Tipe Kasihan Nomer 2 : Eskrim

Hari ini di elevator Lab. Menurun dari lantai 12 ke lantai 1. Musim panas, Tokyo 34 derajat selsius. dengan kelembapan 80%. Panasnya pengap!

Episode 1:

“Hari ini panas banget ya, Lepaskan saja jilbabnya biar rada dingin, biar kena angin dan segar”. Seorang kawan terlihat sungguh-sungguh memberi saran.

“?????” *nyengir.. bingung. muter otak lama. gimana ngejawabnya pake bahasa jepang woi??!!!??!!! Ng… ng..eh… *nyengir lagi..

“Kan kasihan kamu kepanasan, pas di Jepang dilepas aja, ntar kalo balik ke Indonesia dipake lagi, kan di Indonesia ga ada musim panas. Aku ngelihat jilbab kamu aja kayaknya panas banget, ga kebayang deh rasanya. Pake kaos tanpa lengan aja, asik”

“??!!???!! *nyengir lagi… “あ、そうですか” *duh, bego, malah kata ‘oh gitu..’ yang keluar, habis ga ada kosa kata lain.

“duluan ya..”

fiuhh.. bernapas lega, dia keluar ke lantai 6.

Jadi, yang barusan tadi adalah tipe kasihan nomer Continue reading

Si Fafa Pergi Mengaji

Adalah tak ada gunanya mengeluh tentang cuaca, Kawan. Tahukah kamu, kemarin siang, di tengah-tengah kabupaten Suzukakedai yang terik, lepas mengurus sel-sel punca di laboratorium, aku hendak melaju ke rumah seorang kawan, mengaji.

Nah, berjalan setengah berlari di tengah tiga puluh dua derajat selsius! Ditambah dengan humiditas yang tinggi,beginilah yang dinamakan musim panas—kata orang, bagi seorang gadis lugu berjilbab sepertiku ini bukan main panasnya. Aku mengikuti arah yang ditunjukkan google map menuju tempat mengaji, ya, jaman sekarang semua tempat bisa ketahuan dengan google map, kecuali Ngawi (mungkin), desa tempatku dilahirkan.

Tiba di spot terakhir yang ditunjuk google map, masih terbakar tiga puluh dua derajat selsius, keringat di baju bagai air merembes ke seluruh baju cucian, aku menelfon beberapa teman mengaji yang kuduga datang,tak diangkat! Berkali-kali hingga basah sudah bajuku oleh keringat, tak diangkat juga! Akhirnya aku Continue reading

Jilbabku Sayang

Menjadi muslimah berjilbab di Jepang ternyata sangat menyenangkan! Hehehehe.. Aku telah merasakannya, ada beberapa kasus yang membuatku terharu, tertawa, dan bersyukur melihat reaksi para orang-orang Jepang itu atas keberadaan jilbab kesayanganku ini.

muslimah kartunAlkisah si sebuah supermarket Everyday Low Price OK Store di Nagatsuta, aku membeli 2 bungkus Mie Ramen Instan (hhmm..tak ada Indomie disini), M Ramen Instan yang kubeli adalah yang halal version menurut seorang teman yang bisa membaca komposisi Mi Instan tersebut. Nah saat itu aku tengah asik berbelanja, tiba-tiba serang ibu tergopoh-gopoh dengan muka penuh kekhawatiran (bayangkan reaksi lebay orang Jepang kaya di dorama,hehe) menghampiriku dan menunjuk mi ramenku lantas bilang “Butaniku desu… eee…eyqftvgwibxhuwnh dxcvvbneyobnlieonlp” (kata yang berhasil kutangkap hanya “butaniku” artinya babi, sementara beliau terus bergumam dengan bahasa Jepang tingkat tinggi yang tak kumengerti). Dari bahasa tubuhnya aku menerjemahkan bahwa dia sangat khawatir kalau aku makan sesuatu yang mengandung babi, lantas dia mengambil mi ramen instan itu dan mengecek komposisinya..dan bergumam-gumam lagi (dengan bahasa Jepang tingkat tinggi yang tak kumengerti)..lantas dari bahasa tubuhnya aku menerjemahkan nampaknya dia bilang “perasaan ada babinya deh..” tapi akhirnya dia mengangguk-angguk dan bilang “Ah, daijobu desu.. gomennosai..” sambil nyengir dan beranjak pergi. Aku sangat terharu dan gak bisa berkata apa-apa lagi kecuali arigatou gozaimasu..arigatou gozaimasu.. ibu muda itu tersenyum dan mengangguk. Dia hanya menghampiriku dan memastikan bahwa aku memakan makanan yang tak mengandung babi, bersyukur tak terkira aku saat itu, jilbab ini menyelamatkanku.

Kisah kedua, Di kantin Kampus Tokyo Tech Suzukakedai. Ketika Continue reading