Pengen Nulis Macam-Macam!

Yak ketemu dengan saya lagi sodara-sodaraaa..
Saya cuma pengen nulis macam-macam, seperti biasa meluapkan segala yang ada di otak, hati, dan perasaan di tengah malam gelap gulita dengan cahaya sinar yang menyala-nyala bak semangat api yang membara. Tentang mimpi-mimpi, cita-cita, isi kalbu, gue banget-nya saya lah (tweww?)

Targeett! dengan bertambahnya 1  pegawai baru bulan ini tepat setahun sudah kumulai bisnis ini, targetnya tahun depan omset harus mencapai xxxjuta dolar, esalah, rupiah ding. aminnn.. (etapi kalo yang dikabulkan yang dollar juga gapapa kok Ya Allah..amiinn )

Kemampuan memasakku merosot drastisss! duh, karena sekarang ga doyan lagi browse2 resep2an, mana suamiku ga mau masakan yang berinovasi (dia suka yang original, tradisional, dan berkelas), well memang inovasi ku dalam memasak kan sering banget ga selalu enak haha, namanya juga eksperimen, dan itu membuatku kapox. Give up. Aaaa.. dan suamiku sangat memahaminya, hiks terharu, istri macam apa ini, beruntung banget punya suami kayak dia. Mungkin someday lah, kalo ntar punya anak perempuan, dan aku ngerasa harus say something like “Nak, ini resep masakan bunda, kamu simpan baik2 ya, wariskan pada anak cucu kita”, *muahaha dramatiss. Mungkin semangat memasakku kembali terbit. Sekarang I choose to enjoy main mobil2an dan main bola aja lah sama Aldin :D

Pengen Nulis Bukuuuu! Paling lambat akhir tahun ini drafting selesai :D hehe, lama banget deadline nya. Bukunya tentang apa? hihihi kasitau ngga yaaa.. kayaknya aku harus segera menulisnya sebelum kalian mencuri ideku *pasangkacamatahitam. Harus menulis draft minimal seminggu sekali. Well, setidaknya, kalo gue gagal jadi “original pharmacist”, nama gue bakal dikenal orang sebagai “Author of best seller book”, and that’s nice :)

One thing : I Love Marketing World!!! hehehehe.. udah hampir lupa semua tuh nama species bunga2 , taneman2 botanical farmasi, but they are still inspiring me untuk memberi nama produk2 aku dengan name of species itu aja, haha, apalagi Mollecular Biology, Oh my God, no more exciting :( entah kenapa passion-ku ni tiba2 banting setir ke Marketingology :) but I do love it! aneh kan, saya juga bingung. Apa gara2 isu entrepreneurship memang lagi booming di Indonesia? dan some people berpikir bahwa itu adalah salah satu solusi untuk mengangkat derajat bangsa Indonesia, well jika memang aku terbawa arus yang mengarah pada kebaikan, alhamdulillah, gini2 kan aku masih punya idealisme membangun negeri, meskipun pak SBY nggak follback aku (penting -___-“)

Apalagi ya? Oyaa.. Target ruhiyah: Sholat Dhuha ga bolong2 lagi dan rutin tiap hari, Sholat Tahajud harus segera dirintis hehe.. Pengen deh ikutan mentoring atau kajian islam lagi yang macem gamais dulu (yang mencerahkan hati sekaligus menginspirasi biar dapet IPK4) , bukan yang tendensius, partaisius, suka ngomongin konspirasi ga jelas, apalagi kajian yang nyuruh2 kampanye, sorry ya, ogah banget, trauma.  Mentoring islaminya buat orang2 yang ga suka politik kayak aku, ada gak ya huhu..

Best Quote of today dapet dari twitter : Anak adalah titipan Allah, masak dititipin ke orang lain? Apa mau surga dipindahin ke telapak kaki baby sitter?

