Sok Tahu 9011

Minggu pertama semester baru. Bangun pagi dan bersemangat kuliah. Udah pake baju cantik dan pasang wajah berseri-seri, siap menuju kuliah Teknologi Kosmetik, (kuliah yang paling diminati wanita cantik di ITB)  jam 07.00 WIB di 9011. Dan hal konyol pun terjadi.

06.59. berada di parkiran belakang, siap menuju TKP 9011, yakin banget kalau ruangannya deket 9012

07.03. melongo, deket 9012 cuma ada 9013 dan 9014, 9011 DIMANAAAA??? *mulai panik

07.06. udah nyampe TVST, ngintip nomor-nomor ruangan :GA ADA 9011, adanya 9020an.. OH NOOOOO… makin bingung, udah keringetan, panik tingkat tinggi

07.08. Ngintip ke Oktagon, apalagi! Yang ada 9025 dan seterusnya. Kadar kepanikan tak terkendali!!

Bunyi pemotong rumput menderu-deru, petugas kebersihan bersih-bersi, mahasiswa-mahasiswa yang lari-lari telat udah berkurang, udah pada masuk ruangan, ada yang malah di antara TVST dan Oktagon lagi buka buku dengan terburu-buru, kayaknya dia lupa ruang kuliahnya di mana. . *ternyata orang kaya gini di ITB ga cuma aku, hehe

07.15. Pasrah.. lemes.. tepat pada batas akhir waktu toleransi keterlambatan. rasa panik berganti lesu, yang tadinya masih lari-lari semangat nyari, sekarang udah loyo

07.16. temen-temen pada ngebales SMS,  dan jawabannya Continue reading

Advertisements

Kisah Dua Huruf: FI

Kalau kau adalah mahasiswa farmasi di universitas manapun di Indonesia, pastilah kau akan bosan dan jenuh dengan dua huruf itu, dua huruf yang selalu didengung-dengungkan para dosen farmasi, dua huruf yang selalu terletak anggun di lab, dua huruf yang selalu mengakhiri kutipan laporan praktikum farmasetika.

FI, dua huruf yang kadang membuatmu jengkel akannya karena isinya monoton. Dua huruf yang membuat kosan penuh karena volumenya yang besar. Dua huruf yang suatu ketika kau bermimpi buruk dikejar maling, dua huruf itu adalah benda pertama yang kau raih untuk menimpuk si maling itu. “Buugh..” begitu kira-kira bunyinya.

Dua huruf yang awalnya kau tak pernah duga bahwa ia akan menjadi bagian yang paling penting dari inti kuliah. Dua huruf yang terlihat usang jadul tak terabaikan dan beratnya membuat tas cantik tiba-tiba reyot. Dua huruf yang berisi huruf-huruf kecil yang membosankan dan bahasanya sangat tak beralur novel.

Dua huruf yang ternyata penting. Dua huruf yang ternyata untuk menyusun huruf-huruf itu dibutuhkan peluh keringat para peneliti dunia, milyaran pelarut organik, jutaan bakteri, tak hingga jumlahnya atom karbon-hidrogen-nitrogen-semua atom. Dua huruf yang dosen-dosenmulah yang menerjemahkan peradaban pengobatan dari cina hingga amerika tersatukan kedalam dua huruf itu. Dua huruf yang papan tulis di kelas bersaksi bahwa menghafalnya adalah tak penting, tapi tak memahaminya adalah kegagalan tak tertanggung. Dua huruf yang menjadi penguasa seluruh perusahaan farmasi Indonesia. Dua huruf yang, ah.. sudahlah, kau pasti tau kitab suci itu: Farmakope Indonesia. Rasanya Bandung gempa, aku sampai menahan nafas mengetikkan dua huruf itu.

Karena baru kusadari, akulah sang dua huruf itu. Lihatlah kawan, benar-benar dua huruf: FI. Sekali lagi ia adalah F dan I. Fakhria Itmainati. Aku lupa siapa yang terlahir duluan, dua huruf itu atau aku, tapi kujamin bahwa Continue reading

Ditawari Balik ke Jepang untuk S2

Tahun lalu (beberapa bulan lalu sih) sebelum berangkat ke Jepang sebagai mahasiswa YSEP, temanku bernama Akhmad Syaiful Hidayat memberikan link blog senpai YSEP bernama Achmad Syaiful Makmur (nama depan yang sama bukan suatu kesengajaan,hehe) tentang suatu cerita bahwa harapan seorang professor YSEP salah satunya adalah agar mahasiswa YSEP nya kembali ke lab-nya untuk menjadi mahasiswa S2 atau S3. Dan beberapa hari yang lalu, kalimat itu terwujud!

Tahun baru ini, lab kami direnovasi, dan entah keberuntungan atau bencana, hehe, meja kerja profesorku (sensee) dipindah jadi dekat sekali denganku, kalau sensee lagi ada kursinya dan aku duduk di kursiku jarak kami mungkin kurang dari 1 meter!. Hehe. Namun Alhamdulillah sensee ku bukan tipe sensee yang dingin, jutek, apalagi galak dan bermuka seram, bahkan sensee orangnya baik banget. Sensee kami masih muda, setidaknya rambutnya belum putih semua, mengajak maen Es Seketing,  senang bercanda sekaligus menanyakan progress research sambil makan siang bersama dengan anggota lab.

Sensee sangat suka sekali mengajak mengobrol, terutama tentang makanan, dan makanan yang diceritakannya sering aneh-aneh. Makanan terakhir yang dibicarakannya adalah tentang makan belalang! Sensee bilang itu sangat enak, sambil ketawa-ketawa dan bilang Continue reading