang batik, kenegaraan, kenapa pakai baju batik. Yess, Well Done! Aldin Taqi siap, kuliah tata surya dan kewarganegaraan selesai. 

Thanks to another women selain ibu kita Kartini adalah kepada Mbak Yay, yang mana si mungil sudah dimandikan juga olehnya, di balik ibu yang sehat jiwa dan raga, ada embak yang tangguh di belakangnya, and mbak Yay made it. 

Siap berangkat sekolah, perut anak2 sudah terganjal sedikit sarapan, dan berhasil cium pipi kanan kiri saat bel tanda masuk berbunyi adalah kebahagiaan terbesar pagi itu, kemudian melihatnya berlari excited menuju kelas bareng sama teman-temannya adalah momen paling mengesankan bagi seorang ibu, mirip iklan-iklan di tivi banget.

 Oh entah kenapa bunyi bel sekolah itu sangat nyaring! Kelamaan terbuai nostalgia baru nyadar, ternyata Taqi masih gandeng tanganku, kelas playgrup nya memang baru mulai setengah jam lagi, jadi santai aja, “Udah bun sampai sini aja antarnya, dadaaa” senyumnya maniiiisss sekali. Duh nak, kamu masih terlalu imuuut untuk adegan kemandirian seperti iniiii T_T malah mewek. 

Dasar emak2, anaknya manja disuruh mandiri, giliran anak mandiri malah mewek kok waktu cepat sekali berlalu. Jam sekolah dimulai, perjalanan awal mencari rafia orange pun dimulai!

Sebagai member generasi milenial yang sekaligus merangkap menjadi aktivis online, mencari barang yang spesifik di pasar tradisional-semi-modern adalah tantangan besar! Yess meskipun judul yang terpampang nyata di pasar ini adalah Pasar Modern Bintaro, di mana pasar ini terkenal bersih dan kinclong, Dian Pelangi berfoto pas belanja sayur pun sangat Instagram-able di sini. Viral menuai banyak like dan bahkan di-endorse perusahaan HP terkenal pun demi berfoto selfie saat beli sayur di pasar ini! Ya Tuhan, kenapa ya kalo aku yg foto si sini rada mustahil rasanya, rame banget cuuy ! Confidentless. Mungkin itulah yang membedakan antara selebgram vs emak rempong (malah curhat -_-, terima nasib). 

Pun begitu, hati kecilku tetap mengatakan ini cuma pasar tradisional, Pasar Modern yang ideal menurutku adalah yang ada katalog Inventory nya yang bisa dicari pakai keyword online!

Tahukah kamu Generasi milenial ini jempolnya sudah terlatih mencari keyword dan tombol search, dan saaangaaaat tidak terlatih mentalnya ketika lagi dan lagi mendapati gelengan demi gelengan : ” Pak ada tali rafia warna orange?”, “Mbak, punya tali rafia orange ?” , “Mas, jual rafia warna orange?” Belasan bahkan puluhan gelengan suram akhirnya harus kuterima dengan lapang dada.

Toko demi toko kulalui, sampai kehabisan toko plastik, toko mainan dan toko suvenir pun kusambangi, ribuan pulau, ratusan kota, seribu purnama berlalu, sampai pegal kaki ini pun tak kunjung rafia orange muncul ke permukaan dan tertangkap retina. 

Hingga suatu ketika, “Ada bu, tapi gede mau?” Mauuuu maas! Serahkan pada saya! Berapapun harganya saya beliii ! Teriak hatiku Ya Allah apakah ini pertanda pencarian segera berakhir… detik demi detik si Mas Penjual masih mencari sana sini di antara tumpukan plastik, kolong gelas-gelas plastik, menit demi menit dia pun garuk-garuk kepala, akhirnya kandas diakhiri dengan senyum2 nyengir ” Maaf bu, ternyata udah habis.. tadi sih padahal masih ada lho, maaf ya bu..”. Lemes lutut ku. 