Udah dulu deh, hihihii.. saatnya mijitin suami tercinta ;)

Advertisements

Karena Melakukan Hal yang Kita Sukai itu Menyenangkan

Tokyo kala itu, tengah malam, kereta terakhir jurusan Shibuya. Di sampingku adalah abang-abang PhD yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan tempat tinggalku. Sama saja, kau tak akan bisa membedakan abang-abang Jepang itu apakah mereka sedang mengantuk atau sedang seratus persen terjaga, karena mata mereka tak seperti mataku, mata gadis jawa yang tampak sekali jika telah mencapai 5 watt. Menyipit-nyipit dan berkedip lambat. Ngantuk.

Kami habis dari Lab, ngapain coba? Latihan presentasi, aku presenternya dan mereka layaknya dosen penguji, bertanya pertanyaan-pertanyaan ga penting tapi susahnya amit-amit. Dan entah darimana mulainya, diskusi dengan mereka tiba-tiba bisa menjadi topik yang sangat menarik, hingga kalau saja tak ada kereta terakhir yang harus kami kejar untuk pulang, maka diskusi itu mungkin akan berlanjut hingga esok-esoknya. Serius, kalau ada lomba diskusi hari itu, pasti mereka juaranya (aku jurinya yang terkantuk-kantuk).

“Kau nampak lelah sekali Fa”, dia bilang.

Aku mengangguk dan pura-pura bangun dari kantuk yang menjalar ke seluruh neuron.

“Apakah kau pulang dari lab jam segini tiap hari?”, tanyaku Continue reading

Bukan tentang “Wasabi”, tapi tentang “What you wanna be?”

It was like “You can’t force yourself to like ‘wasabi’ “, just realize who you are, be your self and choose your own future that fits it. *status fesbuk fafa 10 April 2010

Suatu cita-cita memang tak bisa dipaksakan, mana yang paling sesuai dengan hati nurani mu, maka ikutilah. Impian muncul dari hati nurani tanpa dipaksakan, sama halnya kita tak bisa dipaksa untuk makan “wasabi” kalau memang tidak suka (wasabi = sejenis sambel ala jepang yang rasa pedasnya aneh menurutku), tetap saja aku, dari hati nurani-ku lebih menyukai “sambel terasi” dari ‘layah’ dan ‘uleg-uleg’ di Ngawi, seperti yang dibuatkan ibuku. Hihi. *jadi laper

Ketika aku kembali mengingat cita-citaku sebagai seorang dosen dan peneliti yang hebat, kala itu mungkin masih sesuai dengan hati nurani-ku saat itu, namun sekarang nampaknya sedikit akan dibelokkan (bukan berarti berubah). Kadang terlintas bahwa itu adalah cita-cita yang “nyaman” banget, meskipun tantangan pasti akan ada, kontribusi pun pasti ada, namun pertanyaan yang muncul sekarang adalah : sebesar apa kontribusi yang terlahir dari cita-cita itu?

senyum manis gadis kecil di kampungku, dan pemandangan di belakang rumahku

Seminar tentang Social Entrepreneurship oleh Bill Drayton dan David Green di Tokyo Tech, 2 hari sebelum ulangtahunku yang ke 21 tahun itu, agaknya menarik cita-citaku untuk menjadi seorang social edupreneurship. Pun aku masih ingin kuliah sampai PhD, namun yang pasti : Aku ingin punya foundation untuk membiayai sekolah, dan sekaligus mensuplai bimbingan belajar intensif untuk anak-anak miskin di desaku. Sederhana.  Bismillah, aku sangat yakin pasti aku bisa.

Kala itu kakek Bill Drayton bercerita tentang Fabio Rosa, yang berhasil mendirikan bisnis listrik sekaligus mensuplai listrik untuk orang-orang miskin di Brazil yang tak mampu membeli listrik namum mampu menyewa panel sel surya. Ya! Listrik itu berasal dari energi matahari. Pak Fabio menciptakan panel surya yang “user friendly” untuk desa tersebut dan akhirnya desa di Brazil itu maju pesat berkat adanya energi listrik, yang salah satunya digunakan untuk system pengairan sawah dan ladang di daerah tersebut.

Selain itu, ada juga kisah social innovasi dari Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian tahun 2006, yangberhasil mengentaskan kemiskinan di Bangladesh melalui penjaman mikrokredit dari Grameen Bank. Muhammad Yunus, sang pendiri Grameen Bank itu yakin, kemiskinan sebenarnya Continue reading