Syujun 21 weeks : Pengalaman Tes TOEFL iBT

Siapa yang pernah tes TOEFL iBT? “Aku pernaaah!!” mungkin kalo ada yang nanya gitu, syujun bakal teriak ngejawabnya antusias, hehe, mungkin dia adalah peserta TEOFL iBT termuda waktu itu, sabtu yang lalu Syujun ikutan Tes TOEFL sama bundanya. Hihi. Dan sejak pendaftaran sampe tesnya, emaknya syujun dipanggil “Mbak”  atau “Miss” dan bukan “Bu”, ehehe.. Yess! berarti mukaku masi imut meskipun makin membulat ginih. Jahaha. padahal kan sebenernya ni perut udah kayak dijejalin setengah buah semangka buletnya. Baru seminggu kemaren (13 nov 2011) aku dan syujun (bersama ayah syujun juga yang setia menunggu 4 jam! hehe) tes iBT di Plaza Central Jakarta.
Nah sekarang ini PBT udah jarang banget dan mungkin udah hampir musnah kali ya, aku cari jadwal tes resmi PBT udah ga ada di Indonesia, sekarang PBT cuma dipake di negara2 yang lebih terpencil daripada Indonesia, jadi mau ga mau harus iBT. Sekarang aku lagi waiting time nunggu skor sampai akhir november.
Berikut kronologis serta hal2 penting yang harus diperhatikan tentang iBT TOEFL. Continue reading
Advertisements

Khan Academy, belajar berasa maen game dan nonton film

Ini adalah saalah satu situs favoritku : Khan Academy ! Pendirinya adalah salah satu tokoh favoritku juga, Salman Khan, weeitss ini bukan pemaen film india boy! dia adalah lulusan MIT sekaligus Harvard, dan mengantongi 4 jurusan! kebayang lah jeniusnyah, dia emang tokoh panutanku lah di dunia pendidikan, mencerdaskan dunia dengan cara yang sangat cerdas dan sederhana!

Dan kerjaanya cuma nge-youtube, bikin video edukasi yang tadinya buat keponakannya, eh tiba-tiba dia mendadak merubah dunia! Donasi pun mengalir terus, berkat videonya yang gratis and downloable, semua orang di planet ini bisa belajar gratiss.. bahkan videonya dipake buat kurikulum dan bahan ajar di sekolah terpencil di pedalaman afrika sana. Dan situs ini juga yang membantu sedikit banyak pas belajar sidang kemaren, kalo lupa-lupa inget termodinamika, konsep2 biologi dasar, imunologi, fisika dasar, kimia dasar. Dan yang paling menggetarkan adalah matematika! enak banget ngajarnya kayak dosen tpb yang perfeksionis tapi sangat mencerahkan.

Nah, selain sesi video buat belajar, Khan Academy juga punya sistem Game Matematika yang oke punya. Sodara sepupuku yang masi kelas 2 SD yang suka banget nge-game pun ketagihan ngerjain soal matematika di situs ini! dan based on Khan, ada pula anak SD yang saking doyannya ngerjain ini soal, sampe ke level kalkulus anak kuliahan, padahal masi kelas 5 SD. Kalo penasaran mending coba sendiri lah, mungkin kayak gitu kali ya rasanya belajar di MIT atau Harvard? Continue reading

10 alasan kenapa kalau gagal aku harus bangkit lagi

Akhir-akhir ini aku sedang tertimpa kegagalan, kawan. Tapi kalo aku ceritakan ntar aku makin sedih. Dan juga karena sejak awal blog ini diciptakan untuk bergembira ria syalala, jadi aku ga akan menangis bombai di sini. Duh tapi kok atmosfernya udah sedih gini. Oke, lupakan! kata penyiar radio pagi-pagi, orang yang sukses adalah orang yang senantiasa bertambah ilmu dan ketawadhuan-nya. Sekarang, inilah 10 alasan kenapa kalo gagal aku harus bangkit lagi, yang sejujurnya aku mencari-cari alasan-alasan itu sambil menulis kalimat ini:

1. Karena saat ini tak akan datang dua kali. Kesempatan ini belum tentu aku dapatkan esok-esok hari, dan aku ga mau hal menyesal di kemudian hari lantas bilang “wah, coba  gue kembali ke masa lalu, pasti gue akan bersungguh-sungguh” (ceritanya di masa depan mesin waktunya doraemon belum ditemuin dan kosa kata aku menjadi lebih modern menjadi gue, haha).

