Mata kena cabe? Tenaaaang…

Huaaahhh.. alhamdulillah mataku selamet!..

Pagi-pagi di hari minggu, lagi asik-asiknya nguleg sambel di dapur.. and the accident suddenly..”Creeeshh!!!!” Aaaaaaaaaaaaaaaaaa……….!!! kedua mataku kena! pedes dan panasnya setengah mati! Ya Allah.. ampe kepikiran kalo mataku ga bisa ngeliat lagi, naudzubillah. Langsung buka kran! encerkan konsentrasi capsaicin di mata! basuh mata dengan air kran sebanyak-banyaknya, aku berusaha membasuh mataku sampe gelagepan sendiri di wash-bak dapur, hingga seseorang mengambilkan handuk kecil dan mendekapku erat (houhoho..). Alhasil, pedih dan pedasnya berkurang, dan aku bisa melek dengan segar setelah beberapa menit. dan berpuluh-puluh menit kemudian, aku bisa ngepost tulisan inih.

itu adalah metode pertama kawan, jadi intinya ada 2 cara mengatasi mata yang terkena cabe:

1. Metode Pengenceran

Basuh mata dengan air sebanyak-banyaknya, lebih bagus air kran yang dingin, atau air dingin lebih nyaman, tapi pastikan airnya bersih!. Kandungan pedas atau yang namanya capsaicin dari cabe dapat mengiritasi permukaan sel yang menyebabkan panas dan periiih banget. Makanya, capsaicin di mata harus diilangin secepatnya dengan air sebanyak-banyaknya. Ini sangat cocok untuk keadaan darurat, karena air tersedia di mana-mana, terutama di dapur alias tempat nguleg cabe.

2. Metode reaksi emulsifikasi

Basuh mata yang kena cabe dengan susu murni segar, atau yang susu dingin yang ada di kulkas, (dan bukan susu basi atau yang sudah terbuka!). Capsaicin merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang bersifat nonpolar. Susu adalah emulsi cair yang punya kandungan polar dan nonpolar sekaligus emulsifier. Susu ini dapat mengikat capsaicin kemudian menyeretnya keluar dari mata anda. Continue reading

Advertisements

Efek Ujian Farmakologi terhadap Mahasiswi Farmasi

Sumpah, ini adalah kejadian yang sangat bersejarah dalam sejarah kemahasiswifarmasianku. Haha. Ya masak? Wong mau ujian farmakologi obat infeksi eh malah kena infeksi! Ugh.. it doesn’t mean “learning by DOING” thing, but it is H-U-R-T! I got it on my eyes, you know, my pretty eyes (halah). But by this infection I realize something I didn’t before.

“Jumatku dulu, tak begini..” begitulah nyanyian teman sekelompokku, sebut saja Bunga, bernyanyi ketika praktikum mulai menjenuhkan. Makan di bengkok pun menjadi pelampiasan, enak nggak enak, yang penting berjeda dulu dari paparan pelarut organic, fiuuhh apalagi kalau bukan fitokim, mana besok ujian farmakologi pula -_-“. Sedang enak-enaknya makan gado-gado, eh bertemu dengan teman yang lain, sebut saja Melati, “Ha? Hari gini masih praktikum? males banget, Hahah, untung gw bukan anak farmasi” dan lihatlah kawan, dia tertawa dengan sangat puas. Ow My GOD.. sungguh jahatnya, serius kalo aku lagi PMS, ni gado-gado bisa melayang (ke saluran pencernaan maksudnya).

Pulang ke rumah dijemput anak minyak yang ganteng, “ribet banget sih praktikumnya anak farmasi, untung gw anak minyak”. Ugh! Kali ini ga ada gado-gado yang bisa melayang (emang udah nyampe usus halus sih), masalahnya sebel-sebel gini aku masih tetep suka sama dia.

Entah kenapa hari itu seolah-olah semua orang bilang beruntung banget bahwa ia BUKAN anak farmasi, dan nampaknya segala sesuatu yang berhubungan dengan FARMASI adalah sesuatu yang MENGENASKAN. Termasuk hari itu, sehari menjelang ujian “ANTI-INFEKSI”, gadis farmasi semanis aku malah terkena INFEKSI. Sungguh mengenaskan bukan?

Tapi ternyata benar, ada saja skenario Allah untuk menuntunku mengeja kalimat syukur padaNYA. Tau nggak? Seketika aku sadar bahwa aku anak farmasi, maka ide yang iseng segera terpikir olehku, obat infeksi! Oh YES!!

Karena aku anak farmasi, aku merasa Continue reading