Kalo air mukaku udah suram gini tau lah ya siapa yang paling perhatian sama aku, tak lain tak bukan adalah suamiku tercintah. “Udah lah.. mau gimana lagi, pulang yuk, Cari aja di tokopedia yg bisa digojekin hari ini juga”. Jempolku beraksi, Ya Allah susah banget nyari rafia orange ini, dari sekian banyak toko plastik yang telah kutelusuri di pasar ini warna paling banyak adalah hitam, merah, kuning, biru, Lha orange??? Gak ada T_T dalam hatiku kenapa harus anakku yang kebagian jatah warna orange, ini pasti gurunya gak survei dulu warna rafia yang paling umum yang dijual di kawasan Bintaro (Ya kali bu guru kan bukan pegawai statistik keles). 

Keyword demi keyword, filter demi filter, semua telah kucari hingga mataku tak lepas dari Smartphone sepanjang perjalanan pulang. Lagu favorit yang diputar di radio pun cuma suamiku yang nyanyi karena saking galau ya hati ini, apa kata dunia kalau sampai anakku gak bisa percaya diri di pertunjukan nanti? Emak macam apa aku ini? Kenapa gak cari dari kemarin-kemarin? Kenapa baru cari sekarang? Kenapa oh Kenapa? Mengapa oh Mengapa? Sungguh pikiran-pikiran tak solutif, sementara suamiku masih asik nyetir sembari sesekali bersenandung dan melihat-lihat kanan kiri, kalo aja ada toko plastik di pinggir jalan yang menjual rafia warna orange. Aku tahu sebenarnya dia menyanyi untuk menghibur aku, biar gak panik berlebihan, namun strateginya gagal. Panic overloadd !!! 

Sampai kaki kami menginjakkan warehouse-workspace ya sebut saja kantor yang berantakan tempat kami bekerja mengumpulkan pundi-pundi emas, pencarian rafia orange di salah satu marketplace terbesar di Indonesia ini pun gagal, ada sih yang jual rafia orange ukiran gede, sebesar helm paling besar mungkin, tapi lokasi seller-nya di Denpasar ! Which is itu ga mungkin banget nyampe sini dalam beberapa jam, waktuku tinggal setengah hari mencari rafia orange. Dan jam dinding terus berdetak, ga bisa di-pause, gak ada tombol undo CTRL+Z dalam kehidupan ini. 

Tiba-tiba, eh ada ni! Secercah harapan membumbung tinggi di udara ! Pakai keyword “tali rafia” ada seller di Jakarta yang menjual! Dan yang penting bisa delivery pakai Gojek 4 jam sampai! Ya Allah apakah ini karunia-Mu ? 

Mendadak jaringan internet menjadi sangaaat lambat ketika aku bersuka cita euforia penuh harapan mengontak seller ini! “Kak, yang warna orange ready? Bisa gojekin hari ini juga?”. Plis cepet baleeess, rasanya gemes kayak nungguin chat gebetan. 

Detik demi detik berlalu, seller ini bintang reputasinya banyak pasti trusted pasti ready lah, kepanikan mereda dan aku mulai bisa mengalihkan dengan kembali bekerja, ngatur2 para staf, diskusi-diskusi seputar launching produk besok, persiapan-persiapan semua hampir beres, ya memang I’ve worked hard on it, perfect preparation begadang malam tak sia-sia, parahnya sampai melupakan persiapan pertunjukan pentas seni anakku T__T coba aku siapin sejak kemarin2, meski mahal, meski jauh sampai Denpasar pun akan ku bayar demi Rafia Orange. 

Tahukah kamu arti pertunjukan pentas seni bagi anakku? Ketika dia melihat wajah ayah bunda nya duduk di jajaran penonton,  dia akan tersenyum ketika aku melambaikan tangan, bersorak-sorak, bertepuk tangan dan mengacungkan dua jempol dari jauh dan mengangguk-angguk, dia mendapat kekuatan dan kepercayaan diri bertubi-tubi, senyumnya sangat bahagia, semua persiapan latihan pentasnya akan dia perlihatkan pada orangtua kesayangannya, “Bun, aku udah latihan nih bun, lihat nih aku hebat banget, berani, gak nangis lho!, hebat kan?” , “Bunda harus datang ya, nanti video-in Aldin ya” . Ekspektasi maksimal dengan segala keceriaan yang dia miliki. Apa jadinya kalo nanti dia tak percaya diri salah kostum gara-gara kelalaian emaknya T__T itu akan menjadi penyesalan sepanjang masa tiada tara bagiku. 

