Tissue Engineering : Rekayasa Pembuatan Monster

Bagaimana seandainya manusia benar-benar bisa membuat monster ? merekayasa makhluk hidup secara genetik maupun kimia dan membuatnya hidup adalah sebuah wacana yang mungkin sesat secara etika, namun di sisi lain—pada kondisi tertentu, kebutuhan manusia untuk disembuhkan oleh ‘monster-monster’ itu tidak dapat dielakkan juga. Dan sesungguhnya kuliah bioteknologi kemarin kamis itu serasa mengajariku membuat monster, hehe. Jadinya yang terbayang di kepalaku justru monster jahat dan ultraman!, yang sedang bertarung di tengah kota.

Sebenarnya ini hanya sebuah metode-ku sendiri ketika mulai mengantuk berat pada mata kuliah tertentu, yaitu mengekstrapolasi sebuah topik kuliah menjadi sesuatu yang scientifically lebay’ sengaja untuk mempertahankan keterjagaanku pada kuliah itu karena malam hari sebelumnya aku hanya tidur 2,5 jam. Itulah sebabnya aku menggunakan istilah ‘monster’ untuk mendefinisikan sebuah jaringan tubuh yang direkayasa secara sintetik, enzimatik, dan genetik. Nah, menurutku tissue enginering adalah sebuah studi yang memproduksi monster-monster itu.

Kata dosenku, tissue enginering (rekayasa jaringan) adalah ilmu yang baru sekitar 16 tahun ini berkembang, asalnya dari MIT (Massacussets Institute of Technology)—sering diplesetkan oleh “teman-teman Jawa” saya sebagai Mbandung Institute of Technology. Nah, konon katanya di sana terdapat sebuah pasangan suami istri yang jenius, sang suami berasal dari disiplin ilmu tentang material science dan chemical engineering, sementara istrinya adalah seorang dokter ahli bedah. Maka pernikahan tidak hanya mempersatukan kedua hatinya (cie..), namun juga ilmu antara keduanya, lahirlah sebuah ide untuk mengembangkan suatu alternatif terapi untuk menginduksi perbaikan organ secara alami, menggantikan fungsi organ yang rusak, terluka, atau hilang, dengan mengaplikasikan prinsip rekayasa sel hidup, biomaterial, dan molekul bioaktif.

Penggunaan alternatif terapi ini adalah Continue reading

Advertisements