Hijab dear, bukan Wig

Entah kenapa rasanya rada-rada  gimanaa gitu pas ngeliat ini.. Kebayang temen-temennya Sailormoon yang rambutnya warna-warni.  Jangan-jangan di kemudian hari ada jilbab Power Ranger (?)
pashmina rambutIya memang, aku bukan teteh mentor pengisi kajian kampus, apalagi ustadzah, aku hanyalah emak biasa, tapi tetep aja, kok rasanya gimanaa gitu ya melihat model jilbab macem gini. Sematre-matre nya saya jualan jilbab, kayaknya males deh jual yang begituan. Terlepas dari style atau apalah,  anyway, Jilbab kan bukan pengganti rambut :( ,  sedikit modis it’s OK tapi ya ngga gitu-gitu amat kali..
hijab menutup dada
Tiba-tiba saja aku ingat saat itu, awal-awal mulai jualan jilbab, kata suamiku tersayang aku harus meluruskan niat. Karena Allah. Dengan Bismillah yang syahdu, “Ya Allah.. perkenankanlah aku menjemput rezeki-Mu dengan halal, serta menjadi jalan perantara para muslimah untuk menutup auratnya dengan baik”.

Menutup dada dan tidak berpakaian ketat, I think that is the main point of “Syar’i”.

Style kayak gini lebih cute kan? hihihi… *pengen punya anak perempuaaaaannn… :p
cute hijab

Atau.. Hijab Style macem ini lah.. lebih sejuk dilihatnya :)

hijabWell, kasus panjang pendeknya jilbab gini memang sangat sensitif. Kata Teteh Mentor saya dulu di Gamais, gede nggak-nya jilbab itu adalah faktor PD nggak nya seorang muslimah, kalo dia emang PD pake yang kecil sok aja, kalo PD pake yang besar ya sok aja, toh dua-duanya sama-sama sedang berada dalam jalan pencarian hidayah dan ridho Allah, jadi ga usah saling menjelek-jelekkan. Apalagi mengucilkan muslimah yang jilbabnya kecil, atau mengkafirkan yang ga berjilbab. Duh Nggak Banget deeh..

Lha, kalo saya sendiri? hahaha.. saya pernah berjilbab kecil, berjilbab besar, dan berjilbab sedang :)

Ingat ya, saya bukan Ustadzah, saya hanya seorang emak biasa, yang dalam kasus “hijab wig” ini merasa perlu sedikit menyerukan kebenaran. (#..dan keadilan bersama Ninja Hatori :p :p :p)

Paling Hebat

Al Qur’an adalah kitab paling suci, paling mulia dan paling hebat, karena kitab inilah lampu penerangan terbaik bahkan ketika cahaya diambil di atas muka bumi, dan semesta sedang dikepung badai antar-galaksi. *apalagi kalau cuma galau, sakit hati, sedih dan penyakit perasaan lainnya. -TereLiye-

Pengamen Silakan Ambil

Selalu saja ada cara untuk meramaikan Ramadhan, misalnya dengan bersedekah. Para shahabat Rasulullah saw dulu adalah orang-orang yang selalu terdepan dalam bersedekah, mulai dari unta-unta hingga kebun-kebun, dengan ikhlas mereka sedekahkan. Di mesjid  Salman pun juga, infaq jamaah tarawih per harinya mencapai 2-3 jutaan. Semua orang nampaknya memang mengharap berkah ramadhan ini dengan semakin banyak bersedekah. Begitu pula di rumahku di Ngawi, tokoh teladan bersahaja itu adalah ayahku.

Ayah tak punya unta atau kebun kurma, tapi lihatlah apa yang ayah perbuat di depan pintu rumah kami :

Jumlah pengamen di depan rumahku biasanya hanya 1-2 per hari, tapi melonjak hingga 4-6 pengamen bahkan lebih perhari di bulan Ramadhan. Belum lagi ibu-ibu peminta sumbangan seikhlasnya untuk suatu yayasan tertentu, dalam seminggu pasti ada entah satu dua.