Jling! Notif tokopedia ! Seller nya bales! ” ada gan, tapi ini agak merah”, waduh aku agak curiga ni, soalnya di foto jelas-jelas ini orange warnanya, aku chat lagi lah ” Maksudnya gimana kak? Orange agak merah apa emang merah ? ” aku pastikan lagi warnanya takutnya salah. Tik tok tik tok.. “Duh slow respon banget sih!” kebiasaan buruk emak2 yang menurut Einstein tentang teori dilatasi waktu itu benar adanya, lima menit bagi seorang seller itu termasuk fast respon ketika dia harus menghadapi ratusan chat, sementara di HP mamak2 mana ada notif segambreng, yang ada cuma chat sama si olshop seller, maka jadilah lima menit rasa lima tahun purnama, gak sabaran nungguin chat, kalo aku gak pernah jualan online, dengan kondisi level panik tingkat kecamatan kayak gini, dan respon seller nya super PHP, pasti udah nge-chat PING ..!! PING..!! Yakalee ini BBM, Lha wong chatroom Tokopedia -__-, untungnya sekali lagi aku aktivis online yang cukup sabar dan terlatih belanja online, jadi cukup kalem lah, padahal hati ini rasanya udah pengen banting Hapeee ! Cepetan bales woooooyyy! Anak gue mau pentas butuh rafia orange baleeeessss!!!! 

Jling ! “Maaf gan, ini merah warnanya, kena cahaya flash pas moto jadi orange ”

Duh Gusti.. ujian apa lagi ini.. 

Rasanya pengen nangis, tak mampu bersuara tapi suamiku pasti bisa baca pikiranku, “Ya udah, kita cari ke pasar lain yuk, usaha aja, kali aja ada, sekalian jemput anak-anak pulang sekolah” Selepas menyusui si mungil dan kiss bye muah muah, Saka dipegang mbak Yay lagi dan kami bergegas hit the road lagi, Bismillah Ya Allah berilah keajaiban. 

Perjalanan kembali melewati jalan Merpati Raya yang masih ada beberapa Toko Plastik , sempat mampir ke Toko Pkastik milik tetangga kompleks, pun nihil, adanya warna kuning dan merah. Aku lihat chatroom WhatsApp group ibu2 yang anaknya satu grup sama Aldin, sama nasibnya! Ada yang masih struggle juga mencari tali rafia orange, susah juga dia nyari nya sampo bilang “kalau sampai sore ini belum dapet, paling aku beli rafia merah dan kuning aja Buibu, berharap warnanya nge-blender jadi orange” wkwkkwkwkw :D :D Aku pun agak lega karena ada teman seperjuangan. 

“Yaudah say, nanti beli yang merah atau kuning aja buat cadangan, sampai kita menemukan rafia orange nya” pikirku. Waktu semakin mepet, belum lagi butuh waktu untuk menyuwir2 rafia nya menjadi rumbai. Dan kata bu Guru harus dikumpulkan BESOK! Deadline is a deadline. 

Ketika hati ini mulai pasrah, ikhlas, dan hampir menyerah, tiba-tiba Allah menunjukkan kuasanya. Jalanan Merpati Raya yang agak2 kencang mendadak ada truk besar lewat melambat yang membuat seorang pedagang plastik bermotor yang tampak terseok-seok dengan tumpukan ember, gelas plastik, sedotan, bola-bola plastik, dan tumpukan RAFIA ! Ya, R.A.F.I.A ORANGE ! 

Kejadian ini hanya beberapa detik, sontak suamiku buka kaca samping, pas saat berpapasan di TENGAH JALAN dia ngerem dan “Mas Rafia nya dijual mas? Saya mau beli! ” “Iya Pak” si mas penjual pun ngerem. Lhaa INI DI TENGAH JALAN, aku nengok belakang ada mobil ikut ngerem, wah bahaya bisa diklakson dan terjadi kemacetan berjamaah gara-gara Rafia Orange. Suamiku pun teriak, ” belok sana aja mas!” , Ya Allah kok pas banget ada belokan menuju halaman ruko Harvest Bintaro yang lumayan lengang parkirannya, kami pun belok, aku turun dari mobil. Benar adanya, si mas ini habis belanja dari distributor plastik! 

