Apa jadinya kalo Scientist jadi Hijabholic

Hidup di Jakarta selain mengajarkanku bahwa hidup harus bekerja keras, juga membuatku tahu bahwa terkadang hal-hal yang selama ini kuanggap aneh menjadi sangat biasa di ibu kota. Hal-hal yang tak pernah dilanggar di kampung halamanku seolah menjadi cemilan yang lumrah.

Ada mbak-mbak, cantik, baca buku (it means terlihat smart), tapi ternyata di balik bukunya dia menghisap rokok. Adapula yang lain yang cantik, polos, mengantri menuju kasir Alfamart di belakangku, teryata dia beli rokok dan merokoknya. Dan yang paling miris di hatiku adalah ketika melihat seseorang berjilbab dengan manis dan anggun.. terdiam duduk menunggu sajian steak, ternyata sambil merokok!! Oh NOooo rasanya sepeti pengen ngomel-ngomel ceramah abcdefghijklmnopxxxxxzz tapi apa daya semuanya tercekat dalam hati dan hanya muncul sebagai kernyitan-kernyitan di dahi. Ga perlu diceritain lagi lah ya, jeleknya rokok buat anatomi fisiologi jiwa raga manusia. Harusnya di dunia perokokan, dibikin aturan “Dilarang Membunuh Manusia” agar di dunia ini aturan “Dilarang Merokok” manjur.

Well sebenernya targetku Oktober ini mau launching produk baru dari my original brand sendiri kan, tapi ada sedikit masalah dengan pihak penjahit, walhasil molor deh. Dipikir2..kalo seandainya aku jualan hijab scarf bukan untuk nyari duit semata. Pengeeen banget bikin jilbab yang langsung berubah warna belepotan kalo si pemakainya ngerokok! hewwhh.. harapannya, sekali tu orang ngerokok, langsung bad style aja lah dia, confidence jatuh, and then stop smoking.

Tapi harus dibikin material yang bisa menangkap sensor nikotin rokok kali ya, bukan asap rokok, soalnya kalo misal si hijaber itu naik angkot dan kena asap rokok pak supir kan kasian ntar kalo jilbabnya ancur. Sensor kimiawi maybe ya. Tapi dilihat dari segi bisnis, mana ada yang beli? hehe atau kita sembunyikan saja diam2 sensor kimiawi itu, misalnya saja ia berwujud seperti cairan sprayer kayak Rapika, semprot-setrika-beres.

Ah tapi ide ini terlalu gila. Lebay gitchu looh. Terkesan terlalu mengkait-kaitkan jurusan kuliah dengan pekerjaan. Hahaha. Anyhow Anyway, meskipun kerjaanku sekarang ga ada nyambung2nya secuilpun  ama judul Tugas Akhir yang jauh-jauh diambil di Jepang itu, (“Toll-Like Receptor (TLR) 1-9 Identification of Innate Immune System in Mouse Embryonic Stem Cell“, baru pertama kali ini gw merasa horor baca judul TA ini) yang penting menurut Sabda Pak Rektor ITB Kusmayanto Kadiman, sebagai lulusan ITB dosaku akan berkurang satu, yes! Jadi kata beliau itu, dalam pidato penyambutan mahasiswa baru jaman dulu (gw angkatan 2006, tau ini juga warisan dari kakak2 swastah). Berikut sabda Kusmayanto Kadiman yang fenomenal itu:

Ketika kamu masuk ITB, kamu telah menambah satu dosa, karena telah menyingkirkan ratusan sampai ribuan orang yang ingin masuk ITB. Dosa itu hanya bisa ditebus dengan menjadi entrepreneur dan menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya. Jika tidak, kamu akan menambah satu dosa lagi karena telah merebut jatah ratusan penduduk Indonesia untuk bisa mencari nafkah.”