2. Aku malu sama adikku, si bandel dan usil itu, ternyata sekarang dia punya kerja sambilan di sela-sela kuliahnya. Kesimpulannya cuma satu : Adikku bekerja keras untuk hidupnya! tapi aku malah berlama-lama meratapi kegagalan yang tak kunjung mentransformasi energi malas menjadi energi kinetik bernama kerja keras. Kakak macam apa aku ini ha?

3. Aku Continue reading

Novel..

Rasanya sangat lama, semangat bermimpi itu tak semeluap-luap yang dulu. Entah karena luapan itu telah benar-benar meluap tumpah hingga habis, atau luapan itu terpanggang dan menguap. Yang jelas aku mendapat pelajaran berharga yang menyenangkan tiap kali aku membaca novelnya Andrea Hirata. Kali ini tentang Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas. Aku suka. Dan semangat mimpi-mimpiku bagai terpercik api hingga tersulut kembali. Meluap lagi, dan kali ini tak akan habis.

Tak terbayang kalau nasibku semenderita Maryamah, namun sama sekali aku tak pernah ingin membayangkan kisah cintaku sekonyol Ikal. Ah, tapi memang, cinta selalu punya jalan ceritanya masing-masing, biarkan ia menjejaki indahnya liku-likunya. Pernahkah kau merasa sangat dicintai seseorang? dan tiba-tiba memecah kesenyapan kau mendengar  ia berkata, “aku kira, cinta yang membuat dua orang saling mencintai itu tak pernah ada, dan aku tak pernah percaya dari dulu, mungkin hanya fiksi-fiksi novel atau film, tapi sekarang aku baru percaya, aku merasakannya”. Ah..Kawan, tahukah kau, titik leleh hatiku telah mencapai nol derajat selsiusnya H2O, meleleh tak karuan. Tepat beberapa menit yang lalu. Cinta memang selalu punya cara. Mungkin titik leleh itu juga yang sama dirasakan Ikal saat melihat paras kuku A Ling jaman dulu, hehe, sekarang aku mengerti mengapa dia sangat lebay.

Dan ternyata cinta adalah sesederhana secangkir kopi dalam gelas.

Dan belajar adalah keberanian melawan ketidakmungkinan. Itu kata Ikal, bercermin dari Maryamah yang sungguh, kalau ada orang seperti itu di dunia nyata aku ingin bertemu dengannya. Tangguh, gigih,tabah,pembelajar kuat dan dia.. wanita! Baginya belajar bukan hanya meraih sesuatu, tapi adalah karena perayaan dari kemerdekaan belajar itu sendiri.

Dan kalau aku kembali pikir-pikir, aku rasa memang hidup ini punya dua kosa kata penting—yang mungkin perlu dicatat pemuda-pemudi Indonesia, yaitu: “bersyukur dan bekerja keras”.

Karena Melakukan Hal yang Kita Sukai itu Menyenangkan

Tokyo kala itu, tengah malam, kereta terakhir jurusan Shibuya. Di sampingku adalah abang-abang PhD yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan tempat tinggalku. Sama saja, kau tak akan bisa membedakan abang-abang Jepang itu apakah mereka sedang mengantuk atau sedang seratus persen terjaga, karena mata mereka tak seperti mataku, mata gadis jawa yang tampak sekali jika telah mencapai 5 watt. Menyipit-nyipit dan berkedip lambat. Ngantuk.