Dan ayahku selalu bilang bahwa “Rasulullah itu kalo diminta ga pernah menolak untuk tidak memberi”, kata-kata itu yang membuatku menyesal dan merasa bersalah ketika lupa menyediakan uang receh untuk pengamen lampu merah di Bandung. Sering kalau aku pergi naik kereta, Ayah dan Ibu memberiku 2 jenis uang saku: satu buat aku, satunya sekantong receh buat pengamen. Bahkan dulu awal-awal di Bandung aku merasa bingung, kenapa orang-orang seolah sangat menolak para peminta-minta (tanpa penyelesaian solutif) dengan memasang “Ngamen gratis” atau “Hari ini Ngamen Gratis” di depan toko-toko tertentu, kontras sekali dengan ayah.

Aku ga tau sih segala konspirasi atau apalah di balik pengamen pengemis itu, tapi ayahku selalu mengajarkan “mosok duit 100-500 aja kok eman? iso ugo wong wi rung maem, opo ra mesakne..?” (masak sih duit 100-500 aja sayang? bisa jadi orang itu emang belum makan, apa ga kasian?. Toh kita dapat pahala karena berniat sedekah, Allah yang membalas kita dan yang membalas mereka kalau mereka menyalah-gunakan. Kita berniat membayar pajak, Allah membalas niat kita, lalu apakah kita berdosa kalau ternyata uang pajak dikorupsi? Wallahualam, Allah juga Maha Adil kok, tenang saja.

Nah, akibat perbuatan ayahku itu. Tiap hari adaaa saja hal yang membuat kami sekeluarga terpingkal-pingkal. Bahkan dulu gara-gara itu aku dan adikku punya hobi baru, menanti-nanti dan mengintip pengamen dari dalam rumah, demi melihat reaksinya!

1. Ada pengamen yang ga nyadar kalo ada tulisan itu, jadinya Ayah harus teriak-teriak dari dalam rumah “niku teng cagak mas..” (itu di tiang mas..), mas-mas pengamen menggenjreng gitarnya terlalu kencang kan, jadi suara ayah ga jelas, eh si masnya malah kabur dikira tadi ayah teriak marah-marah. Dikejarlah ia  oleh ayah, melongo, oalah.. akhirnya ia tau ayah ngomong apa, ia lalu kembali ,nyengir-nyengirlah ia mengambil koin 500an di kaleng itu “matursuwun pak..” ucapnya sumringah.

2. Ada pengamen yang tau diri, cuma ngambil 1 koin Rp. 500, lalu menyisakan 2 koin 500an ke pengamen berikutnya. tapi ada juga yang langsung mengambil tiga-tiganya sekaligus! ludes deh isi kaleng.

3. Ada yang sudah hafal dengan kaleng itu, jadi datang-datang langsung ngambil koin, tanpa memetik gitar menyanyikan lagu satupun! *gubrak! aku dan adikku mengintipnya dari dalam rumah cekikikan.. ni pengamen PD banget!

4. Ada yang nyanyi sambil menahan tawa (jadinya kedengeran lagunya kacau!) gara-gara sambil nyanyi dia gintip tulisan pengumuman itu, mungkin menurutnya ini pengumuman langka. Selesai nyanyi langsung ambil lah dia, sambil bilang makasih dan tersipu-sipu sepanjang jalan!

5. Ada mas-mas pengamen yang rame-rame, satunya petik gitar, satunya nyanyi, satunya tepuk-tepuk tangan. Melirik kaleng berisi koin melimpah itu, akhirnya mereka nawarin kami untuk request lagu apa aja (mungkin saking senangnya mereka ngamen di depan rumah kami), lantas mereka merasa layak mengangkut semua koin dalam kaleng, hehe. win-win solution.

Begitulah cerita ayahku bersedekah dengan cara sederhana. Ini cerita ayahku, mana ceritamu? *kayak iklan indomi aja

Silencer Vs Enhancer

Sebenernya aku juga ga gitu tau kenapa nulis beginian, ehehe. Tadinya mau belajar tentang primer dan konsep-konsep PCR, terkait TA lah buat persiapan sidang. Eh ujung-ujungnya malah ga fokus. gyahahaha :D . Mana jadwal AASP udah keluar pula, bikin stress oksidatif meningkat. Maka curqolb (curahan qolbu, istilah sholeh-nya curhat) mungkin membuat pikiran lebih tenang, hehe.