Yey! Kamis nanti karyawan, eh karyawati pertamaku datang! Yth Pak Kusmayanto Kadiman, Alhamdulillah pak, dosa saya sebagai alumni ITB berkurang satu kan ya? pliss :D

Syujun 21 weeks : Pengalaman Tes TOEFL iBT

Siapa yang pernah tes TOEFL iBT? “Aku pernaaah!!” mungkin kalo ada yang nanya gitu, syujun bakal teriak ngejawabnya antusias, hehe, mungkin dia adalah peserta TEOFL iBT termuda waktu itu, sabtu yang lalu Syujun ikutan Tes TOEFL sama bundanya. Hihi. Dan sejak pendaftaran sampe tesnya, emaknya syujun dipanggil “Mbak”  atau “Miss” dan bukan “Bu”, ehehe.. Yess! berarti mukaku masi imut meskipun makin membulat ginih. Jahaha. padahal kan sebenernya ni perut udah kayak dijejalin setengah buah semangka buletnya. Baru seminggu kemaren (13 nov 2011) aku dan syujun (bersama ayah syujun juga yang setia menunggu 4 jam! hehe) tes iBT di Plaza Central Jakarta.
Nah sekarang ini PBT udah jarang banget dan mungkin udah hampir musnah kali ya, aku cari jadwal tes resmi PBT udah ga ada di Indonesia, sekarang PBT cuma dipake di negara2 yang lebih terpencil daripada Indonesia, jadi mau ga mau harus iBT. Sekarang aku lagi waiting time nunggu skor sampai akhir november.
Berikut kronologis serta hal2 penting yang harus diperhatikan tentang iBT TOEFL. Continue reading

Syujun 18 Weeks : Thermaljelly, delicious therapy for diarrhea

Alhamdulillah Syujun has grown and grown for 18 weeks by now, although the previous days we sick together. Struggling with the unknown reason acute diarrhea.  I guessed it could be infection or something from foods, since I had a fever too. For this first diarrhea with Syujun I had a new therapy, this is not the medicine of any pharmacist (I am?!) or any best pharmacist on earth, even a doctor or jamu maker, but from my engineer uncle.

He is a smart mechanical engineer who can create any machine everybody ask, especially burning related machine. Playing with high temperature is his every day’s job. The way he understand the body is sometimes just as simple as understanding his machine. So this is how it is like : Thermaljelly! and it worked very well for me and Syujun.

The mechanism is not a pharmacological strict way, neither is complicated mechanical calculation, but lets think it as a simple elementary school student, to know how it works in a thermodynamical way:

1. Pick any jelly powder you like, I prefer chocolate flavor, and cook it based on its cooking direction. Pour into a bowl.

2. Let it be a little bit warm for a while. Let a little heat transferred to the air to make it edible.

3. Drink it while it warm! Timing is important. I only could drink a half of that big bowl, though. But due to our 37 degree Celsius body assumed to be colder than its warm gel, the heat will transferred automatically causing the gel formed, slow but sure.

4. Let it flow in your upper throat, clot inside your gastrointestinal tract, and its polymer fiber will become solid when arrive in your lower tract. End. It will stop your diarrhea instantly after a couple hours.

Does anyone have a more delicious and powerful diarrhea medication than this?

Kuliah Terakhir : Garut Snapshot

Rumput-rumput di bawah Monumen Kubus di depan Gerbang Ganesha, tahukah kamu monumen kubus itu apa? sama, aku juga baru tau bahwa itu monumen untuk mengenang jasa para mahasiswa ITB jaman dulu yang gugur untuk memperjuangkan kemerdekaan. Nah, di dekat monumen itu kami berkumpul untuk memulai perjalanan dari kampus ke Garut. Kuliah lapang Teknologi Bahan Alam ke sentra produksi minyak akar wangi.

Bunga cantik yang tiba-tiba menyambut kami di bumi garut, teman2 pada asik foto-foto dengan pemandangan yang hijau, tapi bunga ini punya daya tarik tersendiri.

Dan kami pun berpetualang terseok-seok melintasi padang kebun akar wangi, wangi aromatis tercium sepanjang mata memandang hijau yang berkontras dengan biru langit.

Dan ladang-ladang ini akan dipanen tiap 6 bulan sekali, kemudian akarnya didestilasi, menghasilkan minyak akar wangi atau Vetiver oil yang ternyata penyuplai bahan fiksatif untuk industri parfum di luar negeri. Daun-daun pasca panen diolah menjadi pupuk kompos. Kemudian kami menuju tempat produksi. Banyak tanki-tanki destilasi. Limbah destilasi dimanfaatkan untuk kerajinan seperti tas, lampion, karpet, dan air destilasinya menjadi bahan utama spa-spa di hotel ternama.

