Lulusan ITB ga bisa bantu orang = sampah!

Hari ini aku dapat nice women talks dengan sebut saja Mbak Vina, person who always in charge baik dalam urusan fluktuasi IP maupun financial help di TF scholarship yang ngasi beasiswa aku ampe lulus kandang gajah ITB, dan satu lagi dengan anak 2007 yang tadinya sempat jutek gara-gara mengira aku angkatan 2009 yang mau ikut seleksi beasiswa (padahal aku juga panitia sama kaya dia), well, maklumlah resiko emak-emak berwajah imut (dan hal ini terjadi ga hanya sekali, yang lebih parah adalah pas di gedung Annex seorang bapak mengiraku anak SMA -_-” ). Dan hari ini aku teringat qoute seseorang yang terngiang-ngiang di tengah wisuda Juli kemaren, yang coba kulupakan sejenak untuk menikmati perayaan wisuda namun sekarang terngiang dan menusuk lagi, “Lulusan ITB ga bisa bantu orang mah sama aja kayak SAMPAH!” ( sampah-nya itu looh nonjok banget, asli).

Continue reading

Advertisements

Arak-Arakan Wisuda ITB

Setahun tiga kali, wisudaan adalah hal yang selalu asik buat ditonton. Wisudaan April ini kayaknya akan menjadi yang terakhir kunikmati, soalnya Juli nanti giliran aku yang bakal diwisuda, (amiiin). Well then, acara seremoni aslinya sungguh formal, yang bikin para wisudawan ngantuk tapi apa daya itu acara sekali seumur hidup, yang bahkan ga boleh tepuk tangan, bagian yang lumayan seger saat dibacakan testimoni para cumlauder yang kadang komentarnya sangat mahasiswa, seperti : “ITB makin sempit, apalagi ditambah nginjek rumput di-skors 1 sks”, atau “di sini biaya kuliah makin mahal” atau “di ITB ada sarana hiburan yang sangat menghibur yaitu RILEKS”, komentar-komentar itu selalu disorakin rame-rame. Bagian yang lumayan berkesan bagi wisudawan adalah pas dipanggil nama, sekali-kalinya diselametin sama pak rektor (pertama dan terakhir kali), dan foto-foto pake toga ITB yang paling keren sedunia.

Wew.. yang paling bikin ketawa terpingkal-pingkal sekaligus nyeplos “yah, garing!” adalah sesuatu bernama Arak-Arakan! -yang melelahkan bagi wisudawan. Terutama cewe-cewe, mereka akan ganti kostum sendal jepit, karena haihils adalah siksaan berat saat arak-arakan, apalagi saat teriak-teriak yel himpunan, ancur lah dihentak-hentak.

Nah, di Bulevard Ganesha ini menjadi tempat atraksi bagi masing-masing Himpunan, ada yang nge-dance cantik-cantik , bisa ditebak lah ya : Farmasi, Biologi, Planologi, Teknik Industri, dan jurusan-jurusan bercewek banyak. contohnya ini anak TI.

Sayup-sayup yang terdengar dari yel-yel himpunan cewe akan terdengar nyaring melengking “hwiwiwiwiwiwiwiiwiwiwiwi”, ziing…. ditengah-tengah para himpunan cowok, yang bisa ditebak lah ya, yang suara yel nya dari kejauhan hanya terdengar teriakan horor “huwowowowowowowowo..” saking nge-bass nya.

Selain teriakan-teriakan “ga penting” (biarlah, ekspresi jiwa),  ada juga atraksi ga penting lainnya. Eh, serius, ga penting tapi bikin ketawa. Misalnya anak Mesin yang trek-trekan pake motor gede, pamer asap knalpot, tapi tiba-tiba mati dan motornya ga bisa jalan (penonton bersorak ketawa gulung-gulung), menurut temenku (yang ga ketawa) itu rada ga cerdas, katanya “kan sebenernya mereka punya produk mesin yang juara internasional, eh yang dipamerin malah asap kenalpot?”. Tapi ya namanya euforia wisuda, kita nikmati senang-senangnya aja. Ada lagi anak Penerbangan yang selalu bikin pesawat-pesawatan, yang selalu diterbangin di depan penonton, dan berbelok-belok nan cantik di udara.. eh lantas meluncur jatuh atau pernah juga mendadak nyangkut pohon, “yaaaaaaaaah…” penonton kompak kecewa-masih sambil ketawa.