Ditingkahi istilah-istilah DNA, mutasi, molecular analysis, pikiranku tiba-tiba ngelantur beralih kepada segelintir berita. Bayangkan kawan, kalo kamu ada di posisiku dan dikasitau bahwa si x temen kamu yang dulunya baek-baek itu tuh ternyata merid-nya MBA lho. Whatt?.. er..er… dan aku kaget dan shock sih. Dan seketika itu aku memutuskan untuk menjadi silencer aja.  “Oh, Married Because of Allah ya? sama kayak aku juga doong..”, dan nyengir selebar-lebarnya. dan.. Berhasil! inisiasi gosip berakhir.

Silent it! sudah jangan diteruskan! Begitulah kata si silencer. Dan tahukah kamu silencer itu apa? ia adalah molekul penyetop ‘gosip’ di level molekuler, si silencer ini dapet wangsit dari repressor bahwa kejahatan di muka bumi harus dihapuskan. Nah, setelah menerima sinyal itu, ia akan beraksi pada proses transkripsi mRNA dan berusaha sekuat tenaganya seolah-olah teriak-teriak “hentikaaaannn…! sumpah, ga akan ada gunanya kalo diterusin, serius!”, hingga akhirnya patnernya bernama repressor nurut dan mencegah RNA polimerase ngelanjutin proses “percetakan gosip” (haha.. jauh banget mRNA sama gosip, maksa). Silencer ini sangat yakin kalo diam itu jauh lebih baik daripada ngejelek-jelekin orang, tuh! molekul yang sangat terpuji banget kan?

Beda lagi kalo ternyata yang nerima gosip itu bernama enhancer. Apa aja informasi yang ada di depannya, untuk tujuan kebaikan maupun kejahatan, kebajikan maupun keonaran (well, ia memang sangat polos), enhancer akan memperjuangkan sepenuhnya proses “percetakan gosip” (baca: ekspresi gen) tersebut dengan mendekati si aktivator buat menjalankan protein kompleks mendorong RNA polimerase. Ckckck.. mungkin enhancher ini harus dikasitau kalo menyebarkan gosip dan aib sodara sendiri tu dosa lho.. dan sebenernya enhancer ini beraksi juga gara-gara dibujuk sama inducer, misalnya IPTG tuh, yang kadang over banget nyebarin informasi (baca: overproduksi).

Mungkin kita (terutama saya yang masih sering terperosok ke dalam gosip-gosip menarik) harus belajar banyak pada molekul-molekul itu, kapan harus jadi enhancer (pendengar yang baik) dan kapan harus jadi silencer. Bukankah kalo seseorang berbuat dosa, lalu bertaubat, lalu diampuni-Nya, dosanya lenyap seketika? Kalau saja kedua molekul itu (yang memahami benar efektifitas informasi) bisa berbicara, maka aku yakin mereka akan bilang: “Tak ada gunanya menjadi enhancer gosip (aib) kawan, Silencer lebih cocok!”

Continue reading

Pagi yang Teduh di Narita

Tokyo, 9 Agustus2010, 8.59 am

Tebak aku lagi dimana? Narita Airport!!! Whoa! Sejam lagi aku terbang meninggalkan Jepang.. T_T” .berjuta rasanya, sungguh. Sedih. Senang. Campur aduk. Sedihnya karena mulai hari ini aku tak lagi bisa maen2 dan bersenang-senang di salahsatu the most awesome part on earth called Japan. Senangnya adalah, sebentar lagi bulan Ramadhan dan kalo aku pulang ke Indonesia, (well, especially Bandung) ga akan berpanas2 puasa di puuaanassnya musim panas Jepang yang menguapkan seluruh keringat.

Ini adalah postingan paling spektakuler nampaknya, di Narita gitu looh,, biasanya aku kan ngetik postingan di rumah, di atas meja, lha ini? Di Narita Tokyo! Haha depanku jendela berpemandangan pesawat2 berlalulalang, nampak Oke dan gaya betul postingan ini!

Anyway! Barusan aku deg2an parah!

Tahukah kau kawan..? kemaren, tepat sehari sebelum aku terbang, alien card ku ilaaaang! Dan sekarang aku kena batunya. Jadi kawan, kalo kamu pergi ke jepang dan dapet semacam KTP gitulah, jangan pernah dihilangin.Kalo dihilangin ntar bisa diceramahin kayak aku barusan, hehehe.

Alhamdulillah selamet, cuma disuruh menandatangani surat keterangan ngilangin kartu itu. Nah aku tulis reason-nya apa coba?

