Ketika Kepiting Bertasbih

“Kepiting- Kepiting itu berlari demi cinta!” seru profesor tua.

Dahiku berkerut, ini profesor sok dramatis banget. Aku tak mengerti, hingga mataku benar-benar menangkap data-data penelitian itu. Ya, profesor tua telah mengambil kaki-kaki kepiting untuk dianalisis ekspresi genetiknya. Kaki-kaki gesit ajaib. Guna menjawab pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan pelari tercepat sedunia: mengapa kepiting yang sangat malas tiba-tiba bertransformasi menjadi pelari terhebat?

Makhluk kecil itu berlari, kaki-kaki kecilnya gesit melewati rumput-rumput, pasir, batu, dari hutan hujan menuju lautan, lima kilometer selama lima hari, demi menjemput kekasihnya. Menikah.

Lihatlah betapa energi cinta itu mengaktifkan  empat belas gen dalam sel-sel kaki kepiting itu, untuk memicu mesin produksi energi tanpa oksigen, (kalau kau bertanya pada profesor tua, ia akan menjawab itu namanya’respirasi anaerob’) hingga kaki-kaki gesit itu tak akan lelah, lima hari, menempuh lima kilometer, untuk menemui kekasihnya.

”Kepiting merah tersayang, kau sedang apa? Aku sedang berlari menjemputmu, tunggulah sebentar” serunya sembari berlari.

Maka bolehlah seseorang semakin percaya, profesor tu itu tak berdusta, bahwa cinta itu memang energi. Yang bisa membuatmu berlari lebih cepat, dan melompat lebih tinggi. Apapun resikonya. Apapun yang terjadi. Cinta tetaplah energi. Dan kau pasti menerti maksudku, bolehlah seseorang membutuhkan energi, untuk berlari menjemput impian-impian selanjutnya.

***

Mencoba tetap ilmiah meskipun melow..  :D hehehe. Kisah ini fiksiku dari data saintifik beneran. Dari artikel : lazy crabs run for love. The science magazine. April 2010. Okelah. Begini. Sejujurnya aku cuma mau bilang, Aku akan menikah 10 hari lagi kawan, tentu bukan dengan kepiting, tapi anggap saja dia pangeran berkuda dari seberang sana. Hihi. dan ini adalah wedding blog ku  :D

Jatuh Cinta

Haduh.. haduwh.. salah judul nampaknya!, gapapa deh, kali aja ada orang yang lagi jatuh cinta trus nge-googling (ada gitu?) dan mendapat pencerahan di sini (hoho, amiiiinnnn), atau malah protes-protes abis baca tulisan ini, atau yang lagi nyari topik TA atau skripsi mungkin? Atau topik buat PKM? hehehe terserah deh mau apa. Pokoknya aku mau nulis! Hihi..

Entahlah, kadang aku juga bingung dengan tulisan-tulisanku,, sejujurnya pengen curhat tapi pengennya yang ilmiah, haha, dudul..

Ide dan beberapa gagasan dari tulisan ini aku dapat dari buku “Ya Allah, Aku Jatuh Cinta”. Katanya, berdasarkan penelitian, ada sebuah senyawa yang diinisiasi dalam tubuh manusia saat seseorang itu jatuh cinta. senyawa ini bisa menjadi salah satu faktor dalam keharmonisan rumah tangga dan kebahagiaan hidup. salah satu senyawanya adalah phenilethylamine. senyawa yang lain adalah “hormon-hormon kebahagiaan” yang bertanggung jawab atas segala kejungkirbalikan manusia ketika falling in love yaitu :

  • Pheromones      : bikin naksir seseorang, bikin ngelamunn.. dan membayangkan dia terus
  • Oxytocin              : bikin kangennn, pengen liat orangnya bentar ajah—liat doang beberapa detik
  • Vasopressin       : bikin setia, “you know you are the only one..
  • Norepinephrine       : bikin semangat, hepi, ceria, bahagia, pengen senyum terus, jadi makin cantik

Oke, kembali ke phenilethylamine—berdasarkan sebuah penelitian juga, ternyata hormon ini hanya bertahan efektif 2-3 tahun sejak jatuh cinta. Padahal berkat hormone inilah seorang manusia bisa kesengsem, deg-degan, bahagia,  dan beberapa gejala lain yang menimpa seseorang yang falling in love.

Boleh saja tidak percaya tentang faktor hormonal dalam cinta namun ada hipotesa yang berpendapat bahwa keadaan “emosian” (emosi yang berlebihan) misalnya pada seorang wanita menstruasi seringkali disebabkan oleh faktor hormonal, maka keadaan emosional seperti  keaadan jatuh cinta—berikut gejala-gejalanya pun bisa jadi disebabkan oleh hormon tertentu. Artinya kalau hipotesa ini benar, maka cinta itu bukan sesuatu yang abadi! Oh Noooooo!!!!! *teriak histerisss

Continue reading