Nah, yang paling banyak aksesorisnya adalah anak SR alias seni rupa, tema mereka kali ini tentang laut-laut gitu deh. Di deket Indonesia Tenggelam ada gurita besar dan kerang bikinan mereka, tapi pas atraksi mereka nyebur kolam Intel, lantas di-stoplah sama pak Satpam.. “yah.. ga seru ah pak”, tapi pak satpam K3L hanya bergumam “Hmm.. kenakalan mahasiswa harus diberantas”. Alhasil tak ada tarian-tarian unik asli SR, mereka hanya berparade kostum yang unyu-unyu seperti ini.

Mungkin ini semacam ikan-ikan pemain musik.

Putri duyung? Continue reading

Si ALORI

ALORI adalah produk buatanku untuk suatu kompetisi “rancang produk” mahasiswa beberapa pekan yang lalu. Ia adalah obat herbal untuk memulihkan luka bakar, misalnya luka bakar karena ledakan kompor hingga ledakan gunung meletus. Secara ilmiah, luka bakar derajat satu hingga tiga bisa dipulihkan dengan si ALORI. Suatu Burn Care Gel dan Burn Cleansing Solution herbal yang rendah efek samping, yang belum pernah ada sebelumnya. Bahan aktifnya dari lidah buaya dan daun sirih, lidah buaya dengan segala nutrisi yang dikandungnya sebagai pemulih luka dan daun sirih sebagai antibakteri. Nah, diformulasikanlah ia menjadi gel, dengan basis gel karbopol 1% (beserta bahan lain seperti propilen glikol, trietanolamin, dan metil paraben), dan sebagai cairan pembersih kaya antibakteri. Jreng! Sambutlah dia… ALORIII!!

Ssst.. meskipun isi dari ALORI ini asli benar-benar kubuat di laboratorium teknologi likuid dan semisolida ITB, namun sejujurnya wadah dan segala pernak-pernik yang menyertainya ini hanyalah serpihan barang yang sembarangan diambil dari segala sudut rumah, hehe. Beginilah ia di balik layar.

Sempat kecewa sih, dia cuma dapet Juara 3 setelah persentasi dan diskusi dengan dewan juri hingga berdarah-darah (lebay -_-“), tapi tetap Alhamdulillah harus disyukuri, hadiahnya lumayan (halah.. -_-“) Eh maksudnya, ALORI berpotensi menjadi produk herbal asli Indonesia sebagai solusi untuk kesehatan umat manusia :)) Oya, selain merancang produk, rancang pabrik ALORI ini juga telah diselesaikan lho!, jadi bagi para investor yang berminat, langsung saja hubungi saya *hehe ngarep banget :p*

Dead-line

Tahukah kamu? deadline telah menjadi kawan akrabku akhir-akhir ini. Ga tau kenapa ia begitu mendarah daging. Rasanya kalo punya ide, sang ide tu selalu muncul pas bener-bener mepet deadline. Begitulah tabiatnya, sejak dulu ide  memang rada menyebalkan! datang tak diundang pulang tak diantar.

Sekarang apa coba? IEC 2011. ITB Entrepreneurship Challenge (lomba ide bisnis paling bergengsi se Indonesia, yang mau ngasi juara I duit 30 juta sekaligus peluang modal usaha-ratusan juta).  Lomba yang sangat pengen aku ikuti sejak lahir (lebay, sejak TPB maksudnya) namun kandas terus gara-gara ga punya ide sekaligus minder ama anak2 SBM dan jurusan laen yang berkoar-koar banget tentang ide bisnisnya, di depan para alumni yang investor tajir abis, pas seminar IEC kapan tahun lalu. Namun iya lah ia, tak bisa dipungkiri. Bertahun-tahun kemudian, sang ide dan semangat itu tergopoh-gopoh jatuh bertubi-tubi ke otak dan pembuluh darahku nyaris 23 jam terakhir sebelum deadline kesempatan terakhirku mendaftar. Terakhir seterakhir-terakhirnya karena setelah lulus aku tak boleh ikutan.