“I lost it in a way between school and home”, hehe, kayaknya sih petugasnya percaya2 aja, melihat gadis bermuka polos dan berkerudung pink, pake tas ransel pink bunga2, trus tas slempang hello kitty gede (karena saking gedenya, banyak orang yang nengok ke aku dan bilang kawaii.. *tasnya), dan tas jinjing berisi boneka kucing yang kepalanya nongol dari dalam tas, :D diam2 aku bersyukur bawa boneka banyak itu kadang menguntungkan.

Jadinya Continue reading

Tipe Kasihan Nomer 2 : Eskrim

Hari ini di elevator Lab. Menurun dari lantai 12 ke lantai 1. Musim panas, Tokyo 34 derajat selsius. dengan kelembapan 80%. Panasnya pengap!

Episode 1:

“Hari ini panas banget ya, Lepaskan saja jilbabnya biar rada dingin, biar kena angin dan segar”. Seorang kawan terlihat sungguh-sungguh memberi saran.

“?????” *nyengir.. bingung. muter otak lama. gimana ngejawabnya pake bahasa jepang woi??!!!??!!! Ng… ng..eh… *nyengir lagi..

“Kan kasihan kamu kepanasan, pas di Jepang dilepas aja, ntar kalo balik ke Indonesia dipake lagi, kan di Indonesia ga ada musim panas. Aku ngelihat jilbab kamu aja kayaknya panas banget, ga kebayang deh rasanya. Pake kaos tanpa lengan aja, asik”

“??!!???!! *nyengir lagi… “あ、そうですか” *duh, bego, malah kata ‘oh gitu..’ yang keluar, habis ga ada kosa kata lain.

“duluan ya..”

fiuhh.. bernapas lega, dia keluar ke lantai 6.

Jadi, yang barusan tadi adalah tipe kasihan nomer Continue reading

Si Fafa Pergi Mengaji

Adalah tak ada gunanya mengeluh tentang cuaca, Kawan. Tahukah kamu, kemarin siang, di tengah-tengah kabupaten Suzukakedai yang terik, lepas mengurus sel-sel punca di laboratorium, aku hendak melaju ke rumah seorang kawan, mengaji.

Nah, berjalan setengah berlari di tengah tiga puluh dua derajat selsius! Ditambah dengan humiditas yang tinggi,beginilah yang dinamakan musim panas—kata orang, bagi seorang gadis lugu berjilbab sepertiku ini bukan main panasnya. Aku mengikuti arah yang ditunjukkan google map menuju tempat mengaji, ya, jaman sekarang semua tempat bisa ketahuan dengan google map, kecuali Ngawi (mungkin), desa tempatku dilahirkan.

Tiba di spot terakhir yang ditunjuk google map, masih terbakar tiga puluh dua derajat selsius, keringat di baju bagai air merembes ke seluruh baju cucian, aku menelfon beberapa teman mengaji yang kuduga datang,tak diangkat! Berkali-kali hingga basah sudah bajuku oleh keringat, tak diangkat juga! Akhirnya aku Continue reading

Ayo Sholat Shubuh Tepat Waktu

Baiklah, aku ga punya kerjaan sekarang. Ada ding, baca buku “The Pursuit of Happyness”, mantap sekali ni buku, jadul sih, tapi aku baru baca, murah banget beli di book off Shirokanedai, cuma 200 yen. Hihi, Tokyo memang surganya para pembaca buku.

Aku telah selesai membuat 3 pan pizza (manually using wajan Teflon, bukan oven) buat acara barbekyu party besok di pinggir sungai Tamagawa. Ups, Tama kan nama salah satu tutorku di Lab, hehe, Gawa artinya sungai, kalau Tamagawa adalah Sungai Tama, nah nama profesorku adalah “Sungai-TA”, dan tau nggak? TA kalo di ITB tu singkatan dari Tugas Akhir, tapi anak-anak yang lagi stress TA biasa menerjemahkannya sebagai Tiada Akhir, kesimpulannya nama profesorku adalah “Sungai Tiada Akhir”, hahahahahaha *silakan ngakak. Hussh, mahasiswa durhaka! Sudah sudah. Hehe, Sebenarnya aku cuma mau bilang kalau aku baru tau, pas musim semi tu orang-orang Jepang suka bikin acara barbekyu party di pinggir sungai. (ngga nyambung ;p)

Dan sekarang jam 02.31 dini hari. Membuat pizza manual pake wajan teflon tu memang rada-rada butuh kesabaran, terutama nunggu adonannya terfermentasi yeast biar perfect selama 2 jam! Sejujurnya mataku sudah mengantuk. Hoaamm.. ngantuk, sungguh. Namun aku harus bertahan hingga jam 03.10 am.