Aahh.. ini dia tempat istirahat (yang difoto ini hanya pintu gerbangnya saja), berenang air hangat, berendam melepas penat, dan foto-foto. Rame-rame, mencatatkan kenangan keceriaan bersama. Inilah kuliah terakhir kami, kuliah lapangan. Habis ini semuanya akan lulus masing-masing, ada yang melanjutkan apoteker, ada yang langsung bekerja, ada yang pulang kampung, ada yang ke luar negri, semuanya menentukan nasib sendiri-sendiri ke belahan dunia manapun. Terima kasih kawan-kawan 2007 ! senang telah bersama kalian :)

Ketika penemuan kecil menjadi sangat lebay

Hey hey hey! Aku menemukan sesuatu. Sssstt.. pelan-pelan saja. Gini, kan riset YSEP-ku kemarin, alias Tugas Akhir (TA) tercinTA ku itu, mengidentifikasi gen-gen sistem imun dalam stem sel dari embrio tahap awal. Dan langsung saja, ( I won’t tell you all the difficulties of those drilling my head and life, hoho), hasilnya ditemukan gen-gen yang dapat mengenali ssRNA virus, yaitu Toll-like Receptor 7 dan 8. Jika mekanisme “downstream” dari aktivasi reseptor itu benar-benar beraksi, atau someday diaktifkan oleh manipulasi farmasi (baca:obat atau protein terapi yang—saya membayangkannya, for example, sebagai imunomodulator untuk janin), artinya.. virus-virus ssRNA seperti HIV AIDS yang menyerang seorang wanita (yang kemudian hamil) ga akan melukai sang bayi tak berdosa itu!

Aku jadi teringat cerita sahabatku Uta, tentang seorang bayi dari orangtua pengidap AIDS bernama Aldino, ibunya meninggal 3 hari setelah melahirkan, dan ayahnya kabur, kakek neneknya pun tak mau mengurusi, dan secara logis kemungkinan besar Aldino juga diwarisi virus yang sama tragisnya. Okelah, boleh saja kita mencaci perbuatan yang dilakukan orangtuanya, tapi sang janin tetaplah janin tak berdosa, tak tau apa-apa, dan ia sungguh tak mampu memilih ingin dilahirkan oleh siapa. Ia sungguh ingin hidup seperti bayi-bayi yang lainnya!

Saatnya penyelamat bumi beraksi! jika suatu saat nanti, ketika pharmaceuticals itu benar-benar beraksi berawal dari hasil riset ini, maka di masa depan, tak akan ada lagi bayi-bayi yang lahir mewarisi virus HIV AIDS! dan TA-ku benar-benar menyelamatkan dunia.. (amiiinn…*tawadhu) (Whaaa… Nobel.. Nobel prize!!! *lompat2 pecicilan)

*membahas TA berasa menyelamatkan dunia, lebay sungguh.

Asistensi Farmakognosi

Oke, sekarang aku sedang di lab farmakognosi.Tempat dimana orang-orang melakukan kejahatan terhadap tumbuhan untuk kebaikan umat manusia. Benar, orang-orang di sini mengguyur daun-daun dengan cairan beracun, memecah sel-selnya, mengekstrak sari-sarinya, memanaskan sampai mengepul, dan kejahatan yang lainnya. Dan aku adalah salah satunya, hehe.

Kemarin dan kemarin lusa, aku mengasistensi anak-anak 2008 di sini. well, tepatnya anak-anak non-pribumi alias anak-anak Internasional, yang semuanya berasal dari Malaysia. Lucu, konyol, rame, dan aneh-aneh saja ulahnya.

“Besok kami berdua sakit Kak, jadi ga bisa masuk”

itulah alasan si India Nara dan si Melayu Bistari, logatnya persis ipin upin, pas mereka kuminta melanjutkan penetapan kadar alkaloid ini esoknya karena waktu praktikum telah habis. Sesekali aku pakai english dan seekali pakai bahasa Indonesia pada mereka. Si India pake bahasa Indida kalo ngomong sama India, si Melayu pake bahasa melayu kalo ngmong sama melayu, dan si Chainis ngomong pake mandarin kalo sama Chainis (Chinese).

“Hah, sakit apa?”

“Demam kak” *mencari-cari alasan

“Ah, kalian ini, nanti kalo tak datang tak kukasih nilai” *bertampang galak

Lalu eksperimen dilanjutan, Justin, Narma, Hilwa dan Nurul sibuk mencampur-campur etanol dan asam fosfat, namun dua orang itu bertingkah aneh lagi.

