Apa jadinya kalo Scientist jadi Hijabholic

Hidup di Jakarta selain mengajarkanku bahwa hidup harus bekerja keras, juga membuatku tahu bahwa terkadang hal-hal yang selama ini kuanggap aneh menjadi sangat biasa di ibu kota. Hal-hal yang tak pernah dilanggar di kampung halamanku seolah menjadi cemilan yang lumrah.

Ada mbak-mbak, cantik, baca buku (it means terlihat smart), tapi ternyata di balik bukunya dia menghisap rokok. Adapula yang lain yang cantik, polos, mengantri menuju kasir Alfamart di belakangku, teryata dia beli rokok dan merokoknya. Dan yang paling miris di hatiku adalah ketika melihat seseorang berjilbab dengan manis dan anggun.. terdiam duduk menunggu sajian steak, ternyata sambil merokok!! Oh NOooo rasanya sepeti pengen ngomel-ngomel ceramah abcdefghijklmnopxxxxxzz tapi apa daya semuanya tercekat dalam hati dan hanya muncul sebagai kernyitan-kernyitan di dahi. Ga perlu diceritain lagi lah ya, jeleknya rokok buat anatomi fisiologi jiwa raga manusia. Harusnya di dunia perokokan, dibikin aturan “Dilarang Membunuh Manusia” agar di dunia ini aturan “Dilarang Merokok” manjur.

Well sebenernya targetku Oktober ini mau launching produk baru dari my original brand sendiri kan, tapi ada sedikit masalah dengan pihak penjahit, walhasil molor deh. Dipikir2..kalo seandainya aku jualan hijab scarf bukan untuk nyari duit semata. Pengeeen banget bikin jilbab yang langsung berubah warna belepotan kalo si pemakainya ngerokok! hewwhh.. harapannya, sekali tu orang ngerokok, langsung bad style aja lah dia, confidence jatuh, and then stop smoking.

Tapi harus dibikin material yang bisa menangkap sensor nikotin rokok kali ya, bukan asap rokok, soalnya kalo misal si hijaber itu naik angkot dan kena asap rokok pak supir kan kasian ntar kalo jilbabnya ancur. Sensor kimiawi maybe ya. Tapi dilihat dari segi bisnis, mana ada yang beli? hehe atau kita sembunyikan saja diam2 sensor kimiawi itu, misalnya saja ia berwujud seperti cairan sprayer kayak Rapika, semprot-setrika-beres.

Ah tapi ide ini terlalu gila. Lebay gitchu looh. Terkesan terlalu mengkait-kaitkan jurusan kuliah dengan pekerjaan. Hahaha. Anyhow Anyway, meskipun kerjaanku sekarang ga ada nyambung2nya secuilpun  ama judul Tugas Akhir yang jauh-jauh diambil di Jepang itu, (“Toll-Like Receptor (TLR) 1-9 Identification of Innate Immune System in Mouse Embryonic Stem Cell“, baru pertama kali ini gw merasa horor baca judul TA ini) yang penting menurut Sabda Pak Rektor ITB Kusmayanto Kadiman, sebagai lulusan ITB dosaku akan berkurang satu, yes! Jadi kata beliau itu, dalam pidato penyambutan mahasiswa baru jaman dulu (gw angkatan 2006, tau ini juga warisan dari kakak2 swastah). Berikut sabda Kusmayanto Kadiman yang fenomenal itu:

Ketika kamu masuk ITB, kamu telah menambah satu dosa, karena telah menyingkirkan ratusan sampai ribuan orang yang ingin masuk ITB. Dosa itu hanya bisa ditebus dengan menjadi entrepreneur dan menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya. Jika tidak, kamu akan menambah satu dosa lagi karena telah merebut jatah ratusan penduduk Indonesia untuk bisa mencari nafkah.”

