Terima Raport

“Hari ini aku terima raport!”

Haha, SD banget. Teringat masa kecilku dulu, pas akhir caturwulan, aku di rumah pasti menunggu ayahku datang dari sekolah, menceritakan rangkingku di kelas, menceritakan apa kata ibu guru wali kelas, deg degan.. kata ayahku “dag dig dug deg deg dog dog..”. Ayahku selalu benar, dan lebay.

Menghitung detik demi detik, jam demi jam, demi wajah cerah ayah yang artinya aku rangking satu. Dan cerita panjang ayah, tentang temanku yang ditinggal ibunya bekerja keluar negeri dan rapotnya diambilkan oleh kakeknya yang telah renta, cerita dan cerita. Cerita ayahku selalu menarik, dan lebay.

Aku punya adik baru, cantik dan imut,namanya Aprilia, dia sungguh gadis yang cerdas, tak pernah tak rangking satu, sangat rajin belajar, masalahnya cuma satu : aku jatuh cinta pada kakak laki-lakinya! Yang menggendongnya berangkat mengaji ke masjid, membelikan es krim, mengajak jalan-jalan, dan semua hal yang membuatnya ceria sepanjang hari. Sejak ia tahu bahwa aku menyukai kakak tersayangnya, ia tak berani bicara padaku. Maka setiap hari, aku mendengarnya berceloteh riang di telepon. Mendengar celotehnya saja sungguh menyenangkan. Baik sedang senang atau sebel, ia selalu menyenangkan. Suatu hari, ia bercerita bahwa ia sebel, acara terima raport di kelasnya ditunda! Sungguh menyebalkan bagi gadis mungil yang pintar jika perayaan rangking-satu-nya ditunda, itu artinya hadiah dari ayah dan bunda juga ditunda. Dia berceloteh menggerutu dan mengomel pada kakaknya. Ah.. lucunya, aku menahan tawa.

Nampaknya aku juga rada-rada sebel masalah raport. Bukan, sama sekali bukan karena Continue reading

Advertisements

Efek Ujian Farmakologi terhadap Mahasiswi Farmasi

Sumpah, ini adalah kejadian yang sangat bersejarah dalam sejarah kemahasiswifarmasianku. Haha. Ya masak? Wong mau ujian farmakologi obat infeksi eh malah kena infeksi! Ugh.. it doesn’t mean “learning by DOING” thing, but it is H-U-R-T! I got it on my eyes, you know, my pretty eyes (halah). But by this infection I realize something I didn’t before.

“Jumatku dulu, tak begini..” begitulah nyanyian teman sekelompokku, sebut saja Bunga, bernyanyi ketika praktikum mulai menjenuhkan. Makan di bengkok pun menjadi pelampiasan, enak nggak enak, yang penting berjeda dulu dari paparan pelarut organic, fiuuhh apalagi kalau bukan fitokim, mana besok ujian farmakologi pula -_-“. Sedang enak-enaknya makan gado-gado, eh bertemu dengan teman yang lain, sebut saja Melati, “Ha? Hari gini masih praktikum? males banget, Hahah, untung gw bukan anak farmasi” dan lihatlah kawan, dia tertawa dengan sangat puas. Ow My GOD.. sungguh jahatnya, serius kalo aku lagi PMS, ni gado-gado bisa melayang (ke saluran pencernaan maksudnya).

Pulang ke rumah dijemput anak minyak yang ganteng, “ribet banget sih praktikumnya anak farmasi, untung gw anak minyak”. Ugh! Kali ini ga ada gado-gado yang bisa melayang (emang udah nyampe usus halus sih), masalahnya sebel-sebel gini aku masih tetep suka sama dia.

Entah kenapa hari itu seolah-olah semua orang bilang beruntung banget bahwa ia BUKAN anak farmasi, dan nampaknya segala sesuatu yang berhubungan dengan FARMASI adalah sesuatu yang MENGENASKAN. Termasuk hari itu, sehari menjelang ujian “ANTI-INFEKSI”, gadis farmasi semanis aku malah terkena INFEKSI. Sungguh mengenaskan bukan?

Tapi ternyata benar, ada saja skenario Allah untuk menuntunku mengeja kalimat syukur padaNYA. Tau nggak? Seketika aku sadar bahwa aku anak farmasi, maka ide yang iseng segera terpikir olehku, obat infeksi! Oh YES!!

Karena aku anak farmasi, aku merasa Continue reading