“Kak, lihat kak, ini tangan dia perban, sakit kak. tapi meskipun sakit kami akan tetap datang kak”, Nara menunjukkan tangan Bistari yang diperban oleh kain batis (kain  yang ada di lab untuk menyaring ekstrak). Itu ngapain kalian merban tangan pake kain batis?

Si ALORI

ALORI adalah produk buatanku untuk suatu kompetisi “rancang produk” mahasiswa beberapa pekan yang lalu. Ia adalah obat herbal untuk memulihkan luka bakar, misalnya luka bakar karena ledakan kompor hingga ledakan gunung meletus. Secara ilmiah, luka bakar derajat satu hingga tiga bisa dipulihkan dengan si ALORI. Suatu Burn Care Gel dan Burn Cleansing Solution herbal yang rendah efek samping, yang belum pernah ada sebelumnya. Bahan aktifnya dari lidah buaya dan daun sirih, lidah buaya dengan segala nutrisi yang dikandungnya sebagai pemulih luka dan daun sirih sebagai antibakteri. Nah, diformulasikanlah ia menjadi gel, dengan basis gel karbopol 1% (beserta bahan lain seperti propilen glikol, trietanolamin, dan metil paraben), dan sebagai cairan pembersih kaya antibakteri. Jreng! Sambutlah dia… ALORIII!!

Ssst.. meskipun isi dari ALORI ini asli benar-benar kubuat di laboratorium teknologi likuid dan semisolida ITB, namun sejujurnya wadah dan segala pernak-pernik yang menyertainya ini hanyalah serpihan barang yang sembarangan diambil dari segala sudut rumah, hehe. Beginilah ia di balik layar.

Sempat kecewa sih, dia cuma dapet Juara 3 setelah persentasi dan diskusi dengan dewan juri hingga berdarah-darah (lebay -_-“), tapi tetap Alhamdulillah harus disyukuri, hadiahnya lumayan (halah.. -_-“) Eh maksudnya, ALORI berpotensi menjadi produk herbal asli Indonesia sebagai solusi untuk kesehatan umat manusia :)) Oya, selain merancang produk, rancang pabrik ALORI ini juga telah diselesaikan lho!, jadi bagi para investor yang berminat, langsung saja hubungi saya *hehe ngarep banget :p*

Kisah Dua Huruf: FI

Kalau kau adalah mahasiswa farmasi di universitas manapun di Indonesia, pastilah kau akan bosan dan jenuh dengan dua huruf itu, dua huruf yang selalu didengung-dengungkan para dosen farmasi, dua huruf yang selalu terletak anggun di lab, dua huruf yang selalu mengakhiri kutipan laporan praktikum farmasetika.

FI, dua huruf yang kadang membuatmu jengkel akannya karena isinya monoton. Dua huruf yang membuat kosan penuh karena volumenya yang besar. Dua huruf yang suatu ketika kau bermimpi buruk dikejar maling, dua huruf itu adalah benda pertama yang kau raih untuk menimpuk si maling itu. “Buugh..” begitu kira-kira bunyinya.

Dua huruf yang awalnya kau tak pernah duga bahwa ia akan menjadi bagian yang paling penting dari inti kuliah. Dua huruf yang terlihat usang jadul tak terabaikan dan beratnya membuat tas cantik tiba-tiba reyot. Dua huruf yang berisi huruf-huruf kecil yang membosankan dan bahasanya sangat tak beralur novel.

Dua huruf yang ternyata penting. Dua huruf yang ternyata untuk menyusun huruf-huruf itu dibutuhkan peluh keringat para peneliti dunia, milyaran pelarut organik, jutaan bakteri, tak hingga jumlahnya atom karbon-hidrogen-nitrogen-semua atom. Dua huruf yang dosen-dosenmulah yang menerjemahkan peradaban pengobatan dari cina hingga amerika tersatukan kedalam dua huruf itu. Dua huruf yang papan tulis di kelas bersaksi bahwa menghafalnya adalah tak penting, tapi tak memahaminya adalah kegagalan tak tertanggung. Dua huruf yang menjadi penguasa seluruh perusahaan farmasi Indonesia. Dua huruf yang, ah.. sudahlah, kau pasti tau kitab suci itu: Farmakope Indonesia. Rasanya Bandung gempa, aku sampai menahan nafas mengetikkan dua huruf itu.

