Pengamen Silakan Ambil

Selalu saja ada cara untuk meramaikan Ramadhan, misalnya dengan bersedekah. Para shahabat Rasulullah saw dulu adalah orang-orang yang selalu terdepan dalam bersedekah, mulai dari unta-unta hingga kebun-kebun, dengan ikhlas mereka sedekahkan. Di mesjid  Salman pun juga, infaq jamaah tarawih per harinya mencapai 2-3 jutaan. Semua orang nampaknya memang mengharap berkah ramadhan ini dengan semakin banyak bersedekah. Begitu pula di rumahku di Ngawi, tokoh teladan bersahaja itu adalah ayahku.

Ayah tak punya unta atau kebun kurma, tapi lihatlah apa yang ayah perbuat di depan pintu rumah kami :

Jumlah pengamen di depan rumahku biasanya hanya 1-2 per hari, tapi melonjak hingga 4-6 pengamen bahkan lebih perhari di bulan Ramadhan. Belum lagi ibu-ibu peminta sumbangan seikhlasnya untuk suatu yayasan tertentu, dalam seminggu pasti ada entah satu dua.

Dan ayahku selalu bilang bahwa “Rasulullah itu kalo diminta ga pernah menolak untuk tidak memberi”, kata-kata itu yang membuatku menyesal dan merasa bersalah ketika lupa menyediakan uang receh untuk pengamen lampu merah di Bandung. Sering kalau aku pergi naik kereta, Ayah dan Ibu memberiku 2 jenis uang saku: satu buat aku, satunya sekantong receh buat pengamen. Bahkan dulu awal-awal di Bandung aku merasa bingung, kenapa orang-orang seolah sangat menolak para peminta-minta (tanpa penyelesaian solutif) dengan memasang “Ngamen gratis” atau “Hari ini Ngamen Gratis” di depan toko-toko tertentu, kontras sekali dengan ayah.

Aku ga tau sih segala konspirasi atau apalah di balik pengamen pengemis itu, tapi ayahku selalu mengajarkan “mosok duit 100-500 aja kok eman? iso ugo wong wi rung maem, opo ra mesakne..?” (masak sih duit 100-500 aja sayang? bisa jadi orang itu emang belum makan, apa ga kasian?. Toh kita dapat pahala karena berniat sedekah, Allah yang membalas kita dan yang membalas mereka kalau mereka menyalah-gunakan. Kita berniat membayar pajak, Allah membalas niat kita, lalu apakah kita berdosa kalau ternyata uang pajak dikorupsi? Wallahualam, Allah juga Maha Adil kok, tenang saja.

Nah, akibat perbuatan ayahku itu. Tiap hari adaaa saja hal yang membuat kami sekeluarga terpingkal-pingkal. Bahkan dulu gara-gara itu aku dan adikku punya hobi baru, menanti-nanti dan mengintip pengamen dari dalam rumah, demi melihat reaksinya!

1. Ada pengamen yang ga nyadar kalo ada tulisan itu, jadinya Ayah harus teriak-teriak dari dalam rumah “niku teng cagak mas..” (itu di tiang mas..), mas-mas pengamen menggenjreng gitarnya terlalu kencang kan, jadi suara ayah ga jelas, eh si masnya malah kabur dikira tadi ayah teriak marah-marah. Dikejarlah ia  oleh ayah, melongo, oalah.. akhirnya ia tau ayah ngomong apa, ia lalu kembali ,nyengir-nyengirlah ia mengambil koin 500an di kaleng itu “matursuwun pak..” ucapnya sumringah.

2. Ada pengamen yang tau diri, cuma ngambil 1 koin Rp. 500, lalu menyisakan 2 koin 500an ke pengamen berikutnya. tapi ada juga yang langsung mengambil tiga-tiganya sekaligus! ludes deh isi kaleng.

3. Ada yang sudah hafal dengan kaleng itu, jadi datang-datang langsung ngambil koin, tanpa memetik gitar menyanyikan lagu satupun! *gubrak! aku dan adikku mengintipnya dari dalam rumah cekikikan.. ni pengamen PD banget!

4. Ada yang nyanyi sambil menahan tawa (jadinya kedengeran lagunya kacau!) gara-gara sambil nyanyi dia gintip tulisan pengumuman itu, mungkin menurutnya ini pengumuman langka. Selesai nyanyi langsung ambil lah dia, sambil bilang makasih dan tersipu-sipu sepanjang jalan!

5. Ada mas-mas pengamen yang rame-rame, satunya petik gitar, satunya nyanyi, satunya tepuk-tepuk tangan. Melirik kaleng berisi koin melimpah itu, akhirnya mereka nawarin kami untuk request lagu apa aja (mungkin saking senangnya mereka ngamen di depan rumah kami), lantas mereka merasa layak mengangkut semua koin dalam kaleng, hehe. win-win solution.

Begitulah cerita ayahku bersedekah dengan cara sederhana. Ini cerita ayahku, mana ceritamu? *kayak iklan indomi aja

Pagi yang Teduh di Narita

Tokyo, 9 Agustus2010, 8.59 am

Tebak aku lagi dimana? Narita Airport!!! Whoa! Sejam lagi aku terbang meninggalkan Jepang.. T_T” .berjuta rasanya, sungguh. Sedih. Senang. Campur aduk. Sedihnya karena mulai hari ini aku tak lagi bisa maen2 dan bersenang-senang di salahsatu the most awesome part on earth called Japan. Senangnya adalah, sebentar lagi bulan Ramadhan dan kalo aku pulang ke Indonesia, (well, especially Bandung) ga akan berpanas2 puasa di puuaanassnya musim panas Jepang yang menguapkan seluruh keringat.

Ini adalah postingan paling spektakuler nampaknya, di Narita gitu looh,, biasanya aku kan ngetik postingan di rumah, di atas meja, lha ini? Di Narita Tokyo! Haha depanku jendela berpemandangan pesawat2 berlalulalang, nampak Oke dan gaya betul postingan ini!

Anyway! Barusan aku deg2an parah!

Tahukah kau kawan..? kemaren, tepat sehari sebelum aku terbang, alien card ku ilaaaang! Dan sekarang aku kena batunya. Jadi kawan, kalo kamu pergi ke jepang dan dapet semacam KTP gitulah, jangan pernah dihilangin.Kalo dihilangin ntar bisa diceramahin kayak aku barusan, hehehe.

Alhamdulillah selamet, cuma disuruh menandatangani surat keterangan ngilangin kartu itu. Nah aku tulis reason-nya apa coba?

“I lost it in a way between school and home”, hehe, kayaknya sih petugasnya percaya2 aja, melihat gadis bermuka polos dan berkerudung pink, pake tas ransel pink bunga2, trus tas slempang hello kitty gede (karena saking gedenya, banyak orang yang nengok ke aku dan bilang kawaii.. *tasnya), dan tas jinjing berisi boneka kucing yang kepalanya nongol dari dalam tas, :D diam2 aku bersyukur bawa boneka banyak itu kadang menguntungkan.

Jadinya Continue reading