“Wah bu, tapi saya ga bisa jual satuan bu, ini buat toko-toko kelontong, jadi kalo ibu mau beli harus satu pack gini semua” 

Wah. Aku tengok suamiku yg masih nyetir, bertanya pakai bahasa isyarat, gimana nih harus dibeli semuanya? dia manggut2 aja pertanda “Pokoknya berapapun harganya beli aja”. 

“Yaudah mas, pas nya berapa?” Berniat menawar biar ga dikerjain. 

“30.000 aja bu, saya samain kayak harga toko” 

Lhaa ternyata murah amat! 30.000 isi 50 roll rafia kecil yang harga satuannya 2000, *wih margin lu lumayan cuy lama2 gue jualan rafia lah (mohon maklumi lintasan pikiran pedagang, meski panik tetep mikir margin profit :p). Iya sih satu set banyak warna, tapi melihat warna orange bertengger nyempil di sana membuatku sadar bahwa ini benar-benar pertolongan Allah. Ya Allah terima kasih! Perhitungan manusia tak selalu benar, filter search marketplace tak selalu pandai mencari, pedagang toko plastik di pasar tak pernah akan tau bahwa warna orange mendadak jadi best seller, tapi Allah selalu tahu ketika hamba-Nya membutuhkan keajaiban. 


This is RAFIA ORANGE! Ya Allah.. baru kali ini seumur-umur aku beli rafia duaribuan dengan perasaan bahagia selangit dan bumi seperti ini. 

Begitulah anak-anakku, Allah ga melihat hasil yang kamu dapat, tapi Dia melihat usahamu, sejauh apa kamu memperjuangkannya, sekuat apa usahamu mendapatkannya, karena kelak ketika sudah dapat, bahagianya benar2 membuatmu bersyukur langit dan bumi bersujud seharian pun tak cukup. Hati ini pun terasa hangat, terima kasih Ya Allah. Ini benar-benar keajaiban. 

*** 

Malam ini adalah malam begadang untuk anak, demi rumbai rafia yang tersuwir rapi, “ayo anak-anak tidur, bunda mau kerja bikin rumbai”, kemudian Taqi pun merayu-rayu “Bun, taqi juga mau, warna hijau semen bun, Taqi mau dibuatkan itu juga”, aku pun bengong, “Taqi kamu ga perform sayang, yang perform Mas Aldin, besok kita nonton” , Tapi Taqi mauu, sudut mulutnya turun, matanya berkaca-kaca, Taqi mau juga. Oh My God, lembur malam ini akan dua kali lipat karena Taqi pun mau dibuatkan -_-” . “Bun, ingat ya, yang punya Taqi dibuat juga ya, Taqi tidur, kamu yang buatin” dan Ayahnya cekikikan di kasur meluk sang Kakak, Duh enak banget hidupmu! “iya.. Iyaa.. kalian tidur aja, besok bangun tidur udah magic nih, jadi semuanya”. Sementara Saka masih asik sendiri main-main tali rafia, mengurutkannya mencari ujungnya sambil terheran-heran “mmmm?? mmm?” ekspresi penasaran tembem maksimal, Rafia Saka ini rafia, Saka Bantuin bunda ya, cuma aku dan Saka yang terjaga malam itu karena memang sore hari si mungil ini sudah tidur. Akhirnya satu persatu pun semuanya tidur. 

*** 



Performance dimulai semua orang senang. Anak-anak sangat percaya diri, guru-guru yang tulus, sederhana tapi bermakna, khas sekolah alam. 

Sorak sorai tepuk tangan riuh, sesaat sebelum musik dimulai anak-anak punya request untuk ayah bunda “Mamaaa.. jangan lupa film-in yaa”, “Ayaaah nanti kalo kalo akuu.. hebat.. nanti habis ini aku aku.. mau dibeliin komputer ya ayah yaa, yaa yaa” cadel cadel gemesin khas anak-anak TK. Mata-mata mereka hanya mengarah ke salah satu dua penonton yaitu keluarganya, ayahnya, bundanya, neneknya, kakeknya, adiknya, terharuuu rasanya melihat si kecil bisa tampil percaya diri dengan kelincahan yang sangat memukau. Semua orang bahagia. Dan yang paling kucari hari itu adalah senyum Aldin. Senyum Aldin ketika matanya mencari-cari ku di antara kerumunan penonton yang memadati acara, Mas! bunda di sini ! Teriakku dalam hati sambil melambaikan tangan akhirnya mata kami bertemu dan dia tersenyum sangat manis! Ya Allah bahagianya hidupku. Ini benar2 sudah cukup Ya Allah.. 