Aaaaa…. Belum pernah aku sengaja berangkat ke kampus malam-malam. (pulang malam sih pernah). Nyampe kampus hampir jam dua belas malam! Lantas berjalan tergesa setengah berlari, menatap lekat-lekat jam gerbang ganesha supaya melambat sedikit, hinga akhirnya aku mengumpulkan hardcopy proposal itu ke CC Barat jam 23.45 tepat lima belas menit sebelum deadline. Disertai nafas ngos-ngosan. Panitia sengaja begadang nungguin para deadliners, dan rasa kantuk mereka lenyap terganti semangat menyambutku muncul dari kegelapan lapangan basket. Terharu melihat wajah mengantuk mereka yang direkayasa menjadi secerah dan seramah mungkin demi detik-detik harapan peserta deadliners.

Serius. Huh haaah. alhamdulillaaah. Hosh.. Hosh.. masih megap-megap. Rasanya pengen teriak, tapi udah malem takut dikira kemalingan atau apalah. Sungguh bekerja dengan deadline dan adrenalin itu kadang serunya bukan main. Detik-detik berasa jam pasir kematian, menit menit berasa jalan setapak yang terpenggal. Benar-benar deadline. Fiuuhhh.. tapi lega. Ga peduli lolos atau nggak, setidaknya aku dan kawan-kawan tim ‘FLA ‘ ini telah menyumbang ide  bisnis sekaligus ide sederhana untuk (secara tidak langsung sih) memperbaiki masyarakat Indonesia, lewat ide yang terseret-seret deadline, mumpung masih mahasiswa.

***********************************************************************************************

Beberapa hal yang setidak-tidaknya harus kulakukan sebelum lulus dari kampus gajah akhirnya satu-persatu terpenuhi, salah satunya adalah nonton ludruk kampus, dan yang kedua, kali ini ia pun telah terpenuhi : ikutan IEC. hehe. Dan  hal-hal selanjutnya telah menanti untuk diwujudkan, tunggu saja.

Sok Tahu 9011

Minggu pertama semester baru. Bangun pagi dan bersemangat kuliah. Udah pake baju cantik dan pasang wajah berseri-seri, siap menuju kuliah Teknologi Kosmetik, (kuliah yang paling diminati wanita cantik di ITB)  jam 07.00 WIB di 9011. Dan hal konyol pun terjadi.

06.59. berada di parkiran belakang, siap menuju TKP 9011, yakin banget kalau ruangannya deket 9012

07.03. melongo, deket 9012 cuma ada 9013 dan 9014, 9011 DIMANAAAA??? *mulai panik

07.06. udah nyampe TVST, ngintip nomor-nomor ruangan :GA ADA 9011, adanya 9020an.. OH NOOOOO… makin bingung, udah keringetan, panik tingkat tinggi

07.08. Ngintip ke Oktagon, apalagi! Yang ada 9025 dan seterusnya. Kadar kepanikan tak terkendali!!

Bunyi pemotong rumput menderu-deru, petugas kebersihan bersih-bersi, mahasiswa-mahasiswa yang lari-lari telat udah berkurang, udah pada masuk ruangan, ada yang malah di antara TVST dan Oktagon lagi buka buku dengan terburu-buru, kayaknya dia lupa ruang kuliahnya di mana. . *ternyata orang kaya gini di ITB ga cuma aku, hehe

07.15. Pasrah.. lemes.. tepat pada batas akhir waktu toleransi keterlambatan. rasa panik berganti lesu, yang tadinya masih lari-lari semangat nyari, sekarang udah loyo

07.16. temen-temen pada ngebales SMS,  dan jawabannya Continue reading

Kisah Dua Huruf: FI

Kalau kau adalah mahasiswa farmasi di universitas manapun di Indonesia, pastilah kau akan bosan dan jenuh dengan dua huruf itu, dua huruf yang selalu didengung-dengungkan para dosen farmasi, dua huruf yang selalu terletak anggun di lab, dua huruf yang selalu mengakhiri kutipan laporan praktikum farmasetika.