Karena baru kusadari, akulah sang dua huruf itu. Lihatlah kawan, benar-benar dua huruf: FI. Sekali lagi ia adalah F dan I. Fakhria Itmainati. Aku lupa siapa yang terlahir duluan, dua huruf itu atau aku, tapi kujamin bahwa Continue reading

Efek Ujian Farmakologi terhadap Mahasiswi Farmasi

Sumpah, ini adalah kejadian yang sangat bersejarah dalam sejarah kemahasiswifarmasianku. Haha. Ya masak? Wong mau ujian farmakologi obat infeksi eh malah kena infeksi! Ugh.. it doesn’t mean “learning by DOING” thing, but it is H-U-R-T! I got it on my eyes, you know, my pretty eyes (halah). But by this infection I realize something I didn’t before.

“Jumatku dulu, tak begini..” begitulah nyanyian teman sekelompokku, sebut saja Bunga, bernyanyi ketika praktikum mulai menjenuhkan. Makan di bengkok pun menjadi pelampiasan, enak nggak enak, yang penting berjeda dulu dari paparan pelarut organic, fiuuhh apalagi kalau bukan fitokim, mana besok ujian farmakologi pula -_-“. Sedang enak-enaknya makan gado-gado, eh bertemu dengan teman yang lain, sebut saja Melati, “Ha? Hari gini masih praktikum? males banget, Hahah, untung gw bukan anak farmasi” dan lihatlah kawan, dia tertawa dengan sangat puas. Ow My GOD.. sungguh jahatnya, serius kalo aku lagi PMS, ni gado-gado bisa melayang (ke saluran pencernaan maksudnya).

Pulang ke rumah dijemput anak minyak yang ganteng, “ribet banget sih praktikumnya anak farmasi, untung gw anak minyak”. Ugh! Kali ini ga ada gado-gado yang bisa melayang (emang udah nyampe usus halus sih), masalahnya sebel-sebel gini aku masih tetep suka sama dia.

Entah kenapa hari itu seolah-olah semua orang bilang beruntung banget bahwa ia BUKAN anak farmasi, dan nampaknya segala sesuatu yang berhubungan dengan FARMASI adalah sesuatu yang MENGENASKAN. Termasuk hari itu, sehari menjelang ujian “ANTI-INFEKSI”, gadis farmasi semanis aku malah terkena INFEKSI. Sungguh mengenaskan bukan?

Tapi ternyata benar, ada saja skenario Allah untuk menuntunku mengeja kalimat syukur padaNYA. Tau nggak? Seketika aku sadar bahwa aku anak farmasi, maka ide yang iseng segera terpikir olehku, obat infeksi! Oh YES!!

Karena aku anak farmasi, aku merasa Continue reading

Baterai dari Kertas Fotokopi

Artikel fafa di Netsains.com edisi 10 Mei 2010

Netsains.Com – Hidup di tengah-tengah masyarakat yang tak lepas dari pasar-pasar (sangat) tradisional, membuat kita pasti familiar dengan kertas fotokopi sebagai bungkus jajanan, Terutama mahasiswa, kertas fotokopi merupakan bekal sehari-hari yang selalu ada di tas sekolah. Kertas fotokopi yang bagi penjual cabe digunakan sebagai pembungkus cabe, sebagai kantong tempe goreng dan tahu isi bagi tukang gorengan, atau sebagai bahan kuliah bagi mahasiswa, namun di tangan professor Standford University, kertas itu mampu mengasilkan listrik!

Selengkapnya klik Netsains aja ya

The Japanese Tea Ceremony: Cara Minum Teh Sehat yang Unik

Kalo ada lomba minum teh dengan cara paling Lebay unik sedunia, maka aku yakin pasti orang Jepang akan menjadi juaranya. Karena, untuk minum teh ijo ala Jepang ini, kita harus menjalani prosedur-prosedur yang ga penting unik sekali. Dari serangkaian ceremony yeng unik itu, ada beberapa yang lebay banget menurutku, yaitu:

Pertama, perhatikan mbak-mbak berkimono oranye ini, dia berjalan lurus, lambat, tiap langkah berhenti dua detik, tanpa ekspresi seperti pemimpin upacara bendera hari senin namun tetap anggun menuju panci teh dan tebak apa yang dilakukannya? Aku kira dia akan menunjukkan gaya yang spektakuler dengan benda yang dibawanya ke panci teh tersebut, namun yang terjadi adalah, mbak-mbak kimono oranye itu mengelap panci dengan 1 lembar “bulu ayam” yang dibawanya! Duuh… tweww.. rasanya ada garis-garis di kepalaku seperti dalam komik. Bahkan mengelapnya pun cuma beberapa kali, lalu kembali ke ruang belakang dengan gaya berjalan lurus dan sangat pelan. Ingin rasanya tertawa tapi sayangnya tidak diizinkan tertawa dan banyak bicara di sini! Untuk menghormati teh. Hhhfff.. jadi apapun yang terjadi, harus tetap bermuka cool. Keunikan nomer satu.

