Take a Break

ImageA

Emergency Hijab Style dalam rangka ngejar kereta :D

ImageYoung and Success  Continue reading

Advertisements

Guncangan dalam Rumah Tangga

Ternyata bener kata bulik saya yang dulu pernah mewanti-wanti tepat ketika rumah tanggaku bagai bahtera yang berlayar di lautan Hawai yang sepoi-sepoi dikelilingi burung camar terbang rendah serta lumba-lumba, indah sekali. Lantas seperti gelegar petir membahana di cakrawala Bulik bilang,

“Nanti mbak Ria, hati-hati ya kalo udah 2 tahun nikah, bener pokoknya hati-hati. Kalo ada masalah harus diselesaikan baik-baik, udah terbukti di Bulik, Mbak-nya Bulik juga, pasti akan ada masalah yang sangat menyita energi. Banyak rumah tangga yang hancur gara-gara masalah di usia 2 tahun pertama pernikahan!” Daaaannn ternyata terjadi di rumah tangga sayaaaa sodara-sodaraaa… -___-”

Emang sih bener ternyata berumah tangga tu ga cuma butuh romantis-romantisan, ga cuma butuh cinta-cintaan, apalagi gombal-gombalan? ah nomor sekian lah itu.  Yang sebenarnya dibutuhkan saat situasi kritis itu adalah.. L.E.G.O.W.O. Bahasa arabnya lebih mirip2 dengan Ikhlas. Sorry I don’t have any suitable word in Bahasa Indonesia.

Ah, tentu saja saya ga akan cerita masalahnya apa di sini. Se-ember-embernya saya ngeblog, mengumbar aib rumah tangga itu no way, It’s a big No No buat Istri Sholehah. Yang jelas, waktu itu aku sampe bilang ” Yaudah Say, cari istri yang lain aja!!” gitu kan.
Suamiku bilang “Oke! kamu juga cari suami yang lain aja”. Waduh.. Habis lah aku. Naudzubillah jangan sampee. Berpikir dan berpikir. Menyesal meceplosan. Diam-diam berdoa. Diam dan terdiam. Merenung dan merenung. Jam demi jam berlalu dalam diam.  Ujung-ujungnya aku bilang,
” Say.. susah kali nyari suami yang baik (kayak kamu *dalam hati), maaf ya..”
“Yeee..” Dia hanya menahan tawa sembari menimpuk mukaku dengan gumpalan tissu (kalo dia ngambek dia akan membersihkan rumah sampai ke ujung-ujungnya, that’s why dia bawa-bawa tissu). Eh tapi ya, tawa yang tertahan saat status Ngambek Siaga Satu itu adalah senyuman paling melegakan sedunia. Dududududu..

Wahai para istri, nyari suami yang baik tu susah sekali, makanya harus dijaga baik-baik. Harus Legowo. Dan ingat, sehebat apapun pertengkaran yang terjadi, jadilah yang pertama kali L.E.G.O.W.O meminta maaf. That’s it.

Ngawi, Kampung Halamanku

Selalu ada ketentraman di Ngawi, mungkin karena ada keluargaku dan teman-teman lamaku di sini. Pulang ke Ngawi selalu saja menjadi kebahagiaan tersendiri. Atmosfer pedesaan yang khas, tak ada polusi, tak ada macet, ketika aku keluar rumah, di halaman depan rumah terlihat ladang dan sawah menghijau, di ujung sana berdiri kokoh Gunung Lawu yang kadang bukit-bukitnya diselimuti awan putih. Setiap pagi ayam-ayam berkokok, berteriak-teriak, menyebalkan juga karena berisik, tapi ya sudahlah toh mereka juga menikmati hidupnya.

kampung halaman

Aku memang harus pulang, melupakan nilai ujian farkin (Pharmacokinetics) yang sungguh mengenaskan (huhf..), melepaskan kerinduan dengan ayah, ibuk, dan adikku. Tapi sesungguhnya aku pulang karena aku juga harus membuat sebuah surat yang penting, pasport. Email dari Jepang kemarin memintaku mengirim fotokopi paspor untuk pembuatan visa rencana pertukaran pelajar di Jepang. Jangan fotokopinya, paspornya saja aku tidak punya, jadi aku harus melengkapi segala persyaratan untuk itu di Ngawi, kampung halamanku.

