Whoaaa >_<

Jadi emakpreneur berasa makin rempooong tiap hari. Apalagi orang perfeksionis kayak aku, makin omset meningkat makin ketagihan, makin pengen ngembangin ini itu, makin pengen bikin ini itu, makin pengen nambah staf lagi, aaaah.. impianku tentang bisnis ini makin tak terbendung. Ampe dibela-belain beli Goodday Mochacino (ini minuman wajib jaman dulu menjelang UTS bagi tipe SKS kayak aku :p, jadi inget pas IP anjlok dan beasiswa terancam, ampe beli sekarung dan dapet gelas cantik -__-“)

Whoaaa! tapi pusing juga ngeliat kompetitor yang manuvernya wow. Dari konspirasi sampai kamuflase, ah sudahlah yang penting aku harus tetap jadi emakpreneur jujur. Emak jujur disayang Allah. aminnn..

Whoaa anakku bangun, haruss cabss! see ya

Advertisements

Berjuang Habis-habisan adalah Suatu Kehormatan

Hari ini aku belajar sesuatu. Bahwa berjuang habis-habisan untuk perubahan adalah suatu kehormatan. Pulang dari kampus naik angkot, lihatlah di sepanjang jalan dago, tak pernah kau akan mendapati jalan itu sepi dari dendangan lagu pengamen. Kali ini yang menyambangi angkot biru yang kutumpangi adalah pemain biola jalanan, yang dengan kaos agak kusut—berbau keringat campur bau jalan, mencoba memainkan apapun untuk perubahan hidupnya. Lihatlah semangatnya melantunkan lagu Victory-nya BOND layaknya ia berada di atas panggung—layaknya  ‘victory’ itu benar-benar kan menjadi miliknya kelak.

Berhentilah sejenak menyalahkan menteri ketenagakerjaan, atau menyangka mereka malas-malasan. Sarjana mencari pekerjaan saja susah, apalagi mereka. Maka dengan biola itulah habis-habisan ia memainkannya sepanjang hari. Tak peduli asap kenalpot motor yang meletup-letup, pun temperatur kota bandung yang memanas kian hari, atau jumlah koin receh yang dijatuhkan penumpang pada gelas aqua di penghujung konsernya. Tak peduli. Ia hanya melakukan apapun, untuk hari ini, agar bisa makan secara terhormat. titik.

***

Sampai rumah, aku menemukan film jadul dari teman. The Last Samurai. Dan ternyata, Kapten Nathan Algren ketika tak sengaja terperangkap dan hidup di tengah-tengah para samurai, terpesonalah ia akan totalitas dan loyalitasnya “They are intriguing people, from the moment they wake, They devote themselves to the perfection of whatever they pursue. I have never seen such discipline”.-The last Samurai.

Tentu, Higen, si samurai kecil, selalu ingat apa yang diajarkan ayahnya tentang sebuah ikhtiar, “My father told me, it is glorious to die in battle”, bahkan mati dalam Continue reading

Karena Melakukan Hal yang Kita Sukai itu Menyenangkan

Tokyo kala itu, tengah malam, kereta terakhir jurusan Shibuya. Di sampingku adalah abang-abang PhD yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan tempat tinggalku. Sama saja, kau tak akan bisa membedakan abang-abang Jepang itu apakah mereka sedang mengantuk atau sedang seratus persen terjaga, karena mata mereka tak seperti mataku, mata gadis jawa yang tampak sekali jika telah mencapai 5 watt. Menyipit-nyipit dan berkedip lambat. Ngantuk.

Kami habis dari Lab, ngapain coba? Latihan presentasi, aku presenternya dan mereka layaknya dosen penguji, bertanya pertanyaan-pertanyaan ga penting tapi susahnya amit-amit. Dan entah darimana mulainya, diskusi dengan mereka tiba-tiba bisa menjadi topik yang sangat menarik, hingga kalau saja tak ada kereta terakhir yang harus kami kejar untuk pulang, maka diskusi itu mungkin akan berlanjut hingga esok-esoknya. Serius, kalau ada lomba diskusi hari itu, pasti mereka juaranya (aku jurinya yang terkantuk-kantuk).

“Kau nampak lelah sekali Fa”, dia bilang.

Aku mengangguk dan pura-pura bangun dari kantuk yang menjalar ke seluruh neuron.

“Apakah kau pulang dari lab jam segini tiap hari?”, tanyaku Continue reading