Modus yang terungkap setelah 10 tahun

Banyak orang berkata : kita ga akan tau 10 tahun lagi bakal jadi apa, bakal tinggal di mana, bakal jadi orang seperti apa.  

10 tahun yang lalu. 2007.Bandung.

Suatu sore di selasar CC Barat kampus terbaik bangsa, seorang pemuda teman SMA ngajakin ngobrol, sebelumnya dia SMS kalau dia sedang kebingungan menjelang kenaikan tingkat, sesaat lagi kami akan masuk semester 3 perkuliahan di mana mata kuliah prodi lah yang berkuasa, say goodbye to segala materi2 pelajaran jaman SMA yang bimbel-able. 

Seorang Fakhria sadar diri lah, siapa sih gue di hadapan pemuda tinggi ini, beda kasta lah, dia adalah all-is-100 person, Guru Fisika aja konsultasi kunci jawaban ujian ke dia, jaman SMA aja nilai matematika ku 32 diketawain habis-habis2an bersama para Guru Matematika di lorong dekat Mushola Ash Sholihin. Dendam di hatiku masih terbawa sampe kuliah. Lha ini ngajak ngobrol apa lagi coba, mana nilai Fisika ku C lagi T_T bakal di-bully kayak apa lagi nanti kalo dia nanya pertanyaan paling keramat mahasiswa ITB : IP kamu berapa? WHHHHTTT which is ini sama sekali ga boleh dibicarakan dan didiskriminasikan sama halnya dengan suku agama dan ras. 

“Iya.. gini Fakhria, aku bingung nih, aku kok kayaknya ga terlalu suka teknik perminyakan, aku syok ternyata orang2 yg kerja di perminyakan tu mereka harus kerja di lepas pantai, di tengah hutan, di negara antah berantah, di tempat2 yg jauh dari peradaban, kayaknya bukan passion aku deh, apa aku pindah ke teknik informatika aja yah? Menurut kamu gimana?”

Kami ngobrol di tangga CC Barat, aku jujur agak panik, kasihan juga kalo temen SMA ku salah jurusan kan, tau sendiri kampus yang paling tinggi level depresi kan di ITB, di kampus ini kalo urusan perkuliahan sadisnya gak ketulungan, dosen pas kuliah baik dan friendly tapi giliran ujian sangat unexpected soal ujian sama sekali ga ada jawabannya di kuliah *adanya di textbook segede gambreng. Serangan tugas, laporan, ujian, praktikum, tugas pendahuluan, jurnal, dan segala printilannya bertubi-tubi seilah tak membiarkan mahasiswanya bernafas dan tidur nyenyak secara manusiawi. Apabila sampai kena Drop Out gara2 ga lulus mata kuliah, waduuuh itu bisa nangis darah deh, masuk ITB kan susah cuy. 

“Waduh, aku juga bingung tuh, kalo menurut kamu pindah jurusan itu bagus ya pindah aja sih” 

Plain banget kan jawaban gue -_- , ya elah agak awkward juga keles, kan di CC Barat ada banyak orang lewat, kalo Teteh Gamais lewat gimana coba, aku kan member gamais yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai “lebih baik jomblo mulia daripada pacaran maksiat ke mana-mana” wkwkkwk. Takut dikira pacaran di CC Barat, hahaha. Aku udah merancang kata-kata ntar kalo ke-gap sama temenku yang lewat dan kepo trus pasti nanya “Cie ciee ngobrol ama siapa..bla bla bla” biasalah cewek farmasi kan hidup di fakultas yang 90% cewek, kalo ada begini2an pasti cepet banget nodongnya. Ntar aku jelasin aja, ah dia mah temen SMA kok, nothing special, kayaknya sih dia masih pacaran sama orang yang dulu, jadi tenang aja fren, bukan tipe aku lah. Ya emang sih, saat itu memang nothing special.