Yey! Kamis nanti karyawan, eh karyawati pertamaku datang! Yth Pak Kusmayanto Kadiman, Alhamdulillah pak, dosa saya sebagai alumni ITB berkurang satu kan ya? pliss :D

Macam-Macam Customer Tingkat Dewa

Hehe, ini ceritanya aku mau cerita tentang macam-macam customer yaa.. atau bisa juga dibalik: customer yang macam-macam. 3 bulan menjalani hidup sebagai emak-emak penjoeal kerudung online membuatku sibuk tingkat emaknya dewa sekaligus mempunyai teman baru bernama customer tercinta, berikut liputannya :D

1. Customer Tertib dan Baik Hati

ini adalah customer favoritku, yang order sesuai aturan dan mau bersabar mengantri :D, kalo aku mendadak jadi nihonjin pasti bilang : omataseshimashita.. dengan senyum setulus lautan biru :) udah gitu customer ini yang suka konfirmasi kalo paketnya udah nyampe dan dia seneng banget, nah apalagi kalo si sista ini uplod fotonya pas lagi make produk kita, wuiiiihh.. rasanya pengen ngasih bonus hijab sekarung hehe.. *tapi takut bangkrut sih :p

2. Customer Sayang Istri
Lha? emang ada cowo yang beli?? ngga sih, Jadi mereka ini adalah suami-suami customerku yang rela berkorban jiwa dan raga agar istrinya senang, yaitu dengan mengambil order langsung ke saya menembus macet dan polusi Jakarta yang subhanalloh. Nah sedangkan istrinya berada di luar jawa atau di desa terpencil gitu, paket shawl-nya akan dibawakan buat oleh-oleh untuk istri tercinta, hehe. Haduuuuuhh so sweeet gak seeeeeh?? aku ceritain ke suamiku dia malah manyun,  “Ah kamu ini orang ngasi jilbab ke istrinya aja terharu, buat kamu, nyawa ini pun tak kasih say..ready stock!” #eaaa

3. Customer Galau

Adalah customer yang melampiaskan kegalauannya di fanpage facebook Hijab Wanita Cantik, alias curhat ke saya. Ada yang pengen order tapi cuma 1 biji dan nanggung ke ATM dan ga bisa sms banking, ada yang rumahnya di pelosok Indonesia dan takut dibohongin olshop dikira ga ngirim paketnya, terakhir ada yang lagi habis putus ama cowonya, dan minta dikenalin dengan cowo berhati mulia. Wah, sis kalo ada cowo berhati mulia yang saya kenal, maka pastilah ia suamiku, mana mungkin aku kenalin padamu :D

4. Customer Salah Tafsir
Nah, kalo ini rada parah. Nama online shop saya kan Hijab Wanita Cantik, yang saya jual adalah Hijab atau pakaian/kerudung syar’i buat muslimah, Mentang2 judulnya Hijab Wanita Cantik, saya dikira Jualan Wanita Cantik! Oh my GOD..  Ya udah deh, mumpung saya lagi baik, saya bantu nyebarin no hapenya ya, tapi saya ga tanggung jawab kalo ada apa-apa ya.
Image

Well then, anyway anyhow.. sejujurnya aku bersyukur banget punya banyak customer, dari seluruh penjuru Indonesia pulak! dan itu membuat wawasanku lebih terbuka akan betapa banyaknya daerah di Indonesia yang minta dijelajahi. Waihaong, Lembursitu, Pangkalanbun, Pangkalpinang, Palembang, Mataram, de el el.. Dan terutama, kalo bukan customer siapa lagi yang turut berpartisipasi aktif menaikkan omset! hehe alhamdulillah.., dan perlu diyakini bahwa sesungguhnya customer adalah milik Allah, Allah lah yang gerakin hati dan tangannya untuk klik mouse dan hape untuk order, ah Subhanalloh… menjadi pengusaha nampaknya berprospek menjadikanku sebagai wanita (cantik dan) sholehah.. harus rajin berdoa dan bersedekah biar setiap detik penuh berkah. Nampaknya aku cocok jadi pengusaha aja, daripada jadi dosen. kali ya?