FI, dua huruf yang kadang membuatmu jengkel akannya karena isinya monoton. Dua huruf yang membuat kosan penuh karena volumenya yang besar. Dua huruf yang suatu ketika kau bermimpi buruk dikejar maling, dua huruf itu adalah benda pertama yang kau raih untuk menimpuk si maling itu. “Buugh..” begitu kira-kira bunyinya.

Dua huruf yang awalnya kau tak pernah duga bahwa ia akan menjadi bagian yang paling penting dari inti kuliah. Dua huruf yang terlihat usang jadul tak terabaikan dan beratnya membuat tas cantik tiba-tiba reyot. Dua huruf yang berisi huruf-huruf kecil yang membosankan dan bahasanya sangat tak beralur novel.

Dua huruf yang ternyata penting. Dua huruf yang ternyata untuk menyusun huruf-huruf itu dibutuhkan peluh keringat para peneliti dunia, milyaran pelarut organik, jutaan bakteri, tak hingga jumlahnya atom karbon-hidrogen-nitrogen-semua atom. Dua huruf yang dosen-dosenmulah yang menerjemahkan peradaban pengobatan dari cina hingga amerika tersatukan kedalam dua huruf itu. Dua huruf yang papan tulis di kelas bersaksi bahwa menghafalnya adalah tak penting, tapi tak memahaminya adalah kegagalan tak tertanggung. Dua huruf yang menjadi penguasa seluruh perusahaan farmasi Indonesia. Dua huruf yang, ah.. sudahlah, kau pasti tau kitab suci itu: Farmakope Indonesia. Rasanya Bandung gempa, aku sampai menahan nafas mengetikkan dua huruf itu.

Karena baru kusadari, akulah sang dua huruf itu. Lihatlah kawan, benar-benar dua huruf: FI. Sekali lagi ia adalah F dan I. Fakhria Itmainati. Aku lupa siapa yang terlahir duluan, dua huruf itu atau aku, tapi kujamin bahwa Continue reading

Efek Ujian Farmakologi terhadap Mahasiswi Farmasi

Sumpah, ini adalah kejadian yang sangat bersejarah dalam sejarah kemahasiswifarmasianku. Haha. Ya masak? Wong mau ujian farmakologi obat infeksi eh malah kena infeksi! Ugh.. it doesn’t mean “learning by DOING” thing, but it is H-U-R-T! I got it on my eyes, you know, my pretty eyes (halah). But by this infection I realize something I didn’t before.

“Jumatku dulu, tak begini..” begitulah nyanyian teman sekelompokku, sebut saja Bunga, bernyanyi ketika praktikum mulai menjenuhkan. Makan di bengkok pun menjadi pelampiasan, enak nggak enak, yang penting berjeda dulu dari paparan pelarut organic, fiuuhh apalagi kalau bukan fitokim, mana besok ujian farmakologi pula -_-“. Sedang enak-enaknya makan gado-gado, eh bertemu dengan teman yang lain, sebut saja Melati, “Ha? Hari gini masih praktikum? males banget, Hahah, untung gw bukan anak farmasi” dan lihatlah kawan, dia tertawa dengan sangat puas. Ow My GOD.. sungguh jahatnya, serius kalo aku lagi PMS, ni gado-gado bisa melayang (ke saluran pencernaan maksudnya).

Pulang ke rumah dijemput anak minyak yang ganteng, “ribet banget sih praktikumnya anak farmasi, untung gw anak minyak”. Ugh! Kali ini ga ada gado-gado yang bisa melayang (emang udah nyampe usus halus sih), masalahnya sebel-sebel gini aku masih tetep suka sama dia.

Entah kenapa hari itu seolah-olah semua orang bilang beruntung banget bahwa ia BUKAN anak farmasi, dan nampaknya segala sesuatu yang berhubungan dengan FARMASI adalah sesuatu yang MENGENASKAN. Termasuk hari itu, sehari menjelang ujian “ANTI-INFEKSI”, gadis farmasi semanis aku malah terkena INFEKSI. Sungguh mengenaskan bukan?

Tapi ternyata benar, ada saja skenario Allah untuk menuntunku mengeja kalimat syukur padaNYA. Tau nggak? Seketika aku sadar bahwa aku anak farmasi, maka ide yang iseng segera terpikir olehku, obat infeksi! Oh YES!!

Karena aku anak farmasi, aku merasa Continue reading