Singkat cerita, lalu dia cerita ada mahasiswa yg pindah jurusan dan berhasil survive, nah dia yakin dengan IPK TPB yang nyaris sempurna tu dia bakal bisa survive. Aku sih manggut2 aja, makin tertekan lah ya ngebahas IP, secara Fisika Dasar dapet C, Kalkulus meski udah belajar non-stop megap-megap juga harus puas nyangkut di angka B. Huuuhh jadi kamu mau pamer, mentang2 IP gede?. Aku ngedumel dalam hati doang. ga banyak ngobrol -takut jatuh cinta- wahahaha. 

“Iya gakpapa kok pindah jurusan, kalo memang itu baik buat kamu ya jalanin aja, tapi ya harus survive”

Lalu kami pulang. 

Hari-hari selanjutnya jujur aku khawatir, will he survive? Yaa kan kita ga tau ya kadang tupai yg udah lompat sejak lahir juga pernah jatuh, Olimpiade biologi juga dia pernah gagal ( dan aku berhasil ! Hihi), jadilah kadang aku penasaran dia, kepo lah, beneran jadi pindah jurusan, beneran bisa bertahan, IP nya berapa? Masih dapat nilai 100 terus kayak jaman SMA? 

Namun lintasan-lintasan itu segera berlalu.

Hari demi hari berganti dan tugas2 kuliah, UTS, UAS semakin bikin sesak nafas. Kami jarang ketemu lagi. Aktivitas sangat padat merayap. Selamat datang di Institut Terbaik Bangsa. “ITB adalah tempat dimana lupa adalah salah, tidur adalah penyesalan, dan ketiduran adalah dosa”.

.

.

.

10 tahun kemudian, 

Suatu pagi di perumahan Bintaro Hill, anak- anak balita ribut pakai baju siap-siap sekolah, aku dan dia berkaca di cermin besar yang sama, merapikan baju siap berangkat.

“Say, itu kamu beneran galau ya pas kita ngobrol di CC Barat?” 

“Ya nggak lah, itu mah modus!” 

Jawabnya singkat sambil nyisir rambut, Dan aku syok sekaligus sebel. 

“HAH !, jadi kamu gak galau? Biasa aja?” Aku masih bengong

“Iya, ayo lah buruan nanti Aldine terlambat” ketawa-ketawa ngambil kunci mobil lalu keluar rumah.

“HAA ?? jadi selama ini itu hanya modus?, itu aku anggap serius lho! Aku kira kamu mau pindah jurusan beneran, aku kira kamu benar2 frustrasi sampai ngajak aku ngobrol, kan biasanya dulu ga pernah ada kabar apa2” Aku masih syok sambil ngikutin dia masuk mobil bersama anak-anak. 

“Ya kalo ga gitu mah kapan bisa ngobrol sama kamu” senyumnya tertahan, menatap jalan, tapi aku tau hatinya menatapku dalam-dalam.

Jantungku berhenti berdetak, rasanya kayak jatuh cinta jaman dulu, jatuh cinta pada yang sama. Jadi ternyata waktu itu dia udah suka sama aku ya, hihihi. Dudu dududu. 

“Sampai punya anak tiga gini masak masih kurang sih buktinya.. ” bukti kalo aku tu sayang sama kamu. Dan aku hanya senyum-senyum menatap jalanan Bintaro yang mendadak terasa banyak bunga kayak di iklan Molto. 

*** 

Kalaaauuu saja 10 tahun lalu aku tau kamu jodohku, pasti kegalauan salah jurusan itu akan terdengar seperti gombalan-gombalan memabukkan wkwkkwkw 

“Kamu mau punya suami kayak apa? Ntar kalo aku di perminyakan aku bakal sering-sering kerja lapangan jauh dari keluarga, kamu gakpapa? Nanti anak-anak kita gimana ya, apakah dia bisa dekat dengan ayahnya, padahal mengantar anak sekolah setiap pagi itu salah salah satu impianku. Atau aku jadi engineer informatika aja? Nanti paling kerja di kota-kota besar, kita bisa hidup bersama, makan malam bersama setiap hari, aku bisa antar anak sekolah, nganter kamu ke pasar, gak hidup jauh-jauhan” 

Huuwoooohohoho itu mah CC Barat rasa pelaminan, Hahaha. Mahasiswa yang duduk2 ngerjain tugas jadi saksinya. Padahal mereka mah cuek abiss yang penting tugas kelar sebelum kuliah. 