Kami habis dari Lab, ngapain coba? Latihan presentasi, aku presenternya dan mereka layaknya dosen penguji, bertanya pertanyaan-pertanyaan ga penting tapi susahnya amit-amit. Dan entah darimana mulainya, diskusi dengan mereka tiba-tiba bisa menjadi topik yang sangat menarik, hingga kalau saja tak ada kereta terakhir yang harus kami kejar untuk pulang, maka diskusi itu mungkin akan berlanjut hingga esok-esoknya. Serius, kalau ada lomba diskusi hari itu, pasti mereka juaranya (aku jurinya yang terkantuk-kantuk).

“Kau nampak lelah sekali Fa”, dia bilang.

Aku mengangguk dan pura-pura bangun dari kantuk yang menjalar ke seluruh neuron.

“Apakah kau pulang dari lab jam segini tiap hari?”, tanyaku Continue reading

Bukan tentang “Wasabi”, tapi tentang “What you wanna be?”

It was like “You can’t force yourself to like ‘wasabi’ “, just realize who you are, be your self and choose your own future that fits it. *status fesbuk fafa 10 April 2010

Suatu cita-cita memang tak bisa dipaksakan, mana yang paling sesuai dengan hati nurani mu, maka ikutilah. Impian muncul dari hati nurani tanpa dipaksakan, sama halnya kita tak bisa dipaksa untuk makan “wasabi” kalau memang tidak suka (wasabi = sejenis sambel ala jepang yang rasa pedasnya aneh menurutku), tetap saja aku, dari hati nurani-ku lebih menyukai “sambel terasi” dari ‘layah’ dan ‘uleg-uleg’ di Ngawi, seperti yang dibuatkan ibuku. Hihi. *jadi laper

Ketika aku kembali mengingat cita-citaku sebagai seorang dosen dan peneliti yang hebat, kala itu mungkin masih sesuai dengan hati nurani-ku saat itu, namun sekarang nampaknya sedikit akan dibelokkan (bukan berarti berubah). Kadang terlintas bahwa itu adalah cita-cita yang “nyaman” banget, meskipun tantangan pasti akan ada, kontribusi pun pasti ada, namun pertanyaan yang muncul sekarang adalah : sebesar apa kontribusi yang terlahir dari cita-cita itu?

senyum manis gadis kecil di kampungku, dan pemandangan di belakang rumahku

Seminar tentang Social Entrepreneurship oleh Bill Drayton dan David Green di Tokyo Tech, 2 hari sebelum ulangtahunku yang ke 21 tahun itu, agaknya menarik cita-citaku untuk menjadi seorang social edupreneurship. Pun aku masih ingin kuliah sampai PhD, namun yang pasti : Aku ingin punya foundation untuk membiayai sekolah, dan sekaligus mensuplai bimbingan belajar intensif untuk anak-anak miskin di desaku. Sederhana.  Bismillah, aku sangat yakin pasti aku bisa.

Kala itu kakek Bill Drayton bercerita tentang Fabio Rosa, yang berhasil mendirikan bisnis listrik sekaligus mensuplai listrik untuk orang-orang miskin di Brazil yang tak mampu membeli listrik namum mampu menyewa panel sel surya. Ya! Listrik itu berasal dari energi matahari. Pak Fabio menciptakan panel surya yang “user friendly” untuk desa tersebut dan akhirnya desa di Brazil itu maju pesat berkat adanya energi listrik, yang salah satunya digunakan untuk system pengairan sawah dan ladang di daerah tersebut.

Selain itu, ada juga kisah social innovasi dari Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian tahun 2006, yangberhasil mengentaskan kemiskinan di Bangladesh melalui penjaman mikrokredit dari Grameen Bank. Muhammad Yunus, sang pendiri Grameen Bank itu yakin, kemiskinan sebenarnya Continue reading