10 alasan kenapa kalau gagal aku harus bangkit lagi

Akhir-akhir ini aku sedang tertimpa kegagalan, kawan. Tapi kalo aku ceritakan ntar aku makin sedih. Dan juga karena sejak awal blog ini diciptakan untuk bergembira ria syalala, jadi aku ga akan menangis bombai di sini. Duh tapi kok atmosfernya udah sedih gini. Oke, lupakan! kata penyiar radio pagi-pagi, orang yang sukses adalah orang yang senantiasa bertambah ilmu dan ketawadhuan-nya. Sekarang, inilah 10 alasan kenapa kalo gagal aku harus bangkit lagi, yang sejujurnya aku mencari-cari alasan-alasan itu sambil menulis kalimat ini:

1. Karena saat ini tak akan datang dua kali. Kesempatan ini belum tentu aku dapatkan esok-esok hari, dan aku ga mau hal menyesal di kemudian hari lantas bilang “wah, coba  gue kembali ke masa lalu, pasti gue akan bersungguh-sungguh” (ceritanya di masa depan mesin waktunya doraemon belum ditemuin dan kosa kata aku menjadi lebih modern menjadi gue, haha).

2. Aku malu sama adikku, si bandel dan usil itu, ternyata sekarang dia punya kerja sambilan di sela-sela kuliahnya. Kesimpulannya cuma satu : Adikku bekerja keras untuk hidupnya! tapi aku malah berlama-lama meratapi kegagalan yang tak kunjung mentransformasi energi malas menjadi energi kinetik bernama kerja keras. Kakak macam apa aku ini ha?

3. Aku Continue reading

Terima Raport

“Hari ini aku terima raport!”

Haha, SD banget. Teringat masa kecilku dulu, pas akhir caturwulan, aku di rumah pasti menunggu ayahku datang dari sekolah, menceritakan rangkingku di kelas, menceritakan apa kata ibu guru wali kelas, deg degan.. kata ayahku “dag dig dug deg deg dog dog..”. Ayahku selalu benar, dan lebay.

Menghitung detik demi detik, jam demi jam, demi wajah cerah ayah yang artinya aku rangking satu. Dan cerita panjang ayah, tentang temanku yang ditinggal ibunya bekerja keluar negeri dan rapotnya diambilkan oleh kakeknya yang telah renta, cerita dan cerita. Cerita ayahku selalu menarik, dan lebay.

Aku punya adik baru, cantik dan imut,namanya Aprilia, dia sungguh gadis yang cerdas, tak pernah tak rangking satu, sangat rajin belajar, masalahnya cuma satu : aku jatuh cinta pada kakak laki-lakinya! Yang menggendongnya berangkat mengaji ke masjid, membelikan es krim, mengajak jalan-jalan, dan semua hal yang membuatnya ceria sepanjang hari. Sejak ia tahu bahwa aku menyukai kakak tersayangnya, ia tak berani bicara padaku. Maka setiap hari, aku mendengarnya berceloteh riang di telepon. Mendengar celotehnya saja sungguh menyenangkan. Baik sedang senang atau sebel, ia selalu menyenangkan. Suatu hari, ia bercerita bahwa ia sebel, acara terima raport di kelasnya ditunda! Sungguh menyebalkan bagi gadis mungil yang pintar jika perayaan rangking-satu-nya ditunda, itu artinya hadiah dari ayah dan bunda juga ditunda. Dia berceloteh menggerutu dan mengomel pada kakaknya. Ah.. lucunya, aku menahan tawa.

Nampaknya aku juga rada-rada sebel masalah raport. Bukan, sama sekali bukan karena Continue reading