*** 

Dan sekarang, kamu telah membuktikannya. Kamu tetap bersinar cemerlang seperti yang aku kenal dulu, berbinar-binar penuh semangat. Pembelajar paling tangguh yang pernah aku kenal, orang paling ramah kepada siapapun, dan seorang ayah yang best friend banget sama anak-anaknya. 

Kamu tetap menjadi engineer, meski tak lagi kerja di lapangan perminyakan. Kamu tetap berkutat dengan data-data, grafik-grafik yang menurutmu itu cantik (tapi maaf menurutku itu hanya garis :D ) ,  kamu selalu mengizinkan aku bereksperimen dan mulai memahami ide-ide gila yang kadang amazing, dan pada waktu yang sama kamu mau rempong bawain belanjaanku di pasar modern Bintaro, mengantar anak-anak dan menyemangati hari-hari awal sekolah playgroup nya. Orang-orang di tempat cuci mobil atau para satpam sampai heran, bapak ini kerjanya apa kok kayaknya luang banget nyuci mobil aja pas jam kantor, Libur Pak?. Dan kamu hanya senyum2 ketawa, karena susah njelasin nya. Paling banter kalo orang itu frustrasi nanya kerjaan bapak apa, kamu akan menjawab : saya punya toko Pak, dan tokonya udah diurusin karyawan saya :D

***

Wahai anak-anakku, ketahuilah, ini adalah masa di mana dunia membutuhkan orang-orang pekerja keras yang tak perlu diketahui jabatannya apa, tak perlu ngantor di tempat keren, atau sok sibuk dengan berkas-berkas segambreng tapi zonk. Dunia ini butuh orang-orang dengan hasil kerja yang nyata. Allah menciptakan dunia ini dengan sangat adil. Dan yang harus kamu ingat adalah, kemudahan hidup itu selalu bersama orang-orang yang cerdas, bekerja keras, dan berhati mulia. 

“The people who are crazy enough to think they can change the world are the ones who do.”

— Steve Jobs

Jangan takut gagal 

Kamulah api semangatku. Ketika banyak orang menganggap Nokia terlalu terlena dengan kesuksesan hingga lupa inovasi produk, Yahoo tumbang karena gak menyediakan produk yang lebih friendly, dan banyak orang yang pesimis duluan, takut gagal karena melihat raksasa tumbang. Mereka hanya komentar, bicara tentang kegagalan, tapi kamu malah bilang, ya mending dia tumbang udah jadi raksasa, udah kaya raya, udah pernah jadi Milyuner yang aset nya udah gak karu2an, Lha kamu? Masak belum apa2 udah mundur ?? Pasang kacamata kuda, go ahead for your next plan, eksekusi aja sesuai SOP kita selama ini, jangan takut mencoba, daripada nanti kamu udah tua jadi nenek2 ntar nyesel, dulu kenapa pas masih muda gak aku lakukan ide ku ini (nah lho). Menjalani hari2 bersamamu memang selalu bikin semangat. Lalu tiba2, angin segar dari sinyal sinyal 3G yang mulai menyusup desa terpencil di Ngawi sini adalah telpon dari FB Singapore 😍 dia sangat terkesan dengan bisnis kami dan dia mewakili Facebook Official akan mensupport kami habis2an, yeahhh. Can’t wait for our next project darling! Sekarang hirup udara segar Ngawi dulu sebanyak2nya 😬

Bukan tentang Informasi

Sudah tahun 2017. dan apakah kita sudah move on?

Move on dari pemikiran konvensional, bahwa earn money itu harus 8 to 5, berdarah-darah , bermacet-macetan. Itu semua gak salah, tapi mari diluruskan bahwa Mind Set nya adalah ketekunan dalam kerja keras itu, bukan seberapa lamanya kamu bekerja. iya sih.. kelihatannya di depan laptop.. tapi ternyata nggak produktif kerjaannya. Banyak sosmed-ing, too many distraction bikin kerjaan gak kelar2.

