Lulusan ITB ga bisa bantu orang = sampah!

Hari ini aku dapat nice women talks dengan sebut saja Mbak Vina, person who always in charge baik dalam urusan fluktuasi IP maupun financial help di TF scholarship yang ngasi beasiswa aku ampe lulus kandang gajah ITB, dan satu lagi dengan anak 2007 yang tadinya sempat jutek gara-gara mengira aku angkatan 2009 yang mau ikut seleksi beasiswa (padahal aku juga panitia sama kaya dia), well, maklumlah resiko emak-emak berwajah imut (dan hal ini terjadi ga hanya sekali, yang lebih parah adalah pas di gedung Annex seorang bapak mengiraku anak SMA -_-” ). Dan hari ini aku teringat qoute seseorang yang terngiang-ngiang di tengah wisuda Juli kemaren, yang coba kulupakan sejenak untuk menikmati perayaan wisuda namun sekarang terngiang dan menusuk lagi, “Lulusan ITB ga bisa bantu orang mah sama aja kayak SAMPAH!” ( sampah-nya itu looh nonjok banget, asli).

Continue reading

“Menyalakan Lilin” di Tengah Jalan

Oke! welcome back! okaerinasaaaaii… *menyambut diri sendiri :p, akhirnya saya kembali berada di Bandung, setelah seminggu refreshing ke kampung halaman tercinta. Selalu ada inspirasi dong, ini dia nih:

1. Musibah wereng benar-benar menjadi petaka bagi kota kami musim panen lalu, sawah pakde kedunggalar yang 1 hektar hanya berhasil menuai panen 8 bathok beras, gara-gara wereng. Ayah tetanggaku ada yang stress terpaku hingga pingsan dalam kondisi mematung di tengah sawah melihat “angin tornado” wereng menghancurkan sawahnya. Pemerintah berniat baik, memberi subsidi benih kedelai untuk petani, agar tak diserang wereng lagi, namun apa daya para petani justru ramai-ramai menjualnya demi mendapatka uang (mungkin untuk membayar hutang atas kerugian sawah tak terkira, di samping harga jual kedelai juga tak setinggi beras). Oke, inspirasinya adalah aku berencana bikin biopestisida buat membasmi wereng di Ngawi, minimal buat sawah ayahku.

2. Inspirasi untuk bikin video edukasi buat Aprilia, Hani, dan anak-anak SD (sampai SMA pengennya). langkah kecil untuk membangun pendidikan secara cerdas.

3. Ngambil jaket almamater di rumah (eh, emangnya ini inspirasi?) buat final lomba LPMF di Unair ntar, tepat 2 hari setelah wisuda :D hehehe . Bismillah, persembahan terakhir buat ITB, Juara 1! Yosh!

4. Inspirasi disain kebaya wisudaa.. :))

5. Inspirasi tentang berbuat kebaikan secara refleks dan terencana.

ini nih yang sebenarnya akan kuceritakan sekarang. Kan aku lagi naik (dibonceng sih) motor menuju Desa Teguhan melewati jalan raya Paron-Jogorogo, tampaklah beberapa bapak-bapak mencangkuli tanah di sekitar jalan, membawa bongkahan tanah tersebut dengan karung, lalu menimbunnya pada jalan raya yang bolong-bolong besar–yang kalau tak hati-hati, pengendara motor kencang akan terpelanting melewati jalan yang rusak tersebut. hampir dipastikan 3-4 orang bapak-bapak itu bukan anggota DPRD atau pejabat yang lagi gaya lah,  mereka juga bukan warga yang rumahnya di sekitar situ (soalnya mereka pake motor menuju lokasi) mereka benar-benar menyengaja bawa cangkul dan karung dari rumah, menuju jalan yang rusak tersebut, dan MEMPERBAIKINYA dengan apa yang mereka punya! meski tak punya aspal atau mesin penggilas jalan, ketulusan hati mereka tergerak. Tanpa mencela para pemerintah pembangun jalan yang mengkorupsi atau apa lah, mereka tetap bekerja sebaik-bainya agar pengguna jalan tak celaka. Merekalah teladan bagaimana menjadi solusi, lebih baik menyalakan lilin daripada mencela kegelapan. Di kampung saya, orang-orang baik seperti ini masih banyak ternyata. Bravo Ngawi!

Bukan tentang “Wasabi”, tapi tentang “What you wanna be?”

It was like “You can’t force yourself to like ‘wasabi’ “, just realize who you are, be your self and choose your own future that fits it. *status fesbuk fafa 10 April 2010

Suatu cita-cita memang tak bisa dipaksakan, mana yang paling sesuai dengan hati nurani mu, maka ikutilah. Impian muncul dari hati nurani tanpa dipaksakan, sama halnya kita tak bisa dipaksa untuk makan “wasabi” kalau memang tidak suka (wasabi = sejenis sambel ala jepang yang rasa pedasnya aneh menurutku), tetap saja aku, dari hati nurani-ku lebih menyukai “sambel terasi” dari ‘layah’ dan ‘uleg-uleg’ di Ngawi, seperti yang dibuatkan ibuku. Hihi. *jadi laper

Ketika aku kembali mengingat cita-citaku sebagai seorang dosen dan peneliti yang hebat, kala itu mungkin masih sesuai dengan hati nurani-ku saat itu, namun sekarang nampaknya sedikit akan dibelokkan (bukan berarti berubah). Kadang terlintas bahwa itu adalah cita-cita yang “nyaman” banget, meskipun tantangan pasti akan ada, kontribusi pun pasti ada, namun pertanyaan yang muncul sekarang adalah : sebesar apa kontribusi yang terlahir dari cita-cita itu?

senyum manis gadis kecil di kampungku, dan pemandangan di belakang rumahku

Seminar tentang Social Entrepreneurship oleh Bill Drayton dan David Green di Tokyo Tech, 2 hari sebelum ulangtahunku yang ke 21 tahun itu, agaknya menarik cita-citaku untuk menjadi seorang social edupreneurship. Pun aku masih ingin kuliah sampai PhD, namun yang pasti : Aku ingin punya foundation untuk membiayai sekolah, dan sekaligus mensuplai bimbingan belajar intensif untuk anak-anak miskin di desaku. Sederhana.  Bismillah, aku sangat yakin pasti aku bisa.

Kala itu kakek Bill Drayton bercerita tentang Fabio Rosa, yang berhasil mendirikan bisnis listrik sekaligus mensuplai listrik untuk orang-orang miskin di Brazil yang tak mampu membeli listrik namum mampu menyewa panel sel surya. Ya! Listrik itu berasal dari energi matahari. Pak Fabio menciptakan panel surya yang “user friendly” untuk desa tersebut dan akhirnya desa di Brazil itu maju pesat berkat adanya energi listrik, yang salah satunya digunakan untuk system pengairan sawah dan ladang di daerah tersebut.

Selain itu, ada juga kisah social innovasi dari Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian tahun 2006, yangberhasil mengentaskan kemiskinan di Bangladesh melalui penjaman mikrokredit dari Grameen Bank. Muhammad Yunus, sang pendiri Grameen Bank itu yakin, kemiskinan sebenarnya Continue reading