10 alasan kenapa kalau gagal aku harus bangkit lagi

Akhir-akhir ini aku sedang tertimpa kegagalan, kawan. Tapi kalo aku ceritakan ntar aku makin sedih. Dan juga karena sejak awal blog ini diciptakan untuk bergembira ria syalala, jadi aku ga akan menangis bombai di sini. Duh tapi kok atmosfernya udah sedih gini. Oke, lupakan! kata penyiar radio pagi-pagi, orang yang sukses adalah orang yang senantiasa bertambah ilmu dan ketawadhuan-nya. Sekarang, inilah 10 alasan kenapa kalo gagal aku harus bangkit lagi, yang sejujurnya aku mencari-cari alasan-alasan itu sambil menulis kalimat ini:

1. Karena saat ini tak akan datang dua kali. Kesempatan ini belum tentu aku dapatkan esok-esok hari, dan aku ga mau hal menyesal di kemudian hari lantas bilang “wah, coba  gue kembali ke masa lalu, pasti gue akan bersungguh-sungguh” (ceritanya di masa depan mesin waktunya doraemon belum ditemuin dan kosa kata aku menjadi lebih modern menjadi gue, haha).

2. Aku malu sama adikku, si bandel dan usil itu, ternyata sekarang dia punya kerja sambilan di sela-sela kuliahnya. Kesimpulannya cuma satu : Adikku bekerja keras untuk hidupnya! tapi aku malah berlama-lama meratapi kegagalan yang tak kunjung mentransformasi energi malas menjadi energi kinetik bernama kerja keras. Kakak macam apa aku ini ha?

3. Aku Continue reading

Advertisements

Karena Melakukan Hal yang Kita Sukai itu Menyenangkan

Tokyo kala itu, tengah malam, kereta terakhir jurusan Shibuya. Di sampingku adalah abang-abang PhD yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan tempat tinggalku. Sama saja, kau tak akan bisa membedakan abang-abang Jepang itu apakah mereka sedang mengantuk atau sedang seratus persen terjaga, karena mata mereka tak seperti mataku, mata gadis jawa yang tampak sekali jika telah mencapai 5 watt. Menyipit-nyipit dan berkedip lambat. Ngantuk.

Kami habis dari Lab, ngapain coba? Latihan presentasi, aku presenternya dan mereka layaknya dosen penguji, bertanya pertanyaan-pertanyaan ga penting tapi susahnya amit-amit. Dan entah darimana mulainya, diskusi dengan mereka tiba-tiba bisa menjadi topik yang sangat menarik, hingga kalau saja tak ada kereta terakhir yang harus kami kejar untuk pulang, maka diskusi itu mungkin akan berlanjut hingga esok-esoknya. Serius, kalau ada lomba diskusi hari itu, pasti mereka juaranya (aku jurinya yang terkantuk-kantuk).

“Kau nampak lelah sekali Fa”, dia bilang.

Aku mengangguk dan pura-pura bangun dari kantuk yang menjalar ke seluruh neuron.

“Apakah kau pulang dari lab jam segini tiap hari?”, tanyaku Continue reading