Stay focus, and know what your priority. Iya sih banyak yang masih berpikir kalo jualan online itu lumayan buat jajan. Hahaha, jaman kapan ituuh, sekarang mah banyaaak yang jualan online tapi omset bulanannya harga mobil. Kuncinya adalah ketekunan: konsisten, dan persisten. Bukan banyaknya informasi yang kamu dapat, tapi seberapa tekun kamu mengolah informasi itu menjadi action dan duit tentu saja.

Move on dari pemikiran konvensional bahwa kerja itu harus sesuai jurusan kuliahnya. Kalo mindset ini benar dalam kehidupan, pastilah aku jadi orang yang sangat menyedihkan. Lulusan farmasi ITB dan Cum Laude tapi ended jadi pedagang :D . Definitely NO yah, kuliah itu untuk membentuk mind set tahan banting, ngetes endurance, laboratorium kehidupan, ngelatih kita sejauh apa daya tahan kamu kalo dikasih tugas segambreng, UTS bab yang belom diajarin, laporan praktikum, deadline lomba karya ilmiah, tugas lab lomba PKM, kerjaan himpunan, pengajian kampus, dst dst. Learn the process, dan tekuni apa yang kamu suka, and you can be anything you want, itu prinsipku. Dan di dunia maya ini banyak banget source kuliah yang bisa membuat kamu jadi apa saja.

Choose what you want to learn, and do it now. Di dunia ini banyak banget orang yang ngaku sibuk, tapi sibuknya gak produktif. Yah aku juga pernah sih, biasanya daripada gak produktif gitu saya mending nonton drama korea, sekalian ajah :D. Sometime we need to refresh our mind, karena mood itu cycling, bersiklus, gak bisa dipaksa kerja terus. Idenya adalah bagaimana membuat ritme siklus mood yang indah tapi terus berkesinambungan ke silkus selanjutnya. Kerja terus2an jangan, Leyeh-leyeh terus2an juga jangan.  Sehingga kerjaan kamu terselesaikan perfectly, dan anak-anak bahagia. Karena seorang emak yang punya waktu untuk selalu mengembangkan potensinya, dan bisa escape refreshing sejenak dengan nonton drama korea :D, balancing those to terkadang bisa menstabilkan emosi dan menurunkan level kegalakan ^_^ hihihi

Yang terakhir berdoa. Minta sama yang punya waktu agar kita bisa memanfaatkan waktu 24 jam yang sama jatahnya ini, dengan sebaik-baiknya. Baca AlQuran pelan-pelan bisa jadi relaksasi time. Jatah waktu semua orang sama, tergantung kamu mau jadi apa? Life is.. bukan tentang seberapa banyak informasi yang kamu dapat, tapi seberapa tekun kamu mengeksekusi ide2 brilian sekarang, tanpa tapi-tapi.

Tiba-tiba aku merasa tua

Dan aku masih belajar terus menjadi boss yang baik.

Kalo dipikir-pikir emang semakin tua (Oh no ) emosi jiwa ku mulai terkontrol, panikan sih masih, tapi meledak- ledak sudah jarang. Layaknya mercon yang terendam air es ( apa pula -_-“)

Anyway anyhow. 2 bulan terakhir ini kalo dipikir-pikir emang rada ngeri. 2 orang Employees keluar dari perusahaanku (gudang keleus) dalam 2 bulan berturut-turut. Yang pertama mengundurkan diri sih.. yang kedua beneran aku fired..

Sempat panik, stress, diare, dan galau suralau. Detik-detik sebelum pemanggilan,  aku keringat dingin mules ndredeg gak karuan. Ndremimil berdzikir banyak-banyak. Berat tau. Tapi Alhamdulillah akhirnya aku bisa juga making this kind of decisions. And it well said. Semoga ini win-win solution. Pun pastinya ada hikmah dan lesson learned yang banyak dari semua ini. Agar perusahaanku growing bigger and bigger nicely.

Udah. Cuma pengen nulis itu aja karena hari ini 31 Juli 2015 pengalaman pertamaku nge-fired karyawan yang berulah. Mungkin perlu dicatat di blog buat sejarah kenang-kenangan.