Menjalani kehidupan di Ngawi adalah merangkai hari-hari yang sederhana. Para orangtua mencari Continue reading

Seorang Kakek dan Vitis vinifera di Selasar Farmasi

Saat itu aku, Marillyn, dan Witi sedang di selasar farmasi. Tiba-tiba seorang kakek-kakek menghampiri kami dan berkata “Neng, saya boleh minta bantuan nggak?” . Sedikit suudzon nih, jangan-jangan minta sumbangan atau mau jualan (Ssh..ga sopan fah!), namun aku meng-iyakan dengan sopan—pura-pura baik hati. Kemudian kakek itu bercerita “Saya tadi pagi setelah bangun tidur langsung bingung.. harus pergi kemana.. Lama saya berpikir..akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke ITB saja. Kira-kira neng tau nggak buah apa yang huruf awalnya V?”

Krik.. krik..

Aku, Marillyn, dan Witi saling berpandangan. Terheran-heran, berpikir, dan merasa aneh. Alis kami pun bertaut misterius. “Waduh.. apa ya pak..” kami masih bingung, memangnya ada ya nama buah dengan huruf awal V?, lalu aku bertanya “Mm..Memangnya ini dalam rangka apa ya pak?”

“Ini neng.. PR Cucu saya, disuruh ibu gurunya mencari nama buah-buahan dengan awalan semua huruf, nah.. sudah tiga hari saya cari-cari.. semuanya sudah ketemu, tinggal 8 huruf, yang 7 sudah saya tanyakan ke anak-anak di sana (menunjuk ke selasar elektro) tinggal satu ini neng.. nama buah apa yang huruf awalnya V..”

Ohh…Krik..krik..

Nyengirlah kami bertiga.. saling berpandangan lagi.. terharu sekaligus terheran-heran.. jadi ini perbuatan cucunya..? “Oo.. memangnya rumah bapak dimana?”

“Saya dari Husein neng” (Gila! Pagi-pagi gini.. dari Husein.. lumayan jauh tuh..) “Saya sudah nggak tau lagi mau kemana.. ini PRnya besok dikumpulin ke ibu guru, cucu saya sudah ngambek, marah ke kakeknya karena kakek belum menemukan huruf-huruf itu.. Hhh.. udah ga tau gimana besok neng kalo saya nggak nemuin huruf-huruf ini, cucu saya pasti nangis marah-marah.. saya nggak sanggup neng.. mana ada kakek yang tega sama cucunya..”

Zing….Zing… Kali ini kami tidak saling berpandangan, hanya berlirik-lirikan saja. Hmm… mm… terharu, dan masih Speechless..

Tapi kemudian kami bercakap-cakap dengan beliau, cucunya ternyata kelas 3 SD, namanya Jessy (Aku inget soalnya namanya sama dengan nama dosen kita hehehe), diberi PR oleh ibu gurunya, lantas melapor ke kakeknya. Seorang kakek pasti akan senang sekali jika cucunya bertanya padanya, merasa dihargai, merasa dibutuhkan, merasa dicintai.. begitulah (kakeknya Chibi Maruko juga, sering lebay malah). Apapun akan dilakukan demi cucunya, untuk dapat menemukan jawaban itu. Naik angkot pagi-pagi dari Husein ke ITB pun dijalani, hanya untuk bertanya pada mahasiswa—sekelompok masyarakat yang dinilai memiliki intelektualitas tinggi, kepadanya harapan itu ditumpukan. So Sweet banget sumpah..

Maka tak hanya kakek itu yang akan merasa bersalah tiada tara ketika tak berhasil menemukan ‘buah berhuruf depan V’ itu, tapi kami sebagai mahasiswa—pemuda tumpuan bangsa yang ditanyai oleh sang kakek ini pun harus bisa menemukannya!! Apapun yang terjadi!

Pusing juga sih sebenarnya memutar otak dan berpikir..beberapa menit.. mengingat-ingat kuliah botani farmasi..nama-nama spesies botani..berharap ada nama ilmiah atau nama daerah tentang buah-buahan tertentu.. namun mana bias ingat spesies sebanyak itu.. tak ketemu juga, akhirnya kami meminta kakek itu untuk menunggu sebentar di selasar, dan kami bertiga kabur menuju perpustakaan. Mencarinya di buku Medical herb index, tanaman obat Indonesia, dan buku-buku farmasi terkait tumbuh-tumbuhan pokoknya (namanya juga perpustakaan farmasi, adanya juga buku seperti itu). Cepat.. waktu kita tidak banyak.. malu dong.. masa’ mahasiswa ga tau.. ITB lagi.. Duh gimana dong.. Mm.. apa ya…Duh.. harga diri sebagai mahasiswa nih.. apaan dong.. mana sih.. mm.. kakek ini ntar sedih kalo cucunya nangis.. duh.. cepat.. cepat.. buah berhuruf V dimana kamu.. segeralah muncul… Hmm…

vitis-vinifera-b-van-de-graaffYes!!! Ini dia! Akhirnya… Vitis vinifera, nama ilmiah untuk spesies anggur, buah dengan huruf awal V. Berhasil!