Kedua, perhatikan desain cangkir teh yang digunakan. Tea Master memberikan cangkir (yang sebenarnya mangkok) tidak sembarangan, namun sesuai “kepribadian” pada tamu, biasanya para lelaki diberi cangkir yang simple, dan para wanita diberi cangkir bunga. Aku tidak tahu bagaimana cara Tea Master menebak kesesuaian tamu dengan cangkir-nya, yang jelas cangkirku cantik sekali! Gambar bunga-bunga, Hihi..  Kasian Song, teman sampingku, anak Taiwan, cangkirnya benar-benar plain! Hehe, dia “protes” ke Tea Master, dan ternyata tea Master bilang, motifnya hanya bisa dilihat jarak dekat, (5 cm dari mata). Tapi sejujurnya aku tak melihat motifnya sama sekali, sungguh. Keunikan nomer dua. Continue reading

Selama Ini Kukira Marketing Hanyalah Pekerjaan Salesman yang Ngetok-Ngetok Pintu, Ternyata..

Mengikuti bujukan Laras hari ini benar-benar tak pernah membuatku menyesal, bahkan mungkin akan menjadi life changing moment dalam sejarah hidupku sejak hari ini, 6 Januari 2010. Thanks ya Ras,(ngelirik kucing di samping) .Biasanya setiap Rabu seusai kelas Topic on Japan aku langsung berlari (Yup! Benar-benar berlari atau aku akan ketinggalan lunch dan sholat dhuhur) mengejar kereta express menuju Suzukakedai Campus untuk kuliah Developmental Biology and Desease. Kabar baiknya adalah kemaren pak dosen yang gaul abis itu mengirim email bahwa kuliahnya hari ini libur. Yess!, tentu saja seusai kelas aku tak langsung berlari ke stasiun, namun berjalan dengan anggun menuju shokudo, kangen misoshiro , the most delicious Japanese soup ever. Hehe.

Sambil menikmati mishoshiro yang lama kurindukan gara-gara winter vacation itu, mendengarkan rayuan Laras mulai menarik rasanya. Tadinya aku heran, kenapa dia rela mengorbankan bolos kelas Nihongo hari ini, padahal kayaknya semalem dia belajar Nihongo ampe dini hari. Dan akhirnya, terbujuklah aku.

Singkat cerita, sampailah aku ke kantor KBRI di Meguro, rada aneh rasanya ketemu satpam Jepang yang fasih bilang terima kasih, masuk lift, ketemu orang-orang berbahasa Jawa, walah.. feels like my home bgt di KBRI. Isa dan Laras sudah masuk ruangan duluan, aku harus mampir ke kantor pos dulu, namun keterlambatanku ini (telat 2 menit) ternyata mengantarkanku pada kursi depan, dekat banget dengan pembicara, hehehe, senang! Hati nuraniku mengatakan, aku akan mendapat banyak pelajaran dari sini!

Aku teringat dengan cita-cita sampinganku, Continue reading

Lengan Robot untuk Pasien Amputasi

Beberapa minggu yang lalu aku dan teman-teman pergi ke Odaiba untuk melihat International Robot Exhibition, ada berbagai macam jenis robot ditampilkan di sana. Dari robot tukang las yang mirip robot di film transformer, robot pembantu rumah tangga yang bisa disuruh-suruh mengambilkan barang di kulkas (tapi lemot banget gerakannya, keburu haus! hehe), robot pecicilan kata mbaTari, yang bisa bergaya dan push-up pake satu tangan, robot cantik yang jadi resepsionis, robot keepon yang bisa buat terapi autis, robot “Paro” anjing laut berbulu untuk terapy lansia yang alergi kucing, dan lain-lain. Hehe, senang pokoknya, meskipun aku tak begitu paham ketika Risvan menerangkan mekanisme sensor robot itu, atau ketika Laras menceritakan robot-robot buat industry.

Yang jelas, ada robot yang sangat menggetarkan hatiku saat itu! Continue reading