Ada apakah gerangan? Continue reading

Some Questions About My Headscarf

Since I going along with YSEP buddies, there were a lot funny and curious questions about my headscarf. You know, headscarf or hijab is something that I put on my head every day I go out home. Actually I used to call it “jilbab”, but I think it was just the same, when it called hijab, veil, or headscarf. Hijab is lovely and fabulous headscarf I and all muslims proud of.

Is it for religion?

Yes, I am muslim, and my God set me to wear it

Are you wear it by your self ? How ?

Yes of course, it was simple, but I can’t open it in public then show you how it is. Maybe this video can explain it.

Can I touch it? Continue reading

Artikel fafa di eramuslim : Bersyukur Menjadi Muslimah

Artikel saya di eramuslim.com hari ini. klik di sini

Setelah hampir tiga bulan menjalani hidup di Jepang, semakin lama aku semakin bersyukur atas nikmat Allah yang menjadikanku seorang Muslimah. Aku, yang sangat belum bisa lancar berbahasa Jepang, sangat bersyukur ketika beberapa kali aku berbelanja atau membeli makanan, tiba-tiba ada orang Jepang yang mengingatkanku kalau-kalau yang aku beli mengandung daging babi, mereka mengkhawatirkan apa yang aku beli, karena mereka tahu melalui jilbab yang kukenakan bahwa aku seorang muslimah.

Kemarin malam aku dan rekan-rekan berjalan-jalan menikmati Illumination di Shinjuku, Tokyo. Continue reading

Jilbabku Sayang

Menjadi muslimah berjilbab di Jepang ternyata sangat menyenangkan! Hehehehe.. Aku telah merasakannya, ada beberapa kasus yang membuatku terharu, tertawa, dan bersyukur melihat reaksi para orang-orang Jepang itu atas keberadaan jilbab kesayanganku ini.

muslimah kartunAlkisah si sebuah supermarket Everyday Low Price OK Store di Nagatsuta, aku membeli 2 bungkus Mie Ramen Instan (hhmm..tak ada Indomie disini), M Ramen Instan yang kubeli adalah yang halal version menurut seorang teman yang bisa membaca komposisi Mi Instan tersebut. Nah saat itu aku tengah asik berbelanja, tiba-tiba serang ibu tergopoh-gopoh dengan muka penuh kekhawatiran (bayangkan reaksi lebay orang Jepang kaya di dorama,hehe) menghampiriku dan menunjuk mi ramenku lantas bilang “Butaniku desu… eee…eyqftvgwibxhuwnh dxcvvbneyobnlieonlp” (kata yang berhasil kutangkap hanya “butaniku” artinya babi, sementara beliau terus bergumam dengan bahasa Jepang tingkat tinggi yang tak kumengerti). Dari bahasa tubuhnya aku menerjemahkan bahwa dia sangat khawatir kalau aku makan sesuatu yang mengandung babi, lantas dia mengambil mi ramen instan itu dan mengecek komposisinya..dan bergumam-gumam lagi (dengan bahasa Jepang tingkat tinggi yang tak kumengerti)..lantas dari bahasa tubuhnya aku menerjemahkan nampaknya dia bilang “perasaan ada babinya deh..” tapi akhirnya dia mengangguk-angguk dan bilang “Ah, daijobu desu.. gomennosai..” sambil nyengir dan beranjak pergi. Aku sangat terharu dan gak bisa berkata apa-apa lagi kecuali arigatou gozaimasu..arigatou gozaimasu.. ibu muda itu tersenyum dan mengangguk. Dia hanya menghampiriku dan memastikan bahwa aku memakan makanan yang tak mengandung babi, bersyukur tak terkira aku saat itu, jilbab ini menyelamatkanku.

Kisah kedua, Di kantin Kampus Tokyo Tech Suzukakedai. Ketika Continue reading