Hhff.. Alhamdulillah.. akhirnya kami berhasil menyelamatkan nasib kakek itu. Sang kakek pun (bahkan kami sampai lupa menanyakan namanya) berpamit untuk pulang setelah sebelumnya bercerita-cerita dan berterima kasih pada kami. Lantas Aku, Witi, dan Marillyn pun juga pergi ke aula barat, melihat expo biofever, masih terheran-heran, terharu sambil tak habis pikir.. ada ya kakek seperti itu.. Pasti cucunya sangat bahagia.Hehe, Subhanallah.

Anak-anak di Kampungku

Ngawi, adalah sebuah kota kecil, mungil, pelosok. Terletak di daerah hampir perbatasan antara Jawa Timur dengan Sragen (Jawa Tengah). Di sana ada sebuah desa, desa Gelung, tempat aku tinggal. Di sana tidak ada pelayanan internet semewah ini, komputer saja terbatas, sebagian penduduknya bekerja sebagai petani, mengurus sawah-sawah yang kadang tak bisa diharapkan.

Namun setidaknya ada secercah cahaya di sana, anak-anak yang sedang belajar. Itu adalah sekolahku dulu, sebuah madrasah ibtidaiyah (MI), sekolah Islami yang setingkat dengan SD. Secara fisik, sekolahku ini lebih baik daripada sekolah SD-SD lain di sekitarnya, namun secara birokrasi sekolahku ini kadang sering dicurangi, hanya karena ia berlabel Islami, begitu yang aku dengar. Apapun kecurangan itu, cahaya tetaplah cahaya, kegelapan sepekat apapun tak kan bisa menelannya.

Di sana ada seorang guru, yang juga menjadi guruku dulu, dan menjadi orang yang sangat menginspirasiku. Dari ketulusannya lah yang menginisiasiku untuk bercita-cita ingin menjadi seorang pengajar juga.

Beliau bercerita padaku tentang anak-anak didiknya.

Mereka adalah anak-anak yang polos, “ndeso”, melarat, ingusan, bajunya belepotan, sepatu-sepatunya kusam dan kebesaran, murid laki-laki nya kebanyakan berambut merah dan kusam karena sering bermain di sawah, tidak hanya bermain bahkan, namun juga menjadi pekerja-pekerja di sawah!. Ya, mereka dipekerjakan, dengan upah rata-rata mungkin hanya 10.000 per hari. Kalau dibawa ke kantin bengkok di kampusku, uang sejumlah itu akan ditukar dengan satu porsi nasi ayam kremes dan satu botol air mineral, habis sudah. Tapi setahuku, karena dia masih anak-anak, energinya lebih kecil dari energi orang dewasa, tentu saja upahnya kurang dari itu.

Anak-anak itu menjalani kehidupan dengan sangat sederhana. Kehidupan yang bebas dari cengkeraman kekhawatiran. BBM naik, upah orangtua mereka yang terlampau kecil, lauk pauk yang mereka makan di rumah, atau perang di timur tengah, konspirasi oknum kenegaraan yang jahat, atau masalah politik, mereka tak peduli, mereka benar-benar tak peduli!

Mereka tetap tertawa dan bermain. Mereka sangat suka bermain dan bernyanyi. Ibu guru itu bercerita padaku bahwa dia sering mengajarkan lagu-lagu nasyid ke mereka, apalagi ketika mengajar Sejarah Islam, beliau bercerita tentang kehidupan Nabi Muhammad, dan anak-anak itu pun duduk tenang dengan mata-mata polosnya menatap ibu guru mereka, penuh kesungguhan, mereka pun sering bertanya-tanya dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana, tentang surga, tentang nabi Sulaiman, bahkan tentang semut-semut Nabi sulaiman, apakah semut-semut itu menikah dan berkeluarga atau tidak?. Pertanyaan yang sangat anak-anak.

Mereka makan dalam kesederhanaan, mereka sangat jarang makan berlauk daging atau ikan. Pernah suatu ketika salah seorang anak berkata pada ibu guru itu, “Mpun bu, pokoke lawuh sambel bawang thok niku lho bu.., niku mpun ngentekne sego” (translate= sudah bu, pokoknya hanya dengan lauk sambal bawang saja, itu sudah membuat saya menghabiskan nasi dengan lahap ). Ironis, dengan iklan-iklan di televisi yang mereka lihat, iklan tentang produk multivitamin untuk anak-anak yang menambah nafsu makan, mungkin sesungguhnya mereka heran, makanan di kota kan enak-enak seperti di iklan, kok masih ada yang ga doyan makan. Saya pun pernah mendengar, seorang ayah yang membujuk anaknya agar jangan bandel “ojo nakal lho ya, ngko nek we nakal gak tak tumbasne’tinggal leebb’” (translate= jangan nakal ya, nanti kalau nakal tidak akan bapak belikan ‘tinggal leebb’, sebuah makanan, sosis ayam siap makan yang di iklan di tivi,pemain iklannya berkata “sosis siap makan, tinggal leeebb”). Toh kenyataannya, kata-kata itu hanya menjadi kalimat penghibur saja, si anak suka menangis dan merengek-rengek, kapan dibelikan ‘tinggal leebb’?. baru berminggu-minggu sesudah itu, baru ketika upah seorang ayah itu diberikan, dengan penuh kegirangan beliau pulang ke rumah dengan bangga karena akan membelikan ‘tinggal leebb’ untuk anaknya tercinta.

Ketika anak-anak itu bercanda, topik bercandaanya pun tidak seperti anak-anak kota, yang membicarakan game PS yang terbaru, atau wahana kolam renang yang belum mereka kunjungi. Namun topik bercandanya mereka juga sangat sederhana, tentang apa yang mereka lihat, tentang apa yang mereka rasakan, di sekitar mereka : sawah, sawah, dan sawah. Wahana bermain mereka adalah sawah, mencari jamur di tumpukan jerami yang membusuk, berburu belut, mencuri tebu (dan dikejar-kejar mandor, lalu mereka berlari penuh kemenangan ; dua batang tebu!). Sebagian mereka bermain, meneriaki angin agar menerbangkan layang-layang mereka, sebagian yang lain bekerja; ‘matun’(istilah untuk pekerjaan mencabuti rumput di sekitar padi) dan ‘nggepyok’ (istilah untuk pekerjaan memanen padi; memukul-mukulkan padi pada sebuah alat agar bulirnya terlepas), atau juga ‘ngasak’ (istilah untuk mengais bulir-bulir padi yang tercecer untuk dibawa pulang). Pekerjaan mereka pun disesuaikan dengan ukuran fisik mereka, anak-anak yang masih kelas 3,4,5 biasanya hanya ‘matun’, dan dalam hal ‘nggepyok’ atau ‘ngasak’, peran mereka hanya sebagai asisten orangtuanya atau asisten pekerja yang lain. Anak-anak yang sudah kelas 6, ada yang sudah bisa menjalankan mesin traktor, dan dengan penuh kebanggaaan dia bercerita pada teman-temannya di kelas,namun salah seorang temannya menyangkal ,dan melapor pada ibu guru kesayangannya “bu, Didi niku lho bu.. nek nraktor nabrak-nabrak galengan” (bu, si Didi itu kalo mentraktor, suka menabrak-nabrak pembatas). Hahahahaha, lantas mereka tertawa. Pada pelajaran seni rupa pun, apa yang digambarnya tidak jauh dari apa yang mereka lihat, si Didi selalu menggambar mesin Diesel untuk pengairan sawah.

Kemiskinan demi kemiskinan terasa begitu menyelimuti mereka, namun mereka lebih beruntung karena setidaknya mereka masih bisa bersekolah dengan segala keterbatasannya. Ibu guru pun tak kehabisan ide untuk ‘merawat’ mereka, menggalang dana ‘iuran sosial’ setiap hari senin di kelasnya, dan ketika sudah terkumpul, ibu guru itu menggunakan uang itu untuk membeli berlusin-lusin susu kemasan untuk semua muridnya. Mereka pun kegirangan, dan makin bersemangat menggalang dana untuk ‘iuran sosial’. Uang iuran sosial ini kata ibu guru akan dipakai untuk membeli obat cacing agar anak-anak itu tidak cacingan.

Ibu guru dan murid-murid yang polos itu sangat menghargai dan mencintai sekolah mereka. menikmati pendidikan dalam kesederhanaan. Indonesia.

Terima kasih bu Guru, atas cerita dan segala pelajaran hidup yang telah kau ajarkan. Setiap anak yang kau ajar pasti akan berjanji dalam hatinya bahwa dia akan menjadi anak yang baik, tidak mencontek lagi, tidak suka nonton tivi lagi, dan berjanji bahwa suatu saat dia akan memberikan suatu karya untuk negerinya,negeri yang telah mengajarkan bahwa Tuhan telah menghamparkan daratan ini bukan hanya untuk dipakai berlari-lari mengejar layang-layang saja, bahwa tanah Indonesia ini tidak hanya untuk dilubangi untuk berburu belut yang licin. Lebih dari itu, Tuhan menciptakan kami dan hamparan luas ini, untuk sebuah peradaban.