Hari-Hari Gaya

Dan hari-hari gaya pun dimulai. Memakai jas lab lagi meski ga ngerjain TA, berkeliaran di lab lagi, bertemu orang-orang yang seru di tengah keributan protein-protein. Pekerjaan melelahkan namun cerdas. Selalu menyenangkan, untuk sebuah cita-cita yang semakin dekat. 私はね。。最後の最後まであきらめない!!

Advertisements

Karena Melakukan Hal yang Kita Sukai itu Menyenangkan

Tokyo kala itu, tengah malam, kereta terakhir jurusan Shibuya. Di sampingku adalah abang-abang PhD yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan tempat tinggalku. Sama saja, kau tak akan bisa membedakan abang-abang Jepang itu apakah mereka sedang mengantuk atau sedang seratus persen terjaga, karena mata mereka tak seperti mataku, mata gadis jawa yang tampak sekali jika telah mencapai 5 watt. Menyipit-nyipit dan berkedip lambat. Ngantuk.

Kami habis dari Lab, ngapain coba? Latihan presentasi, aku presenternya dan mereka layaknya dosen penguji, bertanya pertanyaan-pertanyaan ga penting tapi susahnya amit-amit. Dan entah darimana mulainya, diskusi dengan mereka tiba-tiba bisa menjadi topik yang sangat menarik, hingga kalau saja tak ada kereta terakhir yang harus kami kejar untuk pulang, maka diskusi itu mungkin akan berlanjut hingga esok-esoknya. Serius, kalau ada lomba diskusi hari itu, pasti mereka juaranya (aku jurinya yang terkantuk-kantuk).

“Kau nampak lelah sekali Fa”, dia bilang.

Aku mengangguk dan pura-pura bangun dari kantuk yang menjalar ke seluruh neuron.

“Apakah kau pulang dari lab jam segini tiap hari?”, tanyaku Continue reading

Piring-Piring yang Utuh dan yang Pecah

Semester 6 telah berlalu. Kau tahu, selama satu semester itu, sang piring-piring telah menjalani nasibnya masing-masing.

Sebuah impian memberi kita pengharapan bagi masa depan dan itu memungkinkan kita memprioritaskan segala yang kita perbuat. (John C. Maxwell)

Seorang yang mempunyai impian mengetahui apa yang rela ia korbankan demi peningkatan dirinya. Ia mampu mengukur segalanya yang ia perbuat menurut apakah itu berkontribusi terhadap impiannya atau tidak, mengkonsentrasikan perhatiannya kepada hal-hal yang mendekatkannya pada impiannya tersebut dan tidak terlalu memperhatikan segalanya yang tidak mendekatkannya kepada impian tersebut. Ironisnya, banyak orang yang melakukan hal sebaliknya. Bukannya fokus pada impian mereka dan melepaskan hal-hal kurang penting, mereka ingin agar setiap pilihan itu terbuka. Tetapi itu justru membuat mereka menghadapi banyak masalah sebab pengambilan keputusan menjadi semakin rumit.

Ibarat pemain sirkus yang memutar piring-piring di atas tongkat kurusnya.

Maka piring-piring itu adalah prioritas dan terserah kamu, mana yang akan kamu ambil, mana yang akan kamu putar dengan cepat, dan mana yang kamu lalaikan dan ia akan jatuh. Piring-piring itu adalah puzzle-puzzle impianmu yang mungkin yang utuh dan yang pecah berbeda dengan teman-temanmu, karena impian masing-masing orang berbeda, maka puzzle penyusunnya pun berbeda, sehingga piring-piring yang utuh dan yang pecah pun akan berbeda.

Hehe, aku jadi bingung sendiri, sebenarnya tadi aku mau nulis apa ya?

Baiklah, sejujurnya aku ingin.. (duh,, jadi kehabisan kata-kata..) menulis tentang nasib piring-piring impianku semester ini..

Pada semester 6 ini piring-piring yang berhasil aku putar dengan cepat adalah : Continue reading

Mimpi adalah Kunci

“I know this is my destiny ! ” (Prince Zuko, Avatar)

“Bermimpi kan gratis fa, ngapain harus takut?, aku pengin ke Afrika, suatu saat nanti” (Mbak Yuli )

“Tidak ada alternatif dalam impian dan cita-cita, yang ada hanyalah how to achieve it,,, ada banyak strategi. Potensi kamu terlalu besar untuk sekedar bermimpi kecil ” (Tussy)

“Semangat dong, mengejar impian tu harus semangat!, kita harus bekerja seperfeksionis mungkin” (Kak Hegar) Continue reading