Takdir yang Menguatkan

the strength Di ruangan luas dan senyap itu, aku mencoba memfokuskan diri pada formula-formula dengan gelling agent yang tertera dan mengaduk mortar sesuka hatiku demi terbentuknya gumpalan gel bening, namun gagal. Siang-siang. Dan jumat itu, di Jepang sana masih seperti biasa hingga beberapa detik kemudian. Kembali ke ruangan itu, putus asa dengan mortar dan stemper tenaga manusia akhirnya aku menggunakan benda lumayan canggih untuk membuat gel : stirrer. Berkekuatan 500 rpm, dengan baling-baling gagahnya melumatkan setiap gelembung udara yang tersisa, meluluhlantakkan massa lemah yang mengikut kemana arah putaran terjadi. Dan saat itu juga, kudengar kabar bahwa Jepang timur laut tertimpa gempa berkekuatan 9 skala richter dan terpaan tsunami maha dahsyat meluluhlantakkan segala-segala yang ada di belahan bumi Tohoku. Ditambah krisis nuklir yang menghamburkan radioaktif, yang secara ilmiah memang mengerikan.

Gel herbal yang kubuat itu akhirnya menuai hasil, yah setidaknya juara tiga. Biasa-biasa saja, hanya gel dari bahan herbal untuk pengobatan luka bakar, atas derita para korban ledakan gunung merapi hingga ledakan kompor elpiji. Luka bakar tetap saja bencana, maka produk ini menjadi satu ide saja, ide yang lahir dari bencana alam. Pun dari suatu bencana, di sela-sela kepedihan yang menusuk tulang, manusia pastilah belajar sesuatu. Continue reading

Pagi yang Teduh di Narita

Tokyo, 9 Agustus2010, 8.59 am

Tebak aku lagi dimana? Narita Airport!!! Whoa! Sejam lagi aku terbang meninggalkan Jepang.. T_T” .berjuta rasanya, sungguh. Sedih. Senang. Campur aduk. Sedihnya karena mulai hari ini aku tak lagi bisa maen2 dan bersenang-senang di salahsatu the most awesome part on earth called Japan. Senangnya adalah, sebentar lagi bulan Ramadhan dan kalo aku pulang ke Indonesia, (well, especially Bandung) ga akan berpanas2 puasa di puuaanassnya musim panas Jepang yang menguapkan seluruh keringat.

Ini adalah postingan paling spektakuler nampaknya, di Narita gitu looh,, biasanya aku kan ngetik postingan di rumah, di atas meja, lha ini? Di Narita Tokyo! Haha depanku jendela berpemandangan pesawat2 berlalulalang, nampak Oke dan gaya betul postingan ini!

Anyway! Barusan aku deg2an parah!

Tahukah kau kawan..? kemaren, tepat sehari sebelum aku terbang, alien card ku ilaaaang! Dan sekarang aku kena batunya. Jadi kawan, kalo kamu pergi ke jepang dan dapet semacam KTP gitulah, jangan pernah dihilangin.Kalo dihilangin ntar bisa diceramahin kayak aku barusan, hehehe.

Alhamdulillah selamet, cuma disuruh menandatangani surat keterangan ngilangin kartu itu. Nah aku tulis reason-nya apa coba?

“I lost it in a way between school and home”, hehe, kayaknya sih petugasnya percaya2 aja, melihat gadis bermuka polos dan berkerudung pink, pake tas ransel pink bunga2, trus tas slempang hello kitty gede (karena saking gedenya, banyak orang yang nengok ke aku dan bilang kawaii.. *tasnya), dan tas jinjing berisi boneka kucing yang kepalanya nongol dari dalam tas, :D diam2 aku bersyukur bawa boneka banyak itu kadang menguntungkan.

Jadinya Continue reading

Tipe Kasihan Nomer 2 : Eskrim

Hari ini di elevator Lab. Menurun dari lantai 12 ke lantai 1. Musim panas, Tokyo 34 derajat selsius. dengan kelembapan 80%. Panasnya pengap!

Episode 1:

“Hari ini panas banget ya, Lepaskan saja jilbabnya biar rada dingin, biar kena angin dan segar”. Seorang kawan terlihat sungguh-sungguh memberi saran.

“?????” *nyengir.. bingung. muter otak lama. gimana ngejawabnya pake bahasa jepang woi??!!!??!!! Ng… ng..eh… *nyengir lagi..

“Kan kasihan kamu kepanasan, pas di Jepang dilepas aja, ntar kalo balik ke Indonesia dipake lagi, kan di Indonesia ga ada musim panas. Aku ngelihat jilbab kamu aja kayaknya panas banget, ga kebayang deh rasanya. Pake kaos tanpa lengan aja, asik”

“??!!???!! *nyengir lagi… “あ、そうですか” *duh, bego, malah kata ‘oh gitu..’ yang keluar, habis ga ada kosa kata lain.

“duluan ya..”

fiuhh.. bernapas lega, dia keluar ke lantai 6.

Jadi, yang barusan tadi adalah tipe kasihan nomer Continue reading

Si Fafa Pergi Mengaji

Adalah tak ada gunanya mengeluh tentang cuaca, Kawan. Tahukah kamu, kemarin siang, di tengah-tengah kabupaten Suzukakedai yang terik, lepas mengurus sel-sel punca di laboratorium, aku hendak melaju ke rumah seorang kawan, mengaji.

Nah, berjalan setengah berlari di tengah tiga puluh dua derajat selsius! Ditambah dengan humiditas yang tinggi,beginilah yang dinamakan musim panas—kata orang, bagi seorang gadis lugu berjilbab sepertiku ini bukan main panasnya. Aku mengikuti arah yang ditunjukkan google map menuju tempat mengaji, ya, jaman sekarang semua tempat bisa ketahuan dengan google map, kecuali Ngawi (mungkin), desa tempatku dilahirkan.

Tiba di spot terakhir yang ditunjuk google map, masih terbakar tiga puluh dua derajat selsius, keringat di baju bagai air merembes ke seluruh baju cucian, aku menelfon beberapa teman mengaji yang kuduga datang,tak diangkat! Berkali-kali hingga basah sudah bajuku oleh keringat, tak diangkat juga! Akhirnya aku Continue reading

The Japanese Tea Ceremony: Cara Minum Teh Sehat yang Unik

Kalo ada lomba minum teh dengan cara paling Lebay unik sedunia, maka aku yakin pasti orang Jepang akan menjadi juaranya. Karena, untuk minum teh ijo ala Jepang ini, kita harus menjalani prosedur-prosedur yang ga penting unik sekali. Dari serangkaian ceremony yeng unik itu, ada beberapa yang lebay banget menurutku, yaitu:

Pertama, perhatikan mbak-mbak berkimono oranye ini, dia berjalan lurus, lambat, tiap langkah berhenti dua detik, tanpa ekspresi seperti pemimpin upacara bendera hari senin namun tetap anggun menuju panci teh dan tebak apa yang dilakukannya? Aku kira dia akan menunjukkan gaya yang spektakuler dengan benda yang dibawanya ke panci teh tersebut, namun yang terjadi adalah, mbak-mbak kimono oranye itu mengelap panci dengan 1 lembar “bulu ayam” yang dibawanya! Duuh… tweww.. rasanya ada garis-garis di kepalaku seperti dalam komik. Bahkan mengelapnya pun cuma beberapa kali, lalu kembali ke ruang belakang dengan gaya berjalan lurus dan sangat pelan. Ingin rasanya tertawa tapi sayangnya tidak diizinkan tertawa dan banyak bicara di sini! Untuk menghormati teh. Hhhfff.. jadi apapun yang terjadi, harus tetap bermuka cool. Keunikan nomer satu.

Kedua, perhatikan desain cangkir teh yang digunakan. Tea Master memberikan cangkir (yang sebenarnya mangkok) tidak sembarangan, namun sesuai “kepribadian” pada tamu, biasanya para lelaki diberi cangkir yang simple, dan para wanita diberi cangkir bunga. Aku tidak tahu bagaimana cara Tea Master menebak kesesuaian tamu dengan cangkir-nya, yang jelas cangkirku cantik sekali! Gambar bunga-bunga, Hihi..  Kasian Song, teman sampingku, anak Taiwan, cangkirnya benar-benar plain! Hehe, dia “protes” ke Tea Master, dan ternyata tea Master bilang, motifnya hanya bisa dilihat jarak dekat, (5 cm dari mata). Tapi sejujurnya aku tak melihat motifnya sama sekali, sungguh. Keunikan nomer dua. Continue reading

Ditawari Balik ke Jepang untuk S2

Tahun lalu (beberapa bulan lalu sih) sebelum berangkat ke Jepang sebagai mahasiswa YSEP, temanku bernama Akhmad Syaiful Hidayat memberikan link blog senpai YSEP bernama Achmad Syaiful Makmur (nama depan yang sama bukan suatu kesengajaan,hehe) tentang suatu cerita bahwa harapan seorang professor YSEP salah satunya adalah agar mahasiswa YSEP nya kembali ke lab-nya untuk menjadi mahasiswa S2 atau S3. Dan beberapa hari yang lalu, kalimat itu terwujud!

Tahun baru ini, lab kami direnovasi, dan entah keberuntungan atau bencana, hehe, meja kerja profesorku (sensee) dipindah jadi dekat sekali denganku, kalau sensee lagi ada kursinya dan aku duduk di kursiku jarak kami mungkin kurang dari 1 meter!. Hehe. Namun Alhamdulillah sensee ku bukan tipe sensee yang dingin, jutek, apalagi galak dan bermuka seram, bahkan sensee orangnya baik banget. Sensee kami masih muda, setidaknya rambutnya belum putih semua, mengajak maen Es Seketing,  senang bercanda sekaligus menanyakan progress research sambil makan siang bersama dengan anggota lab.

Sensee sangat suka sekali mengajak mengobrol, terutama tentang makanan, dan makanan yang diceritakannya sering aneh-aneh. Makanan terakhir yang dibicarakannya adalah tentang makan belalang! Sensee bilang itu sangat enak, sambil ketawa-ketawa dan bilang Continue reading

Artikel fafa di eramuslim : Bersyukur Menjadi Muslimah

Artikel saya di eramuslim.com hari ini. klik di sini

Setelah hampir tiga bulan menjalani hidup di Jepang, semakin lama aku semakin bersyukur atas nikmat Allah yang menjadikanku seorang Muslimah. Aku, yang sangat belum bisa lancar berbahasa Jepang, sangat bersyukur ketika beberapa kali aku berbelanja atau membeli makanan, tiba-tiba ada orang Jepang yang mengingatkanku kalau-kalau yang aku beli mengandung daging babi, mereka mengkhawatirkan apa yang aku beli, karena mereka tahu melalui jilbab yang kukenakan bahwa aku seorang muslimah.

Kemarin malam aku dan rekan-rekan berjalan-jalan menikmati Illumination di Shinjuku